Pernyataan oleh Mustapha Khayati

Image result for jual buku tentang kemiskinan hidup mahasiswaJika saya menentang penerbitan ulang Tentang Kemiskinan Hidup Mahasiswa oleh Editions Champ Libre atau penerbit manapun, itu karena Saya percaya bahwa panflet ini, yang memiliki segala nilai-nilai revolusionernya pada tahun 1966, hari ini bagi penerbit teori radikal yang berlisensi hanyalah sebuah nilai komoditas.

Kepada mereka yang tertarik dengan sejarah sia-sia dari parodi-diri kaum revolusioner, Saya sanggup mengkomunikasikan dokumen-dokumen yang membuat seseorang dapat mengikuti intervensi, baik pro ataupun kontra, dari bisnis penghinaan ini, dan mengafirmasi ulang bahwa tulisan ini diciptakan sebagai edisi bajakan dan disebarkan secara gratis, yang masih merupakan milik dari mereka yang telah mengetahui dan akan mengetahui bagaimana menggunakan panflet tersebut sesuai dengan fungsinya, dan tidak akan pernah menjadi milik dari beberapa anjing pembual tukang rekuperasi, ia harus membubuhkan ribuan hak cipta pada tulisan yang — dengan pengakuan mereka sendiri — adalah milik dari Sejarah.

 

MUSTAPHA KHAYATI

(Dipublikasikan di Editions Champ Libre, Correspondance, Volume I, Paris: 1978)

 

(Catatan penerjemah: Baru-baru ini, panflet ini juga diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Oleh kaum radikal, penjual ide-ide radikal, tukang rekuperasi, atau? Ah entahlah. Semoga hanya kurang pertimbangan. Yang jelasnya, keputusan untuk menerbitkan dan menjualnya dalam kemasan yang marketable itu cukup menyedihkan dan payah bagi kami..)

Advertisements

Mustapha Khayati

Mustapha Khayati adalah seorang aktivis, sejarawan dan pemikir politik kontemporer Tunisia.

Ia adalah mantan anggota dari Situasionis Internasional, setelah ia mengundurkan diri pada Konferensi VIII (Venice, 1 Oktober 1969) menyusul keterlibatannya di Jordan dengan “Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina” yang baru terbentuk. Dengan persetujuan Guy Debord, ia menulis panflet yang memprovokasi “skandal Strasbourg” bulan November-Desember 1966, salah satu pemantik pemberontakan Mei 68. Sepuluh tahun kemudian, Khayati memprotes komersialisasi atas tulisannya oleh Editions Champ Libre, yang menurutnya berlawanan dengan tujuan awal penulisannya.

Mendapatkan gelar doktornya di bidang sejarah umat Muslim (Universitas Paris, 1979, tesis tentang sejarah orang Persia di ath-Tha’alibi, diarahkan oleh Claude Cahen) dan gelar doktor dalam ilmu Politik (perwakilan politik dalam budaya Arab klasik, Paris VIII, diarahkan oleh K. Nair), ia mengajar di IEP Aix-en-Provence selama tahun 1980an dan 1990an. Ia melanjutkan penelitiannya mengenai sejarah pemikiran politik, dengan mempelajari otobiografi dari politisi dunia Arab.

 

(Dari Wikipedia)

Apakah Politik Kelas Masih Relevan? Jawabannya Iya dan Tidak

James Bloodworth (menulis untuk The Independent pada tanggal 2 oktober 2012)

Kaum kiri membutuhkan visi baru, namun apapun yang ingin dipercayai oleh Centre for Labour and Social Studies, rakyat pekerja tidak lagi mengidentifikasikan dirinya dengan ide kelas yang lama.

Penjaga pemogokan di luar Salford Colliery di Lancashire sewaktu pemogokan nasional, tanggal 11 Februari 1974. Keystone/Hulton Archive/Getty Images

Continue reading “Apakah Politik Kelas Masih Relevan? Jawabannya Iya dan Tidak”

Pergerakan Pekerja dan Politik Kelas Pekerja di Indonesia

IMG_1834

Oleh Hari Nugroho, Universitas Indonesia

Setelah sekian lama absen dari arena politik, pergerakan pekerja di Indonesia terlihat berada di ambang aktivisme politik yang baru. Di tahun 2014, sejumlah pimpinan serikat terpilih di parlemen pada tingkatan provinsi di pemilihan umum. pencapaian ini bersifat historis, mengingat bahwa tidak pernah terdapat perwakilan murni dari kelas pekerja dalam perlemen nasional maupun lokal di Indonesia selama sekitar 50 tahun. Perdebatan tentang perluasan perjuangan pekerja melampaui tempat kerja menuju area yang lebih luas juga telah mulai bergolak, dengan beberapa pengalaman sosial dan politik selama dekade terakhir. Sekarang kita dapat bertanya: dapatkah pergerakan pekerja mengubah politik kelas di Indonesia?

Liberalisasi ekonomi dan demokratisasi yang berjalan sejak tumbangnya rezim otoritarian pada tahun 1998 melahirkan tantangan-tantangan baru dan corak konflik industrial yang berbeda. Kontrol negara telah digantikan dengan kontrol pasar. Modal yang mobile dan kuat dalam pasar global yang sangat kompetitif menjadi “musuh baru,” suatu ancaman baru bagi perkembangan serikat. Landasan dari serikat baru telah mulai dikikis oleh fleksibilitas pasar tenaga kerja yang eksesif – bahkan sebelum serikat baru tersebut mendapatkan kembali pijakan mereka menyusul runtuhnya negara korporatis Suharto.

Kondisi yang ada hari ini memicu serikat untuk berfokus pada anti-fleksibilitas. Agenda-agenda tradisional melibatkan peningkatan upah, kebebasan berasosiasi, dan melawan penghentian kerja juga merupakan bagian dari kerangka kerja baru ini. Serikat menyerang negara atas peraturannya yang meliberalisasi tenaga kerja dan perusahaan yang menghadapkan mereka kondisi kerja yang tidak menentu (Juliawan, 2011). Karena itu, serikat telah mengkampanyekan sistem keamanan sosial yang lebih efektif yang akan mengkompensasikan ketidakamanan kerja dan kerentanan yang meningkat yang dihadapi pekerja. Pergerakan serikat telah berada di pusat tuntutan untuk mentransformasi sistem kesejahteraan sosial, dengan demikian menciptakan konstituensi yang jauh lebih luas di tengah-tengah hilangnya ribuan anggota serikat.

Bagaimanapun, memperluas konstituensi pergerakan pekerja menghadirkan tantangan baru, khususnya selagi serikat mencoba untuk mendapatkan dukungan sosial dan politik yang lebih luas untuk berurusan dengan tekanan-tekenan pasar yang agresif. Meskipun banyak serikat yang tetap konservatif, sejumlah serikat lokal yang berafiliasi dengan serikat nasional progresif telah mengejar dua strategi. Yang pertama melibatkan menjadi pemimpin khususnya di dalam komunitas kelas pekerja tapi juga membangun hubungan dengan kelompok yang berbeda, termasuk petani dan pedagang kaki lima. Strategi kedua melibatkan mengambil bagian dalam politik elektoral. Tujuannya disini adalah untuk membangun perwakilan dalam parlemen lokal, membuka jalan bagi perwakilan nasional dalam rangka untuk mempengaruhi proses pembuatan peraturan. Berpartisipasi dalam politik elektoral juga dianggap sebagai kendaraan untuk mendirikan basis dukungan yang lebih luas bagi serikat.

corak-corak konflik industrial dan transformasi persatuan buruh pada era pasca-Suharto bisa saja memicu pergerakan kelas pekerja yang tumbuh dan lebih terkonsolidasi, namun peningkatannya tidak pernah meyakinkan (Hadiz, 2001). Contohnya, dua pimpinan serikat progresif di daerah indsutrial Bekasi, sekitar

Hasrat yang Dipersenjatai; A’s dan Impuls kreatif

Wolfi Landstreicher

..kegairahan, kelimpahan, kemurahhatian yang boros, kesegeraan, ketidaksopanan dan permainan adalah kunci untuk menemukan kembali (atau lebih merupakan menciptakan kembali) kreativitas dengan cara yang anarkis. Disini tidak ada tempat bagi penolakan atau penolakan-diri.

Tanpa perlu dikatakan lagi, kreativitas merupakan hal yang mendasar dalam praktik A’s. Namun ketika pengulangan ide-ide dan praktik tua terjadi tanpa berkesudahan, tuntutan akan model-model terus diulangi dan, mungkin yang paling parah, kecenderungan untuk berpaling ke ide-ide marxis dan kiri akademis untuk dijadikan sumber stimulan intelektual merupakan indikasi bahwa imajinasi praktis di dalam lingkaran A’s sudah layu, setidaknya itulah yang terjadi di Amerika, sehingga mungkin sudah waktunya untuk menelusuri persoalan tentang kreativitas dengan lebih dalam. Tentunya penelusuran ini lebih mudah ketimbang menelusuri semua kegagalan-kegagalan anarkis masa kini. Jadi, saya ingin berbagi ide tentang kreativitas, imajinasi, dan hasrat yang selama beberapa tahun telah kugeluti, menelusuri dan bereksperimen dengan cara-cara penerapannya dalam kehidupanku dan hubunganku, dengan harapan agar mereka yang ingin melampaui kondisi yang tidak mengenakkan ini dapat menemukan minat mereka.

Continue reading “Hasrat yang Dipersenjatai; A’s dan Impuls kreatif”

TESIS MENGENAI REVOLUSI KEBUDAYAAN

Image result for cultural revolution

Guy Debord

1

Tujuan tradisional dari estetika adalah untuk membuat orang merasakan — dalam kekurangan dan ketiadaannya — suatu unsur tertentu dari kehidupan yang mana melalui mediasi seni akan terlepas dari membingungkannya penampilan/ appearance, mengingat penampilan itu ditentukan oleh waktu. Dengan demikian, tingkat keberhasilan dari estetika diukur melalui keindahan yang tak dapat dipisahkan dari durasi, dan bahkan cenderung mengklaim keabadian. Tujuan situationis adalah partisipasi langsung dalam kelimpahan gairah kehidupan, melalui beragam momen-momen sekilas yang diatata dengan teliti. Keberhasilan momen-momen ini hanya dapat menjadi efek sekilasnya saja. Situasionis memahami aktivitas kebudayaan, dari sudut pandang totalitas, sebagai metode eksperimental untuk mengkonstruk hidup keseharian, yang dapat dengan permanen dikembangkan melalui peningkatan waktu luang dan penghilangan pembagian kerja (dimulai dengan pembagian kerja artistik). Continue reading “TESIS MENGENAI REVOLUSI KEBUDAYAAN”

Logika Insureksi

Alfredo M. Bonanno
1984

Kalau kita mendengarkan kata insureksi, kita sering langsung memikirkan tentang beberapa momen pemberontakan di masa lalu, atau membayangkan pertempuran yang serupa di masa depan. Insureksi spontan terjadi ketika orang-orang didorong (dieksploitasi) hingga melampaui batas ketahanan mereka. Beberapa kejadian telah terjadi: pertempuran jalanan, penyerangan atas polisi, penghancuran simbol-simbol kapitalisme (bank, toko perhiasan, supermarket, dsb). Sementara momen-momen kekerasan massa seperti itu terjadi, kaum anarkis masih belum siap, terpukau dengan kenyataan bahwa apatisme hari kemarin, hari ini berubah menjadi ledakan kemarahan. Continue reading “Logika Insureksi”

Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Bagi AO’s

27 Agustus 2015 oleh Life Glug

Tulisan ini merupakan versi yang telah dimodifikasi dari artikel yang ada di majalah Organise!

_______________________________________

 

Gilles Deleuze dan Felix Guattari (D&G) adalah filsuf Prancis yang mulai terkenal pada masa-masa pemberontakan Mei 1968 di Paris. Pengalaman mereka didalam kejadian tersebut membuahkan karya dua volume mereka, ‘Kapitalisme dan Skizofrenia’, karya menyuguhkan kita berbagai alat yang dapat digunakan untuk menganalisis dinamika kapitalisme dan negara. Mereka menyajikan beragam referensi, menggabungkan konsep filosofis Marx, Freud dan Nietzsche dengan teori chaos, biologi evolusioner, geologi dan antropologi (diantara sekian banyak lainnya). Dengan disediakannya berbagai macam sumber ini, — yang berarti bahwa terdapat berbagai macam cara untuk berurusan dengan ide-ide Deleuze dan Guattari — kaum anarkis kemungkinan besar akan sangat tertarik dengan penekanan D&G soal penciptaan kondisi yang terbebas dari segala bentuk dominasi, baik materil maupun psikologis.

Continue reading “Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Bagi AO’s”

Apa Yang Kupercayai dan Bagaimana Sampai Aku Mempercayainya

Wayne Price

2008

Ditulis untuk http://www.Anarkismo.net
Secara orisinil bersumber dari bagian pengantar “The Abolition of the State: Anarchist and Marxist Perspectives” oleh Wayne Price, sebuah kompilasi esai, yang kebanyakan dari Anarkismo.net

Esai berikut akan meliputi beragam topik, ditulis pada waktu-waktu berbeda, tapi keseluruhannya tetap merefleksikan sudut pandang yang khusus. Aku bukanlah juru bicara bagi siapapun dan tidak mengklaim diri sebagai seorang “anarkis ortodoks,” apapun rupanya. Namun, pandanganku kurang lebih cukup konsisten dengan tendensi utama dari beberapa pemikiran anarkis tradisional dan yang ada hari ini.

Continue reading “Apa Yang Kupercayai dan Bagaimana Sampai Aku Mempercayainya”