Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Bagi Anarkis Komunis

27 Agustus 2015 oleh Life Glug

Tulisan ini merupakan versi yang telah dimodifikasi dari artikel yang hadir di majalah Organise!

_______________________________________

 

Gilles Deleuze dan Felix Guattari adalah filsuf Prancis yang mulai terkenal disekitaran kejadian pemberontakan Mei 1968. Pengalaman mereka di kejadian tersebut membuahkan karya dua volume mereka ‘Kapitalisme dan Skizofrenia’, dimana didalam karya tersebut mereka mennyodorkan berbagai alat untuk menganalisis dinamika kapitalisme dan negara. Mereka menyajikan susunan sumber-sumber yang masif, menggabungkan konsep filosofis dari Marx, Freud dan Nietzsche, dengan wawasan dari teori chaos, biologi evolusioner, geologi dan antropologi (diantara sekian banyak lainnya). Sementara karena disediakannya berbagai macam sumber ini yang berarti bahwa terdapat berbagai macam cara untuk berurusan dengan ide-ide Deleuze dan Guattari, kaum anarkis kemungkinan besar akan sangat tertarik dengan penekanan D&G soal penciptaan kondisi yang bebas dari segala bentuk dominasi, baik materil maupun psikologis.

Continue reading “Deleuze & Guattari: Sebuah Pengantar Bagi Anarkis Komunis”

Advertisements

Apa Yang Kupercayai dan Bagaimana Sampai Aku Mempercayainya

Wayne Price

2008

Ditulis untuk http://www.Anarkismo.net. Secara orisinil bersumber dari bagian pengantar “The Abolition of the State: Anarchist and Marxist Perspectives” oleh Wayne Price, sebuah kompilasi esai, yang kebanyakan dari Anarkismo.net

 

Esai berikut akan meliputi beragam topik, ditulis pada waktu-waktu berbeda, tapi seluruhnya tetap merefleksikan sudut pandang yang khusus. Aku bukanlah juru bicara bagi siapapun dan tidak membuat klaim sebagai seorang “anarkis ortodoks,” apapun rupanya. Namun pandanganku kurang lebih cukup konsisten dengan tendensi utama dari beberapa pemikiran anarkis tradisional dan yang ada hari ini. Tendensi ini bersifat revolusioner, mempercayai bahwa nantinya kelas pekerja akan harus mengonfrontasi langsung dan membongkar negara; tendensi ini anti-kapitalis, dalam tradisi sosialisme libertarian, anarkisme sosial, dan anarkis-komunisme; tendensi ini bersifat desentralis, percaya bahwa masyarakat haruslah dalam skala manusia, berakar pada demokrasi langsung; tendensi ini bersifat federalis, percaya bahwa rapat-rapat lokal dan dewan-dewan tempat kerja harus menggantikan negara dengan asosiasi dan jaringan; tendensi ini bersifat internasionalis, percaya bahwa revolusi skala global itu dibutuhkan; tendensi ini diperuntukkan bagi pembangunan ulang yang ekologis dan environmental atas segala industri dan teknologi, dalam tradisi ekologi sosial dan anarkisme Hijau; sebagai anarkisme perjuangan kelas, tendensi ini melihat kelas pekerja sebagai kelas yang sentral dalam perjuangan revolusioner, sebuah analisis yang saling bertumpang tindih dengan aspek libertarian dan humanistik dari Marxisme; namun juga mendukung setiap perjuangan melawan penindasan oleh setiap kelompok dan setiap isu, termasuk perempuan, orang-orang berwarna, negara yang ditindas oleh imperialisme, orang-orang Gay Lesbian Bi dan Transeksual, orang-orang penyandang disabilitas, mereka yang melawan perang atau malapetaka ekologis; dsb. Dalam rangka untuk mencapai tujuan-tujuan ini, tendensi ini percaya bahwa kaum revolusioner harus mengorganisir diri mereka sendiri untuk memperjuangkannya melalui kata dan contoh; hal ini dilihat sebagai bagian dari swa-kelola kelas pekerja dan yang tertindas, program yang disebut Platformisme atau especifismo.

Jika kau cukup penasaran tentang ide-ide ini, jangan sungkan untuk membaca buku ini.

Aku sampai pada serangkaian ide-ide ini melalui proses yang zigzag. Aku tumbuh di pinggiran kota, anak dari pekerja kerah putih (pada ujung atas dari kelas pekerja atau ujung bawah dari kelas menengah). Aku tidak pernah mengalami perampasan materil maupun siksaan personal, tapi secara neurotis aku merasa tidak bahagia. Tak lama setelah aku masuk sekolah menengah, aku menghabiskan musim panas dalam program camp bagi remaja. Secara kebetulan, aku berjumpa dengan tulisan-tulisan dari Paul Goodman dan Dwight Macdonald yang mengubahku menjadi seorang anarkis-pasifis. Seiring waktu, aku juga dipengaruhi oleh sang bioregionalis Lewis Mumford dan oleh marxis humanistik, Erich Fromm (Fromm dan Goodman juga merupakan psikolog radikal). Hal-hal ini dan juga karya dari penulis lainnya meyakinkanku bahwa terdapat cara lain bagi umat manusia untuk berhubungan dengan satu sama lain, yang lebih manusiawi, lebih baik, dan lebih rasional, ketimbang apa yang dulunya kupercayai. Rakyat, mereka bilang, membutuhkan komunitas yang terdesentralisasi, skala-manusia, face-to-face, secara radikal bersifat demokratis, dan hal-hal ini secara teknologis mungkin untuk dicapai. Mereka menjawab kebutuhan intensku untuk memberontak melawan otoritas, sementara tetap memegang berbagai nilai-nilai humanistik dan demokratis yang kuinternalisasi dari orang tuaku yang liberal. Aku menganggap diriku sendiri sebagai sosialis desentralis — dan masih bertahan sampai sekarang. (Paul Goodman didiskusikan lebih jauh dalam salah satu dari esai berikut.)

Ketika aku masuk kuliah, aku bergabung dengan Students for a Democratic Society (SDS, Amerika) dan berpartisipasi dalam pergerakan melawan perang Vietnam. Dalam perjalanan ini, aku berlari menyeberangi Trotskis yang memberitahuku untuk berhenti menjadi anarkis pasifis. Mereka membujukku bahwa revolusi itu dibutuhkan dan anarkis-pasifisme bukanlah program yang cukup untuk revolusi. Ia berargumen bahwa jalur non-kekerasan tidak akan berguna melawan kekuatan jahat yang berkuasa, seperti Nazi. Ia memberikanku karya-karya tentang revolusi Hungaria dan revolusi Spanyol tahun tigapuluhan. Karya-karya ini berargumen bahwa konsep Leninis tentang “negara pekerja” atau “kediktatoran proletariat” berarti bahwa pekerja, petani, dan tentara harus membentuk majelis dan dewan serta harus mengasosiasikan hal-hal ini sebagai kekuatan alternatif dari negara fasis atau kapitalis liberal. Tapi kupikir, kenapa aku harus memperjuangkan hal-hal ini! Bagaimanapun aku tetap memperjuangkannya, meskipun aku tidak akan menyebut ini dengan sebutan negara pekerja. Jadi aku menjadi seorang Trotskis.

Namun aku tidak pernah sepakat dengan – atau bahkan mrmahami – kepercayaan Trotskis ortodoks mereka yang meyakini bahwa Uni Soviet merupakan negara pekerja, sebagaimana Eropa Timur dan Cina, dan khususnya Kuba. Mereka mengakui bahwa pekerja tidak mengontrol negara-negara tersebut, bahwa pekerja dan petani sangatlah tertindas didalam semua negara (kecuali Kuba, klaim mereka), dan bahwa berbagai rezim, diluar dari USSR, semuanya naik ke tampuk kekuasaan tanpa revolusi pekerja. Bagaimanapun, mereka meyakinkan, pekerja merupakan kelas berkuasa didalam negara-negara tersebut karena industri telah dinasionalisasi dan ekonominya bersifat terencana (menurut mereka). Kupikir hal-hal ini sangat buruk dan benar-benar kontradiktif dengan pandangan demokratik dan proletariatnya marxisme yang pernah kupelajari.

Jadi, kebanyakan karena kejijikan terhadap para Trotskis ini, aku bergabung dengan sayap Trotskisme yang lebih tidak ortodoks, halus dan semi-sosdem. Sayap ini menolak pandangan Trotskis yang melihat bahwa Uni Soviet dibawah Stalin adalah negara pekerja, mendukung teori bahwa birokrasi Stalinis adalah kelas berkuasa baru,yang mempertahankan kapitalisme negara atau tipe baru masyarakat kelas (“kolektivisme birokratik,” mirip dengan “koordinatoris” teori dari para Pareconis hari ini). Pada tahun 1969 aku adalah anggota perintis (dengan kata lain, aku hadir pada konferensi perintisan) Sosialis Internasional. Organisasi ini berkutat pada tradisi Liga Sosialis Max Shachtman namun juga dipengaruhi oleh Sosialis internasional Britania (sekarang Partai Pekerja Sosialis).

Kemudian aku bergerak bersama dengan kawan Trotskisku dari kampus sewaktu aku mulai mengadakan kerja-kerja oposisi di serikat guru Kota New York. Terakhir kudengar kawanku ini menjadi pimpinan Socialist Action, pecahan Partai Pekerja Sosialis A.S. (tidak memiliki relasi dengan kelompok Britania) setelah partai tersebut mengacuhkan Trotskisme bersamaan dengan Castroisme.

Apa yang paling menarik dari IS (International socialist) bagiku adalah konsepnya tentang “sosialisme-dari-bawah,” diuraikan oleh Hal Draper dalam panfletnya,Dua Jiwa dari Sosialisme (dicetak ulang dalam Draper, 1992, pp. 2 – 33). Ia berargumen bahwa sosialisme asli hanya dapat tiba melalui pemberontakan rakyat biasa, pekerja dan yang lainnya, melawan elit yang memerintah kita, dan harus dijalankan melawan mereka yang hanya ingin menggunakan rakyat sebagai godam demi mencapai kekuasaan. Ia mengklaim bahwa hal ini merupakan makna esensial marxismenya Marx dan Engels, dan kemudian menulis beberapa seri buku-buku tebal untuk membahas kasusnya (e.g., Draper, 1977). Menurutku, buku-buku ini berharga untuk dibaca, diluar dari bias anti-anarkisnya, yang diterima pada masa itu ( selagi aku meletakkan semangat  desentralisme ku). Kontribusi Draper didiskusikan lebih jauh dalam salah satu esaiku dibawah; aku masih berpegang pada sosialisme-dari-bawah.

Posisiku ini tidaklah mudah untuk dipegang semasa tahun 60an dan 70an. Orang-orang yang mengakui dirinya sebagai seorang revolusioner kebanyakan tertarik dengan politisi yang terlihat memimpin revolusi melawan imperialisme A.S.: Castro, Ho Chi Minh dan Mao Tse Sung. Ketiga orsng ini adalah diktator dalam tradisi Stalin, yang menciptakan revolusi dengan didasarkan pada kontrol atas kaum tani dan tidak pada swa-organisasi pekerja dan petani. Maois menjadi kelompok berpengaruh diantara pekerja dan rakyat kulit berwarna. Trotskis utama merupakan jenis ortodoks yang juga memahami rezim-rezim ini sebagai negara pekerja.sementara tingkatan rendah dari perjuangan kelas pekerja pada masa itu menyulitkan orang-orang berdebat tentang orientasi kelas pekerja, sebagaimana yang kami lakukan. I.S. menjadi termarjinalisasi.

Beberapa dari kami sampai pada kesimpulan bahwa I.S., tidaklah sangat revolusioner dalam aksi, secara organisatoris bersifat ceroboh dan secara politis bersifat karut. Draper sendiri banyak mendorong I.S. menuju pembangunan partai liberal kelas menengah, Partai Perdamaian dan Kebebasan, yang kebajikan satu-satunya adalah karena partai ini bukanlah Demokrat atau Republikan (serupa dengan Partai Hijau, Advokat Partai buruh, atau pemilihan umum Nader yang ada hari ini yang didukung oleh penerus I.S.). Perselisihan sengit antar-faksi meledak dan kami akhirnya berpisah (kami dikeluarkan), membentuk Liga Sosialis Revolusioner pada tahun 1973. I.S. berlanjut; hari ini satu-satunya bagiannya yang berhasil bertahan di A.S. adalah Organisasi dan Solidaritas Sosialis Internasional (mungkin kelompok kiri terbesar).

Capaian kami sangatlah berbau Trotskis, tidak seperti I.S., kecuali soal posisi Trotskis ortodoks terhadap Uni Soviet. Sejak awal R.S.L. menolak keyakinan Trotsky bahwa Stalin memimpin sebuah negara pekerja, mendukung analisis kapitalis negara. Selebihnya kami mempelajari tulisan-tulisan Trotsky dan berusaha menjadi se-Trotskis mungkin.

Trotskismenya Trotsky mungkin terasa seperti persimpangan dari sosialisme-dari-bawah menuju anarkisme revolusioner, namun terdapat logika tentang hal tersebut. Apa yang kami lihat dari Trotskismenya Trotsky adalah suatu pendekatan yang serius terhadap revolusi. Ia menawarkan sumber-sumber intelektual dari teori Marxis ( mempelajari dan diajarkan tiga volume Kapital). Ini didasarkan pada sebuah analisis bahwa kapitalisme sedang berada pada masa-masa pembusukannya secara umum, meskipun terdapat periode yang terlihat makmur setelah Perang Dunia II, dan bahwa karenanya reformasi tidak dapat dimenangkan pada basis yang konsisten dan tahan lama. Trotskisme ini percaya bahwa revolusi dapat diciptakan oleh kelas pekerja, khususnya oleh seksi yang paling tertindas dari kelas pekerja: perempuan, ras Afrika-Amerika, pekerja dari negara tertindas, pemuda, dsb. ( Hal ini konsisten dengan sosialisme-dari-bawah). Trotskisme ini berusaha menggantikan negara kapitalis dan birokrasi Stalinis dengan asosiasi-asosiasi dewan (soviet-soviet), dengan demokrasi bagi tendensi-tendensi yang berlawanan. Trotskisme ini menyerukan revolusi dunia.

Yang terkhusus, Trotskisme Trotsky berseberangan dengan kondisi dimana kita terasing dari perjuangan reformasi populer, sebagaimana yang dilakukan kaum sektarian, atau mengubur diri kita didalam usaha reformasi, sebagaimana yang dilakukan kaum oportunis. Trotskisme ini mencari jalan bagi kaum revolusioner untuk mengkombinasikan partisipasi aktif didalam perjuangan orang-orang tereksploitasi dengan ekspresi terbuka mengenai kebutuhan akan revolusi. Trotsky menuntut pengikutnya untuk “mengatakan apa adanya,” menceritakan kenyataan kepada pekerja tentang kebutuhan akan revolusi, bahkan ketika berpartisipasi didalam usaha reformasi yang lebih terbatas. Ia mengajarkan metodenya untuk hal ini, seperti Front Persatuan, dukungan kritis, revolusi permanen, dan tuntutan transisional, yang mana kami pelajari sebagaimana metode-metodenya ini telah diterapkan dalam berbagai revolusi di masa lalu.kami mencoba untuk menerapkan pembelajaran tentang sejarah revolusioner didalam situasi kami sendiri, namun hal ini menjadi semakin sulit seiring waktu berjalan dan seiring periodenya menjadi semakin konservatif. Aku tidak ingin mengatakan bahwa kami telah sempurna dalam mengkombinasikan propaganda revolusioner dengan partisipasi populer – jauh dari itu – namun kami telah mencoba.

Kami juga sangat dipengaruhi oleh pergerakan untuk Pembebasan Perempuan dan untuk Pembebasan Gay. Hal ini tidak terlalu banyak dari program menyeluruh mereka, namun libertarianisme yang implisit dalam pergerakan mereka semakin mengarah kepada konflik dengan otoritarianisme dari Trotskisme.Secara umum kami menemukan bahwa semakin sulit untuk merekonsiliasikan sisi demokratik-libertarian dari Marxisme dengan sisi otoritariannya. Mengapa Trotsky menekankan bahwa negara Stalin (yang ia sebut serupa dengan negaranya Hitler) juga dikuasai pekerja, sejauh ekonomi tetap ternasionalisasi? Hal ini membuat kekuatan aktual dari pekerja menjadi hal yang sekunder, berada dibawah kepentingan ekonomi yang distatifikasi dalam konsepsinya tentang sosialisme. Mengapa Lenin dan Trotsky mendirikan kediktatoran satu-partai? Bila Marx dan Engels sangat demokratis, sebagaimana yang diklaim Draper, lantas bagaimana bisa pengikut mereka hampir seluruhnya otoritarian? (Sebagaimana yang juga diakui Draper)? Apakah kami sangatlah benar ketika mengatakan bahwa kami hampir satu-satunya orang yanf sangat memahami Marx, sementara 99,99% dari mereka yang mengaku marxis memiliki interpretasi yang sepenuhnya berbeda? Mungkin saja interpretasi otoritarian atas marxisme mereka juga memiliki basis dilegitimasi oleh karya Marx, Lenin, dan Trotsky?

Kami menggelar diskusi tentang kegagalan Trotskisme (disimpulkan dalam Hobson & Tabor, 1988, yang melibatkan sebuah analisis mengenai kapitalisme negara Uni Soviet). Diskusi ini diikuti oleh kritik jitu Ron Tabor (1988) atas Leninisme. Saya sendiri mengkontribusikan beberapa tulisan tentang desentralisme, kontrol pekerja atas industri, dan anarkisme. Sementara itu, kelompok minoritas telah terpecah (telah dikeluarkan) karena mereka ingin melanjutkan pengembangan Trotskisme ortodoks mereka sendiri (lihat Daum, 1990).

Kami tertarik dengan pertumbuhan dari sebuah pergerakan anarkis pada tahun 80an. Pada 1989 kami membubarkan R.S.L. setelah berjalan sekitar 16 tahun. Beberapa dari kamk kemudian bergabung dengan beragam kaum anarkis yang lebih muda untuk membentuk Love and Rage Revolutionary Anarchist Federation (kebanyakan eks anggota R.S.L. keluar dari kegiatan politik bersama-sama). Kelompok ini adalah sayap dari anarkisme yang melihat dirinya sebagai bagian dari gerakan kiri dan anti-kapitalis; mereka mendukung perjuangan orang kulit berwarna, perempuan, dan negara tertindas. Sayangnya, mereka ragu untuk mendukung kelas pekerja. Mereka menginginkan organisasi anarkis yang terpisah, tidak seperti anarkis anti-organisasionalis. Mereka serius soal bergabung dalam perjuangan populer dengan cara yang militan, bergerak bersama dengan yang lain sambil meningkatkan perspektif revolusi anarkis.

Love and Rage bertahan selama sembilan tahun. Seiring aku dan kawan-kawanku telah beranjak dari Marxisme ke anarkisme yang lainnya telah beranjak darj anarkisme ke Marxisme – jenis Maois, tidak kurang. Seiring jalur kami bersilangan, kami pikir untuk sementara bahwa kami sepakat dengan satu sama lain, namun sebenarnya kami bergerak dalam arah yang berlawanan. Kaum kiri secara keseluruhan telah menurun pada tahun 90an, termasuk sayap anarkisnya. Sebagai reaksi, terdapat sebuah ketertarikan bagi beberapa orang akan “kesuksesan” Marxisme dan tubuh karyanya.  Eks anggota R.S.L. dan beberapa yang lainnya menolaj tendensi ini, berangkat dari kebencian bertahun-tahun kami terhadap Stalinisme. Perkelahian faksi yang terjadi berakhir dengan bubarnya Love and Rage pada tahun 1998.

Saya tetaplah seorang anarkis, sosialis desentralis, dan penganut sosialisme-dari-bawah. Sebagau perjuangan kelas, platformis, anarkis revolusioner, saya dapat memiliki segala manfaat ysng kucari sebagai seorang Trotskis, sementara mempertahankan visi libertarian dari anarkisme. Saya tidak lagi mengadvokasikan “negara pekerja” (apapun itu artinya), namun saya mengadvokasikan federasi pekerja dan dewan-dewan populer (dalam tradisi Friends of Durruti Group dari revolusi Spanyol). Saya tidak lagi mengadvokasikan partai vanguard (Leninis), yang sasarannya untuk menguasai pekerja, namun saya mengadvokasikan organisasi revolusioner pekerja anarkis: Platformisme atau especifismo. (Topik-topik ini didiskusikan dalam esai dalam buku ini juga di buku ku, The Abolition of the State: Anarchist and Marxist Perspectives.) Sementara saya tidak lagi menyebut diriku seorang Marxis, saya menerima banyak ide-ide dari tradisi Marxis (seperti yang dapat dilihat dari esaiku). Hal ini khusudnya benar dari tradisi Marxis libertarian (sperti James C.L.R., dewan komunis, dsb.). Kini saya menganggap diriku srbagai seorang anarkis yang paham akan marxisme. Saya telah bergabung dengan Northeastern Federation of Anarchist-Communists (atau NEFAC) dan menulis untuk situs http://www.Anarkismo.net, website bagi tendensi internasional kami.

Tidak bisa dikatakan bahwa saya telah mengorbankan banyak hal dengan menjafi seorang revolusioner, dibandingkan dengan yang lain, khususnya mereka di negara lain yang telah meresikokan bertahun-tahun dipenjara atau bahkan meresikokan hidup mereka. Apa yang telah kukorbankan adalah bebetapa eaktu dan uang. Saya telah menjalani stres emosional, datang ke berbagai pertemuan-pertemuan yang membosankan, dan memiliki pengalaman yang sangat menggerakkan.saya bertemu dengan sebagian kecil penjahat dan beberapa manusia yang luar biasa. Saya masih percaya pada yang ideal, sebagai sesuatu yang dibutuhkan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran dan sebagai sesuatu yang benar secara moral. Terdapst cara ysng lebih baik bagi manusia untuk hidup dan bekerja bersama.

Referensi

  • Daum, Walter (1990). The life and death of Stalinism; A resurrection of Marxist theory. NY: Socialist Voice Publishing Co.

  • Draper, Hal (1992). Socialism from below (E. Haberkern, ed.). New Jersey/London: Humanities Press.

  • Draper, Hal (1977). Karl Marx’s theory of revolution; Vol. 1: State and bureaucracy. NY/London: Monthly Review Press.

  • Hobson, Christopher, & Tabor, Ronald D. (1988). Trotskyism and the dilemma of socialism. NY/Westport CT/London: Greenwood Press.

  • Taber, Ron (1988). A look at Leninism. NY: Aspect Foundation.

Anarkisme Sebagai Bentuk Demokrasi Ekstrim

Oleh Wayne Price

Setelah Marxisme dan sosialisme-negara secara umum terus didiskreditkan, terdapat tendensi kaum kiri untuk berpaling ke tradisi lain, yakni revolusi demokratik. Demokrasi dapat dipandang sebagai landasan oposisi terhadap otoritarianisme masyarakat kapitalis (Morrison 1995; Mouffe 1992; Trend 1996; Wood 1995). Salah satu karya berpengaruh menyimpulkan, “tugas dari kaum kiri, karenanya, bukanlah untuk meninggalkan ideologi demokratik liberal, tapi sebaliknya, memperdalam dan memperluasnya menuju arah demokrasi yang radikal dan plural …. Sosialisme merupakan salah satu komponen dari proyek untuk demokrasi radikal, bukan sebaliknya” (Laclau dan Mouffe, 1985, pp. 176, 178).

Continue reading “Anarkisme Sebagai Bentuk Demokrasi Ekstrim”

Definisi Minimal Organisasi Revolusioner

Sebab tujuan utama dari organisasi revolusioner adalah peruntuhan segala kelas-kelas yang ada dengan cara tanpa menghadirkan pemisahan baru didalam masyarakat, kami menganggap suatu organisasi itu bersifat revolusioner apabila ia secara konsisten dan efektif bergerak menuju perealisasian secara internasional dari kekuasaan abosolut dewan-dewan pekerja, seperti yang telah dibayangkan dalam pengalaman revolusi proletariat di abad ini.

Continue reading “Definisi Minimal Organisasi Revolusioner”