Scratch!?>!<

jika seseorang menyatakan bahwa dirinya ditindas karena kulit hitamnya, maka “kekulit-hitaman” itu sendiri tak lagi memiliki makna selain sebagai kategori politis tentang diri sebagai korban; dengan kata lain, kulit hitam jadi dimaknai hanya sebagai tanda ketertindasan dan tidak lagi sebagai identitas partikular yang unik.

Badiou, memperingati para multikulturalis yang terlalu menekankan perbedaan

 

“Dalam membaca buku, apa yang secara langsung (immediate) saya persepsikan adalah tulisannya, tapi secara mediasi (mediate), atau dengan cara ini,  tersugesti dalam pikiran saya gagasan tentang Tuhan, kebajikan, kebenaran [atau apapun yang dikatakan buku tersebut].”

“mediate” perception = perception through (by means of) something else, not direct perception.

“immediate” perception = perception which is not mediate; direct perception.

Berkeley

Strukturalisme merupakan pergerakan intelektual di Prancis pada tahun 1950an dan 1960an yang mempelajari struktur dasar dalam produk kultural (seperti teks) dan menggunakan konsep analitik dari linguistik, psikologi, antropologi, dan bidang lainnya untuk menginterpretasikan struktur tersebut. Strukturalisme menekankan sifat logis dan saintifik dari hasilnya.

Poststrukturalisme menawarkan cara dalam mempelajari bagaimana pengetahuan diproduksi dan mengkritik premis-premis strukturalis. Poststrukturalisme berpendapat bahwa karena kondisi sejarah dan budaya, studi tentang struktur dasar tunduk pada bias dan misinterpretasi. Pendekatan post-strukturalis berpendapat bahwa untuk memahami objek (misalnya, sebuah teks), adalah perlu untuk mempelajari objek itu sendiri dan juga sistem pengetahuan yang memproduksi objek.

Aku sudah tahu takdirku sendiri. Suatu hari namaku akan dikaitkan dengan kenangan akan sesuatu yang mahadahsyat – krisis yang tiada duanya di muka bumi, bentrokan nurani yang paling hebat, keputusan yang diambil melawan segala sesuatu yang selama ini diyakini, dituntut, dan disucikan. Aku bukan manusia, aku dinamit!

Nietzsche, [1888] 1969: 326

Teori utama yang terkait dengan strukturalisme adalah oposisi biner. Teori ini mengemukakan bahwa terdapat oposisi teoritis dan konseptual tertentu,seringkali disusun secara hirarkis, yang mana logika manusia telah diberikan kepada teks. Pasangan biner seperti itu bisa termasuk pencerahan/ romantis, laki-laki/perempuan, bicara/menulis, rasional/emosional, penanda/petanda, simbolik/imajiner.
Post-strukturalisme menolak gagasan tentang kualitas esensial dari relasi dominan dalam hirarki, lebih memiliki mengekspos relasi-relasi ini dan ketergantungan terhadap istilah dominan pada yang nampaknya merupakan pasangan patuhnya.
Cara satu-satunya untuk secara sesuai memahami makna-makna ini adalah dengan mendekonstruksi asumsi-asumsi dan sistem pengetahuan yang memproduksi multiplisitas, ilusi daari makna singular.

Dudukmako pale di sofa yang lembut yang nasediakan analiska, baru coba mko pikirkan sesuatu yang berbeda. Analis ka punya banyak waktu dan kesabaran; tapi setiap menit kau hambatki berarti ada lagi na dapat uang… . . biar ko disitu merengek, melolong, memohon, menangis, membujuk, berdoa atau mengutuk – nadengar jako itu. Dia itu cuma telinga yang besar tapi nda punya sistem saraf simpatik. Dia tidak mempan sama semuanya tapi tidak sama kenyataan. Kalo ko pikir ko membayar untuk bodoh-bodohi ki, bodoh-bodohi mi pade. Siapa memangnya yang jadi orang tolo disini? Kalo ko pikir dia bisa tolongko, bukannya dirimu sendiri, tongkrongi ki terus saja pade sampemu membusukkk.

Henry Miller in Sexus, Serangan terhadap Psychoanalist!
Berfilsafat bukan soal mencari apa yang transenden di balik seluruh realitas, melainkan suatu upaya untuk mengkonseptualisasikan realitas secara imanen, sehingga memungkinkan orang untuk memahami apa yang terjadi di dalam dunia, seperti di dalam politik, kebudayaan, dan di dalam gerakan-gerakan sosial.
Gillez Deleuze
Didalam masyarakat massa, kita setuju terhadap semua bentuk hubungan yang koersif. Bekerja demi gaji, melamar, menjadi pelanggan dan karenanya menjadi pengeksploitasi pekerja… Tentu adalah sulit untuk mencari banyak hubungan yang tidak didasarkan atas derajat tertentu dari koersi atau eksploitasi. Mengizinkan hubungan yang koersif sama sekali tidak mengindikasikan bahwa kita menginginkannya. Sejak tahun 1970an (paling tidak!) feminisme radikal telah menelusuri perbedaan yang sangat besar antara izin dan hasrat/ keinginan, khususnya dalam bidang cinta dan seks. Banyak perempuan yang menyetujui/ memberi izin kepada seks untuk menghindari pemerkosaan, sebagai contoh. Izin, berakar dari bahasa hukum/aturan dan hak barang-barang/properti. Inilah kenapa izin berguna bagi masyarakat massa tapi tidak berguna untuk menciptakan seseorang yang radikal. Ini tentu saja bukanlah tempat yang radikal untuk memahami dunia yang didasarkan atas hasrat, dan yang pastinya, hubungan seksual kita adalah salah satu tempat aneh lainnya untuk menempatkan hasrat dan bukan izin.
Kita butuh marxisme untuk memahami struktur masyarakat dan anarkisme untuk mencapai bentuk awal  atau mencapai masyarakat baru
Staughton Lynd
SI mengatakan bahwa ide-ide mereka tentang dunia yang berbeda, ada di pikiran semua orang sebagai hasrat, tapi bukan sebagai ide. Proyek mereka adalah untuk mengekspos kekosongan dari hidup keseharian di dunia modern dan untuk membuat hubungan antara hasrat dan ide menjadi nyata. Mereka bermaksud untuk membuat hubungan tersebut menjadi sangat nyata sehingga dapat disikapi oleh hampir semua orang, sebab di dunia modern, perpisahan antara hasrat dan ide adalah bagian dari hidup hampir semua orang.
Dengan mengutamakan imajinasi untuk direalisasikan dalam perilaku sehari-hari, jelas berbeda dengan merealisasikan fantasi. Memisahkan imajinasi dan fantasi dan membuat garis pembatas yang jelas antara keduanya membuat kita paham mengapa kau abnormal. Namun, apa standar kenormalan hari ini? Apakah itu ketika kita patuh terhadap sistem dan budaya massa yang terlalu picik ini? Apakah ketika kau berperilaku laiknya seorang feodal? Melampaui persoalan ini, bagaimanapun bahasa masih harus berfungsi sebagaimana kegunaannya. Konsistensi untuk terus mengaitkan petanda dan yang ditandai merupakan aspek penting bagi kita untuk menamai dunia dan membuka jalan bagi kebebasan yang tidak sepi. Ya, sepi itu menyedihkan, paling tidak untuk beberapa saat setelah kau merasa bahwa ada sesuatu yang harus dibahasakan, ditransmisikan kepada subjek lainnya.

otonomi dari seni sejak awal telah memiliki karakter yang sangat ambivalen. Karya-karya tertentu mungkin telah mengkritik aspek negatif dari masyarakat, tapi mengharapkan harmoni sosial sebagai harmoni fisika, yang merupakan bagian dari kenikmatan estetis bagi individu, beresiko untuk merosot menjadi sekedar kompensasi serebral bagi kekurangan masyarakat, dan dengan demikian merupakan afirmasi yang tepat atas apa yang dikritik oleh konten karya tersebut. Marcuse menegaskan bahwa karya yang paling radikal sekalipun pasti menunjukkan kesatuan dialektis dari afirmasi dan negasi  berdasarkan atas pemisahan terlembaganya dari praxis sosial.

The Affirmative Character of Culture (1937), Herbert Marcuse

Berger menjelaskan tiga perubahan kualitatif yang membuatnya dapat merekonstruksi tiga fase sejarah seni didalam masyarakat borjuis.

Transisi historis yang membentuk fase pertama seni borjuis ditentukan oleh semakin longgarnya, dan pada akhirnya dipisahkannya, ketergantungan seniman kepada patron dan digantikan dengan ketergantungan anonim, struktural kepada pasar beserta prinsip maksimalisasi keuntungannya.

Pergeseran ini memberi sumbangsih atas tergantikannya budaya perwakilan-sopan  oleh budaya borjuis dalam abad ke-delapan belas. Setelah periode yang relatif cepat dari euforia optimistik pada awal pencerahan, dimana penulis-penulis mengadvokasikan rencana terpusat dalam usaha untuk merencanakan masa depan dan untuk menekan apa yang marjinal secara spasial dan temporal, budaya ‘tinggi’ borjuis menjadi ditentukan oleh gestur internal dari protes melawan dan untuk memisahkan diri dari perdagangan ekonomi.

Paling tidak, secara ideologis, jenius seni mengisolasi dirinya dari massa dan dari pasar, seni mengisolasi dirinya sendiri dari masyarakat dalam fase ini. Bagaimanapun, pada awalnya otonomi seni yang berdiri akibat proses ini tidak dipahami sebagai keadaan pemisahan abslout. Sebaliknya, seni yang memahami dirinya bersifat otonom, selama akhir abad 18 dan awal abad 19 terus merefleksikan masyarakat secara kritis.

Dalam fase ini, kritik artistik atas masyarakat dan bahasa belum menyiratkan bahwa adalah mungkin untuk mempengaruhi masyarakat dengan mengkomunikasikan makna. Disini, bagaimanapun, potensi bagi perkembangan konfrontasi absolut antara seni dan masyarakat yang terjadi kemudian akhirnya muncul, diakibatkan oleh status otonom dari seni.

From the preface of Theory of the Avant-Garde, Peter Burger

Jika Daniel Defoe dan William Blake menyediakan dorongan imajinatif atas ide-ide psikogeografi, maka Thomas De Quincey adalah praktisi aktual pertama psikogeografi. Dibawah pengaruh obat-obatan, De Quincey muda mengelilingi kota London, mengharapkan sebuah perjalanan tanpa tujuan dan pesta pora kreatif a la eksperimentasi surealis dan situasionis. De Quincey adalah psikogeografer yang asli, perjalanan obsesifnya memberikannya wawasan baru mengenai kehidupan di kota dan memberikannya akses kepada komunitas tersembunyi dari orang-orang yang termarjinalisasi dan terampas. Bagi De Quincey, kota adalah suatu teka-teki, puzzle yang masih membingungkan para penulis dan pejalan kaki hari ini.

Tentang De Quesnay, tokoh generasi kedua psikogeografi London

aksi mengelilingi kota, dengan spirit radikalisme politik, yang bersekutu dengan subversi penuh rasa ceria dan diatur oleh penyelidikan dengan metode-metode yang dengannya kita dapat mentransformasi hubungan kita dengan lingkungan kota. Seluruh proyek ini kemudian dibuat lebih berwarna dengan pertemuannya dengan hal-hal tersembunyi dan dibuat asik dengan usaha penggalian masa lalu sebagaimana usaha merekam masa kini.

Psikogeografi

Bagaimana metode dialektis Marx diterapkan disini (relasi antara nilai-tukar, nilai-guna, dan nilai)? Akankah kau mengatakan bahwa nilai-tukar menyebabkan nilai? Akankah kau mengatakan bahwa nilai-tukar menyebabkan nilai-guna, atau nilai-guna menyebabkan..? Analisis ini tidaklah kausal. Ini tentang relasi, relasi dialektis. Bisakah kau berbicara tentang nilai-tukar tanpa berbicara tentang nilai-guna? Tidak, kau tidak bisa. Bisakah kau berbicara tentang nilai tanpa berbicara tentang nilai-guna? Tidak. Dengan kata lain, kau tidak bisa berbicara tentang salah satu konsep ini tanpa berbicara tentang konsep yang lainnya. Konsep-konsep ini saling berkodependensi dengan yang lainnya, relasi didalam sebuah totalitas dari beberapa macam

David Harvey, Companion to Marx CapitalVol.1, Hal. 24