Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Bagi AO’s

27 Agustus 2015 oleh Life Glug

Tulisan ini merupakan versi yang telah dimodifikasi dari artikel yang ada di majalah Organise!

_______________________________________

 

Gilles Deleuze dan Felix Guattari (D&G) adalah filsuf Prancis yang mulai terkenal pada masa-masa pemberontakan Mei 1968 di Paris. Pengalaman mereka didalam kejadian tersebut membuahkan karya dua volume mereka, ‘Kapitalisme dan Skizofrenia’, karya menyuguhkan kita berbagai alat yang dapat digunakan untuk menganalisis dinamika kapitalisme dan negara. Mereka menyajikan beragam referensi, menggabungkan konsep filosofis Marx, Freud dan Nietzsche dengan teori chaos, biologi evolusioner, geologi dan antropologi (diantara sekian banyak lainnya). Dengan disediakannya berbagai macam sumber ini, — yang berarti bahwa terdapat berbagai macam cara untuk berurusan dengan ide-ide Deleuze dan Guattari — kaum anarkis kemungkinan besar akan sangat tertarik dengan penekanan D&G soal penciptaan kondisi yang terbebas dari segala bentuk dominasi, baik materil maupun psikologis.

 

Seperti kebanyakan rekan-rekan akademis di era mereka, D&G didalam karya-karyanya menggunakan bahasa yang secara sengaja dibuat rumit, yang sayangnya berarti bahwa kebanyakan ide-ide mereka tetap tersekap didalam dunia akademis. Jadi, saya harap artikel ini dapat menunjukkan kemungkinan untuk menjembatani jurang tersebut, dengan cara hanya menyajikan sejumlah kecil konsep-konsep mereka yang membingungkan dengan menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Beberapa orang yang familiar dengan D&G mungkin saja tidak sepakat dengan cara saya menginterpretasikan konsep-konsep ini, tapi adalah sudah selalu merupakan niatan D&G untuk menggunakan bahasa yang sulit: mereka membenci tipe ‘filsafat negara’ yang mencoba untuk mengontrol apa yang dapat diakui sebagai kebenaran, dan kemudian memanfaatkan kekuasaan dominan. Sebagai gantinya, mereka melihat tugas dari filsuf adalah menciptakan seperangkat alat-alat konseptual yang dapat dipakai oleh orang-orang, dan menghubungkan kehidupan mereka dan berjuang dengan cara mereka sendiri. Faktor penentunya bukanlah keadaan yang sebenarnya, tapi kegunaannya. Dalam perbincangannya dengan Michel Foucault, Deleuze mengatakan (meminjam bahasa Proust): “perlakukan bukuku sebagai sepasang kacamata yang diarahkan menuju keluar; jika tidak sesuai untukmu, cari kacamata lainnya; aku serahkan padamu untuk mencari alatmu sendiri, yang tentu saja merupakan senjata untuk bertempur.”

Sebelum kita mulai, salah satu konsep dasar D&G patut dijelaskan untuk membantu kita memahami pemikiran mereka. D&G sering berbicara tentang ‘aliran (flows)’: aliran uang, aliran orang, aliran informasi, aliran pemikiran, aliran bicara, aliran sejarah – bahkan ‘aliran tai’. Bagi mereka, tidak ada yang statis: seluruh alam semesta berada dalam aliran yang konstan, sekalipun dengan kecepatan yang berbeda-beda. Mulai dari pergerakan lambat lempengan bumi selama jutaan tahun, sampai perubahan cepat dalam sebuah ledakan. Sejalan dengan ini, mereka menerapkan ide tentang ‘aliran’ dalam perubahan sosial, baik dalam perkembangan bertahap struktur sosial sepanjang sejarah, sampai perubahan cepat yang terjadi selama revolusi.

Dengan memperhatikan hal ini, mari kita lihat apakah kita dapat membuat D&G berguna bagi anarkisme komunisme.

 

Kebebasan dan ‘Ruang Halus (smooth space)’

Dalam pengantarnya tentang anarkisme komunisme, Federasi Anarkis (Afed) mengatakan:

“Negara adalah mesin untuk mengontrol manusia dan tidak pernah mungkin menjadi hal lainnya.”

 

Fungsi utama negara adalah apa yang disebut D&G sebagai ‘pengirisan(striation)’: mengambil alih ruang komunal (ruang halus), yakni ruang dimana pergerakan yang bebas dimungkinkan, dan mengirisnya menjadi plot-plot dengan batasan yang ketat (‘striated space’). Ketika diterapkan pada tanah, proses ini menciptakan dimungkinkannya penyewaan tanah dengan menciptakan area terbatas yang dapat dimiliki dan dipertukarkan/ diperdagangkan. Kaum anarkis akan familiar dengan contoh seperti pemagaran ruang komunal di Inggris, perampasan oleh penguasa kolonial disepanjang Afrika, sebagaimana perampasan lahan di negara modern seperti yang sedang terjadi di Cina dan Ethiopia.

Tapi ‘pengirisan’ ini tidak terbatas hanya pada tanah. Negara juga terlibat dalam pengirisan atas aset-aset komunal lainnya: ruang halus lautan dikeruk menjadi teritori-teritori (Seperti Reklamasi), sebagaimana ruang halus di udara. Ruang halus taman publik yang diprivatisasi dan diregulasi, dengan peraturan yang melarang dilakukannya berbagai kegiatan tertentu (bahkan melarang beberapa orang-orang tertentu). Masih terdapat banyak contoh yang abstrak, seperti properti intelektual, dimana ruang halus ide-ide dan konsep telah diiris, dan kepemilikannya dipaksakan. Dan ‘netralitas internet (net neutrality)’, ruang halus internet, juga sedang diserang terus-menerus oleh negara yang mencoba untuk memecahkannya demi memperoleh akses untuk melakukan tindakan pencegahan demi melayani korporasi-korporasi besar. Pengirisan adalah salah satu cara negara untuk membuka jalan bagi eksploitasi kapitalis.

Satu-satunya ruang halus yang dapat ditoleransi oleh negara adalah ruang halus yang diciptakan sebagai alat/ instrumen yang memungkinkan terjadinya pengirisan lebih lanjut, seperti untuk mempertahankan tegaknya batas-batas negara. Jadi sebagai contoh, mari melihat bagaimana negara modern menggunakan UU anti-teror untuk menciptakan ruang halus pengawasan komunikasi, dimana agen-agen negara dapat menyusup keluar masuk didalam jaringan komunikasi tanpa hambatan. Atau ruang halus peperangan, dimana (apa yang biasa dipandang sebagai) ‘kemerdekaan negara’ dibuat melebur, dan semua medan menjadi subjek bagi pembersihan melalui kekerasan.

Pengirisan, karenanya, berhubungan dengan bagaimana pergerakan yang melalui ruang-waktu dipaksakan atau semacamnya, baik itu tubuh manusia, kapital, informasi, produk, tentara; semua ‘aliran’. Anarkisme dapat dikatakan mencari dunia ruang halus, yang tidak hanya dunia tanpa batas-batas, tapi tanpa koersi atas pergerakan, pemikiran dan ekspresi kita. D&G menerapkan konsep ruang halus untuk digunakan dengan cara yang sama dengan perspektif anarkis, menghadapi yang teriris, ‘kerja-kerja’ koersif, dengan menggunakan ‘aksi bebas’ yang kreatif dan halus:

‘Ketika tidak ada negara dan tenaga kerja surplus, maka tidak ada model-kerja. Sebagai gantinya, terdapat variasi-variasi berlanjut dari aksi bebas, berpindah dari bicara ke aksi, dari aksi yang ada ke aksi lainnya, dari aksi ke lagu, dari lagu ke bicara, dari bicara ke enterprise, semua dalam kromatisisme yang aneh dengan momen-momen puncak yang langka atau momen-momen upaya yang dimana pengamat dari luar hanya dapat “menerjemahkan” dalam hal kerja’

Bagaimanapun, kita harus berhati-hati sebab ruang halus bukanlah pembebas dan tidak dalam pembebasan. Sebagaimana yang telah disebutkan, ruang-ruang halus dapat digunakan secara langsung untuk melayani negara, seperti didalam perang. Ia juga dapat eksis didalam celah ruang yang diiris, menciptakan kesan pembebasan yang individual dan temporer yang tidak dapat mengganggu tatanan sosial. Petualang urban (Flaneur a la Prancis) mengkonstruk ruang halus didalam pergerakannya disepanjang kota, melintasi tempat-tempat yang terkunci, terututup dan sulit dijangkau. Tapi ini tidaklah menghilangkan pengirisan itu sendiri, tapi hanya sekedar membiarkan invididu-individu merasakan berbagai sensasi bekerja disekitar mereka.

Bagaimanapun, ruang halus memiliki efek yang sangat kuat, khususnya ketika hadir sebagai bagian dari aksi kolektif. Kita dapat melihat dengan jelas ruang halus protes-protes militan, yang secara spontan merebut kembali ruang dari tangan negara dan menyebarkannya secara tidak terprediksi, versus ruang teriris dari gerakan A-B (terkomando) yang telah disetujui oleh polisi. Ruang halus rapat-rapat akbar non-hirarkis, versus ruang teriris dari birokrasi serikat. Atau pada skala yang lebih luas, ruang halus dari masyarakat baru yang diciptakan melalui demokrasi langsung, versus pengirisan dari rencana lima tahun.

 

Negara dan ‘segmentaritas yang kaku’

Afed mengatakan: “Sekolah, di satu sisi menyediakan layanan yang penting, namun di sisi lain juga mengindoktrinasi anak kecil dan mempersiapkan mereka untuk menjalani kehidupan sebagai pekerja ketimbang menjadi manusia. Penjara, otoritas imigrasi, lembaga filantropis dan lain sebagainya, semuanya menyusup dalam kehidupan kita dan mengontrol aksi-aksi kita. Beberapa dari hal-hal ini, seperti sekolah, rumah sakit dan urusan kesejahteraan, yang terkadang kita menggantungkan hidup kita terhadapnya. Seringkali melalui ketergantungan mendasar inilah organisasi-organisasi ini mengontrol kita.”

Ruang sosial dipisahkan kedalam beberapa tipe kelompok: dalam dualisme (anak kecil/dewasa, laki-laki/perempuan, kelas ini/kelas itu), lingkaran yang bersifat meluas (individu, pasangan, keluarga, kampung, dan kota besar) dan garis linear (saya lulus dari rumah, ke sekolah, ke militer, ke kerja). Tiap-tiap tipe kelompok ini dapat beroperasi didalam semua bentuk masyarakat. Tapi dimana masyarakat pra-negara cenderung mengarah kepada segmen-segmen yang supel/ fleksibel, dan saling bersambungan dengan berbagai cara disekitar sejumlah pusat, masyarakat negara membuanya kaku, dan mengaturnya secara hirarkis disekitar sebuah pusat. Apa yang sebelumnya merupakan jaringan dinamis pusat-pusat yang berbeda menjadi sebuah ‘bilik beresonansi’ hirarkis yang melaluinyalah kekuasaan dapat mengalir.

Melalui bilik hirarkis ini, organ-organ negara dibuat untuk bekerja bersama dengan ideologi neoliberal yang sama: sekolah dan universitas sebagai pabrik untuk memproduksi pekerja; penjara digunakan sebagai sumber tenaga kerja, yang merupakan tempat bagi mereka yang gagal beradaptasi dengan kerasnya masyarakat neoliberal; keuntungan hanya diberikan pada kondisi kerja tak berbayar; politisi membentuk peraturan sebaik mungkin untuk membantu bisnis besar, semua layanan publik dilucuti, dimarketisasi dan diprivatisasi; keberlanjutan bunga sektor finansial, industrial dan militer. Ideologi dapat bergerak melalui semua segmen sosial ini sekaligus.

Semakin negara mencampuri hidup kita, semakin kita sebagai individu dibuat beresonansi dengan organ-organ negara. Kita dipuji negara sebagai subjek legal dan politik yang diindividualisasi, seperti yang diharapkan, setara dibawah hukum, mengacuhkan ketidakadilan dari keadaan sosial kita. Kita diperlakukan sebagai pelanggan, mengikis harapan akan hak sipil tak bersyarat dan menggantinya dengan hak konsumen bayaran-kondisional. Kita dipaksa untuk berpakaian dan bergerak dengan homogenitas yang semakin meningkat, dengan penyimpangan terhadap ideal ‘kecerdasan’ dan ‘bicara dengan sesuai’ menjadi bahaya bagi nasib kita untuk mencari kerja, bahkan sekarang telah meluas ke kelakuan kita di sosial media. Keluarga mereproduksi dan menormalisasi hirarki dan ‘etos kerja’ kedalam anak-anak mereka. Bahkan relasi telah dinilai dalam bahasa ‘pasar pernikahan’ dan ‘investasi’. Tingkatan kontrol sosial yang tersembunyi dan membahayakan ini akan mustahil eksis tanpa sistem segmen-segmen kaku, yang diatur untuk bertindak sebagai sebuah bilik resonansi yang melaluinya ideologi dapat mengalir.

 

Dominasi Didalam Kelas Pekerja: ‘Sintesis’ ketidaksadaran

Afed mengatakan: “Kelas berkuasa bekerja keras untuk memecah belah kita untuk saling melawan satu sama lain. Ia melakukannya dengan dua cara, sebagian dengan mencoba untuk mengontrol ide-ide dan cara kita memikirkan diri kita sendiri, dan sebagian lagi melalui penciptaan perbedaan kecil didalam kekuasaan dan kekayaan yang menetapkan kondisi dimana kelas pekerja saling melawan sesamanya.”

D&G juga memiliki sasaran untuk menganalisis lebih tepat tentang bagaimana kapitalisme dan negara mempengaruhi cara kita memikirkan diri kita sendiri dan orang lain pada tingkat ketidaksadaran kita. Bagi mereka, ‘ideologi’ merupakan konsep yang terlalu samar dan deterministik, dan membutuhkan lebih banyak elaborasi khusus tentang bagaimana negara berproses, seperti proses pengirisan dan segmentasi kaku pada pemikiran yang terpengaruhi. Sebagai gantinya, mereka mengacu pada tiga ‘sintesis’ pikiran, yakni bagaimana pikiran kita menyambungkan ketidakberaturan sensasi disekitar kita, lalu memisahkannya menjadi objek-objek berbeda, lalu mempersatukan semua objek terpisah ini dan memahaminya dalam konteks, melawan landasan. Hal-hal ini kemudian merupakan sintesis dari koneksi, disjungsi dan konjungsi.

Hal ini menjadi berguna secara politik ketika D&G menambahkan dimensi etisnya: setiap sintesis ini memiliki bentuk terlegitimasi dan tidak terlegitimasi. Pendeknya, sintesis yang terlegitimasi dari pikiran adalah parsial, inklusif dan cair. Yang tidak terlegitimasi itu global, eksklusif dan kaku. Ini berarti bahwa:

Kita menghubungkan secara terlegitimasi didalam kesadaran kita tentang bagaimana manusia, pikiran, kejadian, sistem sosial dan seterusnya bersifat kompleks dan kontradiktif, dan menciptakan serangkaian bagian-bagian yang unik. Kita menghubungkan secara tidak terlegitimasi didalam penyederhanaan kita tentang manusia dan kempleksitas sosial, dalam memperlakukan segala hal dan semua orang sebagai keseluruhan objek yang sudah ditentukan.

Proses ini secara konstan aktif didalam media massa, seperti didalam representasi muslim atau pencari suaka, mereka yang terduga dijelaskan dengan label tersebut, ketimbang menjadi orang-orang kompleks yang mana hanyalah satu bagian konstituen (co. selain seorang muslim, seseorang dapat saja sekaligus seorang ‘keturunan Indonesia, pecinta Radiohead, pemain basket, dsb.) . Ini juga terjadi kepada kaum anarkis, dimana ketimbang dipahami sebagai manusia yang kompleks, dimana ‘kaum anarkis’ hanyalah salah satu elemennya, kita malah dianggap sebagai objek keseluruhan sederhana yang secara menyeluruh disimpulkan oleh kata tersebut, dan semua misinformasi yang diterakan kepadanya.

Tapi didalam lingkaran kita sendiri juga dapat terjadi kekeliruan mengenai hal ini. Contohnya seperti dalam melihat pembaca Daily Mail atau pemilih UKIP yang dianggap dapat dijelaskan sepenuhnya melalui label mereka, ketimbang penggabungan kompleks dari bagian-bagian dalam hak-hak mereka sendiri. Ini tidak berarti memakai perspektif liberal yang rancu bahwa ‘opini semua orang itu setara’ – ini soal mencoba untuk memahami kenapa posisi penindasan ini terjadi. Dengan melihat seseorang sebagai bagian-bagian yang tersusun secara kompleks ketimbang sebagai objek sederhana yang dapat dijelaskan melalui labelnya, kita membiarkan ruang terbuka untuk mencoba memahami proses sosial yang memproduksinya. Dengan cara itu, kita memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mempelajari bagaimana kita bergerak melawan paksaan sosial dan psikologis yang menciptakan rasisme, nasionalisme dan fasisme.

Secara terlegitimasi, kita terpisah dalam memahami perbedaan dan memperlakukannya secara inklusif. Secara tidak terlegitimasi, kita terpisah dalam menghubungkan perbedaan menuju biner-biner yang ketat  dan tidak memasukkan apa yang tidak sesuai. Contohnya, pembedaan antara ‘laki-laki dan perempuan’  yang sering digunakan untuk tidak memasukkan dan menindas kaum LGBT. Aksioma tidak terlegitimasi berbunyi: ‘kau adalah laki-laki juga perempuan, dan pertahankan cara hidupmu itu … laki-laki tertarik dengan perempuan dan perempuan dengan laki-laki … laki-laki berpakaian dan bertindak seperti ini, dan perempuan seperti itu …’ sebaliknya, disjungsi terlegitimasi menerima bahwa perempuan dan laki-laki adalah dua kategori yang terlegimitasi secara sempurna, tapi tidak membentuk suatu pasangan yang ketat. Terdapat ruang pelestarian dari penanda lebih jauh untuk memahami gender seseorang: trans woman, queer man, non-binary person, intersex person – yang dapat disebut heteroseksual, homoseksual, biseksual, panseksual, monogamous,polyamorous – yang dapat berpakaian dan bertingkah secara normatif atau sebaliknya. Jadi dimana disjungsi tidak terlegitimasi membentuk pasangan eksklusif ‘baik A atau B’, penggunaan terlegitimasi membentuk serial inklusif ‘A dan B dan C dan D dan …’

Secara terlegitimasi, kita terpisah dalam hal keterbukaan terhadap peningkatan lingkungan kita, terhadap pencarian posisi baru. Secara tidak terlegitimasi, kita terpisah dalam kebiasaan kita untuk selalu mengacu kembali pada medan yang kaku dan tidak berubah, yang menghasilkan segregasi. Nasionalisme adalah contoh sempurna dari medan ideologis yang tidak berubah itu. Setelah tiba pada ide tentang ‘imigran’, hal ini ditempatkan kedalam medan yang kaku dan pra-determinasi dari ‘Britain’. Hal ini menyiapkan pemisahan ‘kita vs mereka’ yang segregatif yang dibawa-bawa sepanjang seluruh penilaian. Tidak masalah soal seterbuka dan seterhormat apa pikiran tersebut, sepanjang tidak bergantung pada medan yang kaku dari negara, kesadaran mereka akan benar-benar tidak diindahkan oleh hasrat untuk melindungi negara/ keadaan.

Tapi lagi-lagi, kita harus hati-hati agar ide-ide anarkis juga tidak menderita hal ini. Kita harus selalu siap untuk mempertajam ekspektasi dan alat analisis kita agar dapat beradaptasi dengan dunia yang berubah-ubah, dan tetap terbuka untuk penciptaan jaringan kontingen di medan ini. Kita tidak bisa sekedar terjatuh kembali pada pernyataan dogmatis yang didasari atas pemikiran mendasar anarkis klasik, dan memencilkan diri kita dari perjuangan kelas pekerja lain. Dengan kata lain, kita harus mempertahankan prinsip kita tanpa mengisolasi diri kita sendiri. Contoh suksesnya adalah kelompok Afed London yang menemukan cara untuk bertindak didalam pergerakan perumahan. Pada keseluruhannya ia beroperasi pada prinsip non-hirarkis yang familiar dengan kaum anarkis, tapi kadang membutuhkan kerjasama dengan orang-orang dalam pandangan politik yang berbeda-beda. Dengan mempertahankan otonomi kita sebagai anarkis tapi membentuk ikatan temporer kontingen dengan yang lain, kita telah dapat terlibat dalam aksi-aksi seperti perlawanan penggusuran, kita telah menambahkan suara ekstra dalam argumen untuk menjaga aksi pada tingkat akar rumput, dan menyediakan kita kesempatan untuk membangun jaringan dengan dan memiliki pengaruh dalam bagian-bagian dari pergerakan yang dengan cara lain tidak akan bisa kita jalani.

Untuk menyatukan tiga sintesis ini, kita dapat melihat ide tentang ‘komunitas’. Hal ini bisa saja merupakan istilah yang rumit bagi kaum anarkis: komunitas di satu sisi adalah sesuatu dimana kita bertindak melawan negara, tapi kita harus kritis terhadapnya, sebagaimana penindasan  intra kelas pekerja didalam kelas pekerja sendiri itu terjadi didalam komunitas. Jadi bagaimana kita mengekspresikan bentuk komunitas apakah yang kita inginkan? Menggunakan tiga sintesis diatas, kita bisa berkata bahwa kita menginginkan komunitas yang didasari atas perjalinan kompleks bagian-bagian, seperti jaringan lokal nyata dari solidaritas materiil dan emosional antar orang-orang (koneksi terlegitimasi). Ini bertolak belakang dengan cara dimana kata komunitas seringkali digunakan, yang dapat bermakna lebih kecil dibanding banyak individu yang hidup bedekatan dengan yang tidak berinteraksi – komunitas sekedar dipahami melalui namanya. Kita mengininkan komunitas yang inklusif, dimana semua diterima dalam berbagai perbedaan mereka (disjungsi terlegitimasi), ketimbang komunitas yang tidak memasukkan medan normatif dari gender, ras, disabilitas, dsb. Dan kita menginginkan komunitas yang stabil tapi fleksibel (konjungsi terlegitimasi), dimana orang-orang memiliki rasa identitas kolektif tapi tetap mengutamakan basis ‘kita vs mereka’/ Komunitas yang mempertahankan karakter dan tradisi uniknya tapi dimana orang-orang memiliki keterbukaan terhadap perubahan yang gradual dan konsensual, selalu membentuk dirinya sendiri untuk menemukan cara yang lebih baik untuk hidup bersama.

 

Revolusi dan Deteritorialisasi

AFed mengatakan bahwa: “Baik penghancuran atas apa yang eksis hari ini maupun pembangunan sesuatu yang baru, adalah bagian dari revolusi.”

Akhirnya, sesuatu yang dapat berguna bagi kaum anarkis dalam pemikiran tentang revolusi adalah konsep D&G tentang ‘de-teritorial-isasi’. Kata ini sedikit sulit, jadi adalah baik untuk sedikit mendalaminya. Deteritorialisasi mengacu pada ‘teritori/ wilayah’, tapi ini tidak hanya teritori fisik: ia juga dapat diterapkan pada teritori konseptual atau sosial. Konsep ini mungkin terasa aneh pada awalnya, tapi kita sebenarnya telah menggunakan logika dari konsep ini dalam bahasa keseharian kita. Ketika Tories berkuasa atas suara mayoritas, orang-orang dapat berkata sesuatu seperti: “kita telah memasuki teritori baru’, mengimplikasikan ideologi dominan baru, kombinasi hukum, ide, statemen, praktik baru.

Jadi , jika ini adalah teritori, maka teritorialisasi hanyalah proses yang memproduksi teritorial sosial dan material ini. Deteritorialisasi karenanya mengacu pada proses-proses yang mengganggu dan mentransformasi sistem ini. Hal ini menjadi berguna ketika D&G menciptakan beberapa tipe deteritorialisasi untuk menjelaskan tipe-tipe berbeda perubahan sistem. Sementara pembedaan biasa kita seperti “reformasi vs revolusi’ hanya memberikan kita satu axis luas tentang perubahan, konsep deteritorialisasi menggunakan dua axis berbeda: absolut vs relatif, dan positif vs negatif.

Absolut dan relatif mengacu pada persoalan apakah kita secara total berpisah dari ide-ide sosial dominan, atau sekedar menciptakan keretakan temporer yang kemudian dengan mudah diabsorbsi kembali oleh negara. Perubahan relatif menampakkan beberapa kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam sistem sosial, tapi sebuah perubahan absolut menciptakan kemungkinan yang sama sekali baru.

Positif dan negatif bukan berarti ‘baik dan buruk’, tapi lebih mengacu kepada perubahan melawan formasi kekuasaan dominan (positif) ataukah perubahan yang dengan total mendukung dominasi (negatif).

Mengkombinasikan kedua axis ini memberi kita empat tipe-tipe yang luas. (meski harus dipaparkan bahwa ia adalah tipe yang cair, dan sementara beberapa situasi akan mencontohkan satu tipe dominan, yang lain dapat melibatkan percampuran).

Deteritorialisasi relatif negatif berarti bahwa sistem terganggu, perubahan terjadi, tapi ini tidak berlangsung lebih jauh untuk menantang sistem, dan jika sesuatu terjadi, itu sebenarnya memperkuat sistem dominan. Pemilu adalah contohnya – periode dimana sejumlah chaos terjadi, tapi dengan kondisi yang sudah diperkirakan negara dan sepenuhnya berkapasitas untuk diperbaiki. Negara pada faktanya muncul lebih kuat karena ‘mandat demokratik’ nya yang disegarkan kembali, dan dengan beberapa jaringan lebih lemah dari sistem yang telah dibuang. Pada waktu yang sama, tidak ada proses yang berjalan melawan reformasi (‘re-teritorialisasi’) dari kekuasaan negara setelah pemilu.

Perubahan relatif positif dilain sisi, sebenarnya menciptakan koneksi-koneksi untuk menghindari penciptaan dominasi, tapi tidak dalam dirinya sendiri menghadirkan cukup tantangan kepada keseluruhan sistem untuk menciptakan perpecahan revolusioner. Anarkisme gaya hidup isolasionis cenderung jatuh pada tipe ini. Akan merupakan sesuatu hal yang positif dengan benar-benar bergerak melawan dominasi internal melalui relasi non-hirarkis, dan dengan menciptakan ‘ruang halus’ yang tidak dapat disesuaikan oleh negara bagi dirinya sendiri. Namun itu hanya deteritorialisasi relatif karena secara besar-besaran sistem negara-kapitalis secara keseluruhan tidak benar-benar terganggu dengannya. Itu adalah iritasi minor yang juga akan coba dihancurkan oleh negara, atau seperti Freetown Christiana di Copenhagen, akan membiarkannya untuk terus eksis didalam isolasi, menyebabkan tidak ada gangguan lebih jauh kepada sistem kapitalis.

Hanya perubahan absolut yang dapat menjadi revolusioner. Hal ini mensyaratkan guncangan serius didalam sistem sosial yang tidak dapat diabsorbsi oleh negara. Namun, seperti axis relatif, terdapat tipe negatif dan positifnya. Sebuah contoh perubahan absolut negatif dapat berupa semacam revolusi insureksioner yang dimiliterisasi yang akhirnya berakhir menjadi tirani, gagal untuk menghentikan dirinya sendiri untuk berubah menjadi alat dominasi baru. Revolusi komunis otoritarian juga akan jatuh kedalam tipe absolut negatif: sementara mereka memang dapat menantang dengan baik suatu kekuasaan dominan yang ada, tapi bagaimanapun mereka tetap memproduksi sistem dominasi alternatif melalui hirarki dan penindasan yang diperlukannya.

Inilah tepatnya kenapa kaum anarko berdebat soal kebutuhan akan prefigurasi: penciptaan institusi dan organisasi yang dapat mulai mengatur masyarakat baru yang bebas dari dominasi, mengacu pada revolusi. Organisasi-organisasi ini dapat membuka jalan bagi perubahan absolut positif, dengan menciptakan koneksi yang terus-menerus bertindak melawan reformasi dari negara atau bentuk lain kekuasaan dominan, sebelum, selama dan setelah periode perpecahan revolusioner.

Terdapat sejumlah konsep-kosenp lain yang dapat digunakan oleh kaum anarkis yang tidak dapat dijelaskan disini. Untuk menjelaskannya butuh waktu lain bagiku, atau kau dapat memberanikan diri menghadapi teks-teks sumbernya sendiri – jadi periksalah referensi dibawah untuk beberapa panduan dan intepretasi. Akhirnya, saya akan menyerahkannya kepada Deleuze & Guattari sendiri untuk mengilustrasikan manfaat filsafat mereka berdua bagi kaum anarkis:

“Konsep itu adalah batu bata. Ia dapat digunakan untuk membangun gedung pengadilan bagi akal. Atau ia dapat digunakan untuk dilemparkan ke jendela.”

 

 

Referensi:

 

Colebrook – Deleuze: A Guide for the Perplexed

Deleuze and Guattari – Anti-Oedipus

Deleuze and Guattari – A Thousand Plateaus (especially chapters 9, 12, 13 and 14)

Holland – Deleuze and Guattari’s Anti-Oedipus: Introduction to Schizoanalysis

Nail – Returning to Revolution: Deleuze, Guattari and Zapatismo

Parr – The Deleuze Dictionary

Thoburn – Deleuze, Marx and Politics

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s