Beberapa Pemikiran Mengenai ‘Ketiadaan Kreatif (Creative nothing)’

Castanea Dentata

109

Ungkapan “ketiadaan kreatif (creative nothing)” adalah salah satu dari berbagai ungkapan menarik yang ada didalam karya besar Stirner, “The Unique and Its Property”(Der Einzige und sein Eigentum). Ungkapan tersebut hanya muncul dua kali, sekali dalam pengantar yang berjudul “I Have Based My Affair On Nothing”, dan lagi didalam bab terakhir yang berjudul “The Unique One”. Apa tepatnya ketiadaan kreatif itu, atau mungkin lebih singkatnya, apa yang dimaksud Stirner dalam istilahnya “ketiadaan kreatif”?

Contoh pertama dari “ketiadaan kreatif” yang menyertai salvo pembuka Stirner dalam kritiknya terhadap ide:

Jika Tuhan, jika kemanusiaan, seperti yang kau tegaskan, memiliki cukup konten didalam dirinya sendiri untuk menjadi semua seutuhnya bagi dirinya sendiri, maka kurasa aku lebih kurang memeilikinya, dan bahwa aku tidak akan memiliki komplen tentang ‘kekosonganku’. Aku bukanlah ketiadaan dalam hal kekosongan, tapi ketiadaan kreatif, ketiadaan yang darinya aku menciptakan segala hal sebagai pencipta.

Contoh kedua terdapat didalam kalimat terakhir dari bukunya:

Aku adalah pemilik dari kekuasaanku, dan saya menjadi demikian ketika saya mengetahui diriku sebagai sesuatu yang unik. Didalam keunikan sang pemilik kembali menuju ketiadaan kreatifnya, yang darinya ia lahir. Setiap esensi yang lebih tinggi dari saya, baik itu Tuhan, manusia, memperlemah perasaan keunikanku, dan hanya pudar sebelum terbitnya kesadaran ini. Jika saya mendasarkan urusanku pada diriku sendiri, yang unik, maka aku berdiri pada pencipta yang sementara, pencipta yang fana, yang mengkonsumsi dirinya sendiri, dan saya akan katakan: saya telah mendasarkan urusan saya diatas ketiadaan (nothing).

Stirner cukup cepat dalam menunjukkan di pengantar pembukanya, bahwa ketiadaan yang ia bicarakan bukanlah benar-benar “kekosongan”, atau ketiadaan dari sesuatu, atau kekosongan, tapi “ketiadaan” yangmana Stirner sendiri menciptakan segala hal sebagai pencipta. Apakah “ketiadaan” ini yang Stirner bicarakan — dan bagaimana Stirner menciptakan dirinya dari ketiadaan?

Ketiadaan yang Stirner bicarakan adalah ketiadaannya. Hal ini harus dipandang dalam konteks umum dari “The Unique and Its Property”, proyek Stirner, dan kritiknya. Stirner mengembangkan kritik bahwa determinasi konseptual, ideal dan simbolik yang individu gunakan untuk mengidentifikasi satu sama lain dan dirinya sendiri, sebenarnya tidaklah setara dengan sesuatu yang coba dideterminasi oleh determinasi simbolik.

Maksud Stirner adalah setiap determinasi konseptual yang digunakan untuk mengacu kepada kau atau mengidentifikasi kau, baik itu laki-laki, perempuan, orang Jerman, Cina, Amerika, putih, hitam, asia, dsb, hanyalah ide konseptual yang mencoba untuk mendeterminasi siapa dirimu, tapi “siapa” ini, tidaklah mungkin mengatakan atau mengkonseptualisasikan siapa Stirner atau siapa saja dari kita “sebenarnya”.

Jadi apakah aku ini sebenarnya?

Stirner menjawab: Ketiadaan. Kau bukanlah sesuatu pun, kau bukanlah kata, kau bukan konsep, bukan ide, kau lebih dari semua ini. Kau unik.

Kata apapun yang digunakan untuk mendeterminasi “apa” kau akan segera gagal, karena kau tidak dapat dideterminasi oleh kata. Kata selalu merupakan kata, kata bukanlah kau, dan tidak akan pernah menjadi kau. Kau adalah kau, dan kau adalah satu-satunya kau yang ada. Kritik Stirner menunjukkan bahwa ketika seseorang diterakan identitas konseptual, seseorang berharap untuk memenuhi peran dari identitas ini, bahwa kita bergerak menuju atau mencita-citakan konten konseptual dari identitas simbolik untuk dipertanyakan, dan bahwa kita menganggap ide semacam itu merupakan ide yang sakral.

Jadi ketika Stirner berbicara tentang “ketiadaan” dalam ungkapan “ketiadaan kreatif”, Stirner berbicara tentang dirinya sendiri, bukan sebagai konsep,tapi sebagai non-kosenp — sesuatu yang melampaui medan bahasa dan kata. Stirner adalah “ketiadaan”, karena tidak terdapat kata untuk mengekspresikan apa Stirner itu, atau apakah kita. Contoh yang paling baik untuk mengilustrasikan ini mungkin bisa didapatkan dari Stirner sendiri: Saya setara dengan saya.

Saya tidak setara dengan manusia atau indentitas konseptual apapun yang dapat kau gunakan untuk menjelaskan diriku. Aku selalu hanya diriku sendiri, kata lainnya hanyalah penjelasan, atribut dari aku, tapi tidak akan pernah dapat benar-benar “menjadi saya”. Jika kita kemudian meneliti contoh pertama dari ketiadaan kreatif, kita melihat bahwa Stirner menciptakan “segala hal” dari “ketiadaannya”, atau sebagaimana yang dikatakan Stirner: “Ketiadaan yang darinya diriku menciptakan segala hal sebagai pencipta.” Jika Stirner adalah ketiadaan secara konseptual, maka ia menciptakan dirinya dari eksistensi non-konseptualnya. Jason McQuinn menyamakan ini dengan: “. . . yang didalamnya pemahaman konseptual dilihat sebagaisesuatu yang dibangun diatas tingkat yang lebih fundamental dari pemahaman nonkonseptual (atau prakonseptual, badaniah, pemahaman perseptual atau yang dihidupi) sebagai sebuah proses dari pemahaman yang dihidupi nonkonseptual itu sendiri.”

Ketiadaan kreatifku, adalah pengalaman imanen non-konseptualku, sebagaimana yang kuhadapi dan kualami dalam interaksi momen-ke-komen dan pertemuanku dengan duniaku. Adalah dari pengalaman hidup non-konseptual inilah aku dapat menciptakan diriku secara konseptual, dan mengekspresikan diriku dalam cara konseptual (bahasa, tertulis, simbolik, dsb) yang kurasa paling baik untuk merepresentasikan pengalaman non-konseptualku dengan duniaku.

Jika kita beranjak “menuju ketiadaan kreatif”, sebagaimana yang ditulis Novatore, maka kita hanya butuh menyadari bahwa kita telah merupakan ketiadaan kreatif, bahwa setiap dari kita, dalam eksistensi yang kita hidupi dan alami yang unik kita, menciptakan diri kita dari ketiadaan kreatif di setiap momen, dan bahwa semua konsep dan ide tidak lebih dari kata bagi kita, yangmana dapat kita gunakan dan hancurkan semau kita. Mungkin inilah yang dimaksud Novatore ketika ia mengatakan:

“Karena setiap orang yang, mencari kekuatan batinnya, mengekstrak apa yang secara misterius tersembunyi didalamnya adalah bayangan yang memudarkan bentuk apapun dari masyarakat yang dapat eksis dibawah matahari!

Semua bentuk masyarakat gemetar ketika aristokrasi sinis gelandangan, yang tidak dapat diakses, yang unik, penguasa atas ideal dan menakluk dari ketiadaan dengan tegas berkenmbang. Jadi, mari, iconoclast, mari maju!

Langit firasat semakin gelap dan senyap!”

Diterjemahkan dari https://theanarchistlibrary.org/library/castanea-dentata-some-thoughts-on-the-creative-nothing-2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s