Biografi: Louise Michel

Louise_Michel2_colorized_photo

Louise Michel (Ejaan bahasa Prancis: [lwiz miʃɛl]; 1830–1905) adalah seorang Anarkis dari Prancis, guru sekolah, pekerja medis, dan figur penting dalam Komune Paris. Ia sering menggunakan nama samaran Clémence dan juga dikenal sebagai Perawan merah dari Montmartre. Jurnalis Brian Doherty menyebutnya “Grande dame Prancis anarki,” Sejarawan Yale John Merriman mengatakan: “Ia mendorong kemunculan hak-hak perempuan, menyatakan bahwa seseorang tidak dapat memisahkan ‘kasta perempuan dari kemanusiaan”.

Continue reading “Biografi: Louise Michel”

Advertisements

Tesis Mengenai Komune Paris

GUY DEBORD, ATTILA KOTÁNYI & RAOUL VANEIGEM

18 MARET 1962

Diterjemahkan dari bahasa Prancis ke Inggris oleh Ken Knabb

Diterjemahkan dari Inggris ke Indonesia oleh Illmanuscript

image

1

“Gerakan pekerja klasik harus diperiksa ulang dengan tanpa ilusi apapun, khususnya tanpa satupun ilusi dari berbagai macam pewaris politis dan teoritis semu nya, sebab semua yang mereka warisi adalah kegagalannya. Kesuksesan semu dari gerakan ini sebenarnya adalah kegagalan fundamentalnya (reformisme atau pembentukan birokrasi negara), sementara kegagalannya (Komune Paris atau pemberontakan Asturian tahun 1934) merupakan kesuksesannya yang paling menjanjikan sejauh ini, bagi kita dan bagi masa depan.” (Internationale Situationniste #7 [The Bad Days Will End])

Continue reading “Tesis Mengenai Komune Paris”

Penggunaan Waktu Luang

image

Catatan Editorial, Internationale Situationniste #4 (June 1960)

Perkataan basi yang paling cetek dan yang terus-menerus diulang-ulangi oleh sosiolog kiri beberapa tahun belakangan, yakni waktu luang telah menjadi faktor utama didalam masyarakat kapitalis tahap lanjut. Perkataan ini merupakan basis dari berbagai debat-debat tentang mendukung ataupun melawan pentingnya kebangkitan reformis dari standar kehidupan, atau dari partisipasi pekerja dalam nilai-nilai yang berlaku di masyarakat yang kedalamnya mereka semakin terintegrasi. Continue reading “Penggunaan Waktu Luang”

Tesis Situasionis Tentang Lalu Lintas

GUY DEBORD

 

Internationale Situationniste #3 (November 1959)

Diterjemahkan ke inggris oleh Ken Knabb

Diterjemahkan suka-suka ke Indonesia oleh Solitary Flaneur

1

KESALAHAN YANG DILAKUKAN oleh semua perencana kota adalah secara esensial memahami kendaraan pribadi (dan hasil tambahannya, seperti motor) sebagai sarana transportasi. Dalam kenyataan, itu adalah simbol materil terpenting dari gagasan mengenai kebahagiaan yang cenderung disebarkan oleh kapitalisme tahap lanjut ke seluruh masyarakat. Kendaraan berada di tengah propaganda umum ini, baik sebagai barang terpenting dari ‘hidup yang teralienasi’ maupun sebagai produk inti dari pasar kapitalis: Sudah umum diketahui di tahun ini bahwa kemakmuran ekonomi Amerika dekat-dekat ini akan bergantung pada kesuksesan slogan “Dua mobil per keluarga.”

Continue reading “Tesis Situasionis Tentang Lalu Lintas”

Ditujukan Kepada Semua Pekerja

KOMITE ENRAGÉ-SITUATIONIST INTERNATIONAL
DEWAN UNTUK MEMPERTAHANKAN PENDUDUKAN
30 Mei 1968

Kamerad,

Kabar mengenai apa yang kita telah lakukan di Prancis telah menghantui Eropa dan sebentar lagi akan mengancam semua kelas berkuasa di dunia, mulai dari para birokrat Moskow dan Peking sampai miliarder Washington dan Tokyo. Sama seperti kita yang telah membuat Prancis berdansa, proletariat internasional akan sekali lagi menyerang kapital semua negara dan semua benteng alienasi. Pendudukan atas pabrik-pabrik dan bangunan publik diseluruh negara tidak hanya menghentikan fungsi dari ekonomi, tapi juga telah membuat orang-orang mempertanyakan masyarakat. Pergerakan mendalam mengarahkan hampir setiap sektor populasi untuk mencari transformasi nyata atas kehidupan. Ini adalah awal dari pergerakan revolusioner, pergerakan yang tidak kekurangan apapun selain kesadaran tentang apa yang telah dihasilkannya dalam rangka mencapai kemenangan. Continue reading “Ditujukan Kepada Semua Pekerja”

Tentang Kemiskinan Toko Buku

Internationale Situationniste #11 (Oktober 1967)
Translated by Reuben Keehan, ke Indonesia oleh (Neuro)Siska(tastrophe!)

KITA TELAH DIPAKSA untuk menarik publikasi kita di toko buku “La Vielle Taupe.” Pemiliknya¹ memiliki terlalu banyak tuntutan revolusioner untuk dianggap sebagai orang yang netral — dengan mempertimbangkan tulisan-tulisan yang terpajang di toko tersebut; tapi terlalu sedikit ketegasan dalam aktivitasnya untuk dianggap sebagai orang yang revolusioner (membiarkan kehadiran berkepanjangan dan percakapan sinting, termasuk kaum Maois).

Yang lebih serius: kami dengan formal membantah bahwa penjual buku dan editor, Georges Nataf (26 rue des Boulangers, Paris 5e) pernah diakui oleh para situasionis untuk menghadirkan dirinya sendiri sebagai orang yang bertanggungjawab atau pantas untuk pemublikasian atau menerbitkan kembali jurnal Internationale Situationniste, atau tulisan SI lainnya. Penipuan ini (yang motivasinya kami bayangkan lebih bersifat emosional ketimbang ekonomis) kami bantah dengan tajam pada Juni dengan cara mengintervensi secara langsung yang tidak dapat diacuhkan oleh siapapun yang mengetahui dirinya (Georges Nataf).

Catatan:
1. Pierre Guillaume (b.1941), bekas anggota Socialisme ou Barbarie, yang baru-baru ini merupakan negasionis  (atau revisionis holocaust) terkemuka dan penulis dari pemikiran yang entah dengan cara apa dapat dipertanyakan oleh Guy Debord (La Vielle Taupe 1, Spring 1995).

MOMEN-MOMEN KEMUNGKINAN // GENEALOGI PERLAWANAN

Aksi adalah perjuangan untuk membentuk dunia, untuk menciptakannya…. Melakukan aksi adalah sekaligus merupakan bentuk pengetahuan dan pemberontakan… aksi adalah pencarian atas dan pembangunan dari yang umum, yang maksudnya adalah afirmasi atas imanensi abslout.

– Antonio Negri

 

Momen-momen kemungkinan terjadinya perpecahan – Yves Fremion menyebutnya “orgasme sejarah.” Dari pembangkangan budak Yunani sampai penambang San Fransisco, dari Brethren of the Free Spirit sampai Provos Belanda, ledakan sosial ini membebaskan kekuatan imajinasi kolektif dengan cara yang hampir tidak pernah diapresiasi oleh sejarah konvensional. Muncul dengan tanpa pemimpin atau petunjuk dari struktur institusional, mereka membuka jendela menuju kemungkinan dimana segalanya dapat dirubah sekaligus dan dunia dibuat sama sekali baru. Dalam momen-momen ini, pembatas yang memisahkan orang-orang kini terbuka menuju periode yang diperbarui dari kreativitas sosial dan insurgensi. Pekerja berbicara dan mengorganisir dengan mahasiswa, seniman berkolaborasi dengan pengorganisir perumahan, batasan mendasar diantara kategori-kategori ini meluntur seiring antagonisme singular berkombinasi dan dikombinasi ulang. Dimana sebelumnya terdapat perjuangan yang banyak namun terpisah, perjuangan yang sama ini kini digandakan, ditransformasikan, difusikan, dan ditingkatkan secara eksponen dalam kehadirannya dan potensinya. Ini tidak untuk mengatakan bahwa mereka terhomogenisasi atau dikombinasikan menjadi satu hal, tapi lebih kepada situasi dimana komplementaritas dan afinitas berjalin berkelindan, strategi baru yang bergerak dengan langkah yang bersifat ritmik melalui serat-serat/ fabric sosial.

Bentuk-bentuk baru ini mengungkapkan sedikit bentuk dunia masa depan, mengungkapkan kemungkinan untuk membebaskan apa yang ada di hari ini. Kita dapat menelusuri koneksi diantara mereka, sebuah genealogi perlawanan yang menggambarkan secara bersamaan sejarah tersembunyi dan petunjuk arah menuju masa depan.  Tiap-tiap bentuk mengandung kesulitan dan komplikasi, tempat dimana orang harus menggandakan kepercayaannya dan mengambil resiko untuk menjalani sesuatu yang tidak mungkin. Adalah dari momen-momen inilah, dari ruang kreasi inilah, kita dapat belajar dengan sangat baik. Dari College of Sociology yang merubah festival dan acara sakral menjadi perlawanan sampai budaya DIY punk yang menciptakan relasi sosial dan bentuk produksi yang baru, momen-momen ini tidak hanya mengandung praktik untuk diadaptasi dan dilancarkan ulang secara kreatif, tapi juga dalam dirinya sendiri adalah cara memahami dunia dan bentuk penelitian dalam aksi.

Untuk memperlakukan praktik sebagai bentuk mengetahui, dan pengetahuan sebagai bentuk praktik/ melakukan, berarti menolak ide bahwa teori dan praktik dapat benar-benar dipisahkan: Keduanya selalu berinterkoneksi dan berjalin berkelindan satu sama lain.

Seringkali, pemahaman yang terkandung didalam pengorganisiran tidak diapresiasi atas bentuk pengetahuan yang dikandungnya; sama halnya teoritisasi seringkali dipisahkan dari lokasi dimana ia diproduksi dan disirkulasikan (yakni dalam praktik). Dalam momen-momen penuh kemungkinan ini, pembukaan dalam aliran sejarah ini, dimana batasan dan penjarakan telah hancur, terbentuk sebuah archipelago kemungkinan dan pemahaman yang merupakan tugas kita untuk memperluasnya dari hari ini menuju hari esok.

 

Tulisan ini merupakan transkrip dari buku Constituent Imagination (yang diedit oleh Antonio Negri, Michael Hardt, David Graeber, dll)

‘Aku ingin kamerad, bukan massa’

Oleh Andreas Tsavdaridis, Spyro 2013 

 

Aku kenal orang… orang yang pendiam dan cerewet, penakut dan pemberani, rendah hati dan arogan…

Orang, yang hidup penuh kepatuhan seperti domba, dan yang lainnya, yang setia mengintai seperti Hiena. Aku tahu orang yang bermimpi tanpa fantasi, dan yang lainnya, yang hidup tanpa bermimpi..

Orang, yang matanya digunakan untuk terus melihat kebawah dan telinganyadigunakan untuk mendengar perintah “bangun”, “Kerja”, “bayar”, “beli”, “percayai”, “patuhi”… Continue reading “‘Aku ingin kamerad, bukan massa’”