1968 : – Kronologi Kejadian di Prancis

FRANCE. Paris. Student demonstration. May 68.
FRANCE. Paris. Student demonstration. May 68.
Diterjemahkan dari beberapa bagian tulisan 1968 : – a chronology of events in France and internationally, Libcom.org (https://libcom.org/history/1968-chronology-events-France-%2526-internationally)

Sebuah kronologi singkat dari kejadian yang menyapu Prancis pada bulan Mei dan Juni tahun 1968. Berawal sebagai pemberontakan mahasiswa, kejadian tersebut berakhir dengan pendudukan pabrik secara massal dan pemogokan umum oleh 10 juta pekerja.

 

Mei ’68

Ini merupakan sebuah festival tanpa awal dan akhir; Aku melihat semua orang dan tidak siapapun, sebab setiap individu hilang dalam kerumunan yang sangat banyak; Aku berbicara dengan semua orang tanpa mengingat apa yang kukatakan maupun yang dikatakan oleh orang lain, sebab perhatian semua orang terserap disetiap langkahnya oleh objek dan kejadian baru, dan oleh berita yang tak terduga.

— Bakunin, Confessions

Mei 1968 telah menjadi legenda – sampai pada titik dimana ketika gelombang perjuangan baru terjadi di Prancis, para pemuda yang berjuang merasa tersinggung oleh pembandingan gerakan mereka dengan gerakan ’68 yang ditayangkan di media. pergerakan anti-CPE hanyalah salah satu contoh yang baru terjadi. Sekalipun begitu, Mei 1968 merupakan pergerakan yang paling maju dalam tahun istimewa gelombang pergerakan global pasca PD II. Harapan dan kemungkinan dikumandangkan – meski begitu, revolusi tidak kunjung tiba, walaupun ide tentang revolusi (meski seringkali dibatasi dan dirancukan) merupakan bagian dari gejolak umum dan atmosfer yang hari ini terasa luar biasa. Dalam berbagai hal, hari ini merupakan era konter-revolusi yang menyusul – hasil dari kekalahan perjuangan tahun 1960-70an, masa ketika ‘pertanyaan sosial’ mendominasi hidup diberbagai sisi.

Pemberontakan terjadi diberbagai tempat; disepanjang Eropa, khususnya di Prancis dan Italia – dan di Timur, Prague Spring. Di Meksiko terdapat pembantaian terhadap demonstran untuk memastikan perdamaian sosial, mengacu pada Olymics yang berlangsung pada tahun itu. Namun bagaimanapun, Mei 68 di Paris tetaplah menjadi ikon yang diasosiasikan dengan tahun tersebut.

Terdapat sesuatu yang ramai dibicarakan di tahun tersebut – dan kejadian yang memicu pemberontakan bulan Mei merupakan bagiannya. Namun bila kekacauan oleh mahasiswa di Strasbourg pada Desember 1966 dan Nanterre pada Maret 1968 dan inspiratornya, Situasionis internasional tidak dapat diklaim telah menjadi pemicunya, mereka masih dapat mengklaim bahwa mereka memiliki kontribusi atasnya; dan Situasionis Internasional dapat mengklaim bahwa mereka telah meramal lebih jelas ketimbang siapapun bahwa pemberontakan seperti itu mungkin untuk terjadi. SI juga mengklaim bahwa mereka telah menulis banyak leaflet dan tulisan yang terbaik selama dan setelah kejadian, termasuk slogan-slogan yang ditulis di tembok.

Namun tidak ada kelompok politik manapun yang dapat mengklaim gerakan ’68 – gerakan tersebut dipahami sebagai ledakan spontan dari massa, tidak dipicu oleh kekuatan eksternal manapun. (Meskipun salah satu kelemahannya adalah gerakan tersebut membiarkan serikat dan Partai Komunis untuk membatasi dan mengkotak-kotakkan gerakan). 10 juta pekerja berpartisipasi dalam sebuah pemogokan liar terbesar dalam sejarah – meski kebanyakan dari mereka membiarkan birokrat serikat untuk memegang kontrol; pendudukan tempat kerja digunakan oleh serikat untuk menjaga pekerja agar terpisah dari gerakan yang lebih besar dari pelajar dan pemuda lainnya. Mereka yang berkunjung ke tempat kerja yang diduduki untuk berhubungan dengan pekerja seringkali hanya berakhir dihadapan pagar yang terkunci, kerjaan pengurus serikat. Partai Komunis dan serikat terekspos sebagai agen konter-revolusi dan bagian dari tatanan dan bisnis seperti biasanya.

 

=========

Kronologi Kejadian di Prancis

 

22 Maret 1968; pelajar radikal dan lingkarannya menyerang bangunan administrasi di Nanterre University dan mengadakan pertemuan didalam ruangan dewan universitas membahas persoalan diskriminasi kelas dalam masyarakat Prancis dan birokrasi politis yang mengontrol pendanaan universitas.

Administrasi kampus memanggil polisi, yang kemudian mengepung universitas. Setelah membacakan keinginan mereka, mahasiswa meninggalkan bangunan tanpa masalah apapun. Nantinya, pemimpin dari apa yang dikenal sebagai “Gerakan 22 Maret” tersebut dipanggil oleh komisi disiplin universitas.

Kamis, 2 Mei; Menyusul beberapa bulan penuh konflik antara mahasiswa dan otoritas di University of Paris at Nanterre, administratur menutup universitas tersebut. Mahasiswa Universitas tersebut kemudian mengadakan pertemuan pada 3 Mei untuk memprotes penutupan dan ancaman skorsing kepada beberapa mahasiswa di Nanterre.

Pada 5 Mei, para mahasiswa radikal menduduki gedung administrasi dan mengadakan rapat umum. Polisi mengepung Nanterre, menutup universitas tersebut.

Senin 6 Mei; mahasiswa Nanterre bersatu di pusat Paris dan, setelah usikan yang terus-menerus dan penahanan lebih dari 500 orang, meledakkan lima jam kerusuhan dengan polisi. Serikat mahasiswa nasional, dan serikat pengajar universitas menyerukan aksi long march untuk memprotes serbuan polisi di Sorbonne. Pelarangan total untuk demonstrasi dan penutupan sebagian besar pusat Paris mendorong ribuan mahasiswa yang marah turun ke jalan. Dihadapan polisi yang semakin brutal, lebih dari 20,000 mahasiswa, pengajar dan pendukungnya melakukan long march menuju Sorbonne, yang masih dihadang oleh polisi, dihantam dengan pentungan polisi segera setelah mereka tiba. Setelah massa tercerai-berai, beberapa dari mereka mulai membangun barikade dari apa saja yang mereka pegang; “sungguh ribuan orang menolong…perempuan, pekerja, orang yang mengenakan baju tidur, rantai manusia sampai membawa batu, kayu, besi.” Yang lain melempar paving blok, memaksa polisi mundur untuk beberapa saat. Polisi kemudian merespon dengan gas air mata dan kembali menyerang massa. Ribuan mahasiswa kembali ditangkap. Setelah malam berakhir, 350 polisi terluka dalam bentrokan tersebut.

Di hari yang sama, serikat pelajar sekolah menengah mengeluarkan seruan dukungannya terhadap kekacauan tersebut. Keesokan harinya, mereka bergabung bersama mahasiswa, guru dan pekerja muda yang berkumpul di Arc de Triomphe untuk menuntut: (1) semua tuntutan pidana yang didapatkan oleh mahasiswa yang ditangkap harus dicabut, (2) polisi harus meninggalkan universitas, dan (3) otoritas membuka kembali Nanterre dan Sorbonne. Negosiasi kemudian buntu setelah mahasiswa kembali ke kampus mereka, setelah laporan keliru bahwa pemerintah telah sepakat untuk membuka kampus, yang akhirnya hanya menemukan polisi masih menduduki kampus.

Selasa 7 Mei; long march dengan massa sekitar 50,000 terjadi sebagai tanggapan atas brutalitas polisi, yang berubah menjadi bentrokan sehari penuh disepanjang jalanan kecil dan lorong di Latin Quarter Paris. Ketika polisi menyerang dengan gas air mata, demonstran membalas dengan bom molotov. Ketika disuruh untuk bubar, demonstran membalas dengan nyanyian “Panjang umur Komune Paris!”

Jumat 10 Mei; massa besar lainnya berkerumun di Rive Gauche. Ketika polisi anti huru-hara kembali menghalangi mereka untuk melintasi sungai, massa kembali membangun barikade, yang dimana polisi kemudian menyerang pada 2:15 di pagi hari setelah negosiasi kembali buntu. Konfrontasi tersebut, yang menghasilkan ribuan penangkapan dan korban luka, berlangsung hingga subuh keesokan harinya. Kejadian tersebut disiarkan di radio selama berlangsung dan dokumentasi kejadiannya ditayangkan di televisi keesokan harinya. Ada dugaan bahwa terdapat polisi yang berpartisipasi sebagai intel di kekacauan tersebut, dengan membakar mobil dan melemparkan bom molotov.

Setelah demonstrasi besar-besaran, menteri pendidikan memulai negosiasi. Tapi di jalanan, 60 barikade telah dibangun dan pekerja bergabung untuk mendukung mahasiswa.

Setelah protes yang masif, polisi dipaksa keluar dari Latin Quarter. Pelajar menyita seksi Paris yang telah ditutup polisi dan mendirikan pertemuan untuk menyebarkan perjuangan. Pendudukan dan demonstrasi segera tersebar diseluruh Prancis. Dari Sorbonne University (yang sebelumnya dikepung oleh polisi tapi diambil alih kembali oleh mahasiswa) muncul leaflet, proklamasi, telegram dan poster. Graffiti seperti “Realistislah, tuntut yang tidak mungkin!”, “Dibawah paving blok – pantai!” dan “Kekuatan bagi imajinasi!” ditulis di tembok-tembok. Terdapat sebuah tembok yang bertuliskan “pahatan yang paling indah adalah paving blok yang dilemparkan ke kepala polisi!”

Parti Communiste Français (PCF) yang enggan berpartisipasi, bersama dengan federasi serikat utama – Confédération Générale du Travail (CGT) dan Force Ouvrière (CGT-FO) – menyerukan sebuah pemogokan umum sehari penuh dan demonstrasi pada Senin 13 Mei.

Senin, 13 Mei; lebih dari jutaan orang menyesaki jalanan sepanjang Paris; polisi dapat dikatakan tidak nampak. Perdana menteri Georges Pompidou secara personal mengumumkan pembebasan tahanan dan membuka kembali Sorbonne. Bagaimanapun, gelombang besar pendudukan tidak mereda. Faktanya, para demonstran malah menjadi lebih geram.

Ketika Sorbonne dibuka kembali, mahasiswa mendudukinya dan mendaklarasikannya sebagai ‘universitas rakyat’ otonom. Sekitar 400 komite aksi umum didirikan di Paris, termasuk Komite Pendudukan Sorbonne (Occupation Committee of the Sorbonne), dan ditempat lain dalam seminggu yang menyusul yang menanggapi keluhan atas pemerintah dan masyarakat Prancis.

Selasa 14 Mei; pemogokan duduk dimulai di pabrik Sud Aviation sekitar kota Nantes, dimana pekerja mengunci para managemen didalam kantor mereka. Di hari-hari berikutnya, pekerja lain mulai mengadakan aksi serupa di pabrik Renault sekitar Rouen, yang menyebar sampai kompleks manufaktur Renault di Flins, Seine Valley dan pinggiran kota Paris, Boulogne-Billancourt.

Rabu 15 Mei; malam itu, Teater Nasional di Paris disita dan dijadikan tempat rapat permanen untuk debat-debat massa.

Kamis 16 Mei; sampai di hari ini, pekerja telah menduduki sekitar 50 pabrik.

Jumat 17 Mei; 200,000 pekerja mogok pada hari ini.

Sabtu 18 Mei; dua juta pekerja mogok.

Senin 20 Mei; selama minggu ini jumlah pekerja yang mogok mencapai sepuluh juta, atau sekitar dua-per-tiga dari tenaga kerja Prancis.

4,000 pelajar yang menduduki Sorbonne University turun mendukung para pemogok di Renault. 10,000 polisi disiapkan sebagai back-up, pimpinan serikat mengunci pagar pabrik dan Partai Komunis mendesak untuk menghentikan pemberontakan.

Para pemogok tidak dipimpin oleh pergerakan serikat; kontras dengan hal ini, CGT mencoba untuk mengakuisisi kondisi militan ini dengan memasukkannya kedalam perjuangan demi peningkatan gaji dan tuntutan ekonomi lainnya. Pekerja mengajukan agenda yang lebih luas, politis dan radikal, menuntut pengusiran pemerintahan dan presiden De Gaulle dan berusaha, dalam beberapa kasus, untuk menjalankan pabrik secara swa-kelola. ketika pimpinan serikat dagang menegosiasikan 35% peningkatan gaji minimum, 7% peningkatan gaji bagi pekerja lainnya, dan setelah gaji normal untuk beberapa saat bagi para pemogok, pekerja yang menduduki pabrik tetap menolak untuk kembali bekerja dan mencemooh pimpinan serikat, meskipun kesepakatan ini lebih baik ketimbang apa yang mereka bisa raih sekitar sebulan sebelumnya.

24 Mei; Bursa Efek Paris (Paris Stock Exchange) dibakar oleh demonstran.

Dengan tumbuh dan berlanjutnya demonstrasi jalanan dan pendudukan, negara bersiap untuk menggunakan kekuatan brutal untuk menghancurkan pemberontakan. Jenderal tentara menyiapkan 20,000 serdadu untuk menjaga Paris dengan kekuatannya dan polisi telah menduduki pusat-pusat komunikasi seperti stasiun TV dan kantor pos. Pimpinan Partai Komunis membantu untuk mengusahakan agar para pemogok kembali bekerja. Dalam kasus Metro, mereka (Partai Komunis) mengunjungi satu stasiun dan memberitahu pekerja bahwa stasiun lain telah dibuka kembali, lalu mereka berkeliling ke semua stasiun untuk mengabarkan hal yang serupa.

Jumat 25 Mei dan Sabtu 26 Mei, kesepakatan Grenelle ditandatangani di Kementerian Urusan Sosial. Dalam krsepakatan ini, pemerintah menyediakan peningkatan gaji minimum sebesar 25% dan gaji rata-rata sebesar 10% . Tawaran ini ditolak oleh pekerja karena dianggap tidak memadai dan pemogokan tetap berlanjut.

Rabu 30 Mei; sekitar ratusan ribu demonstran (400,000 sampai 500,000—lebih banyak dari 50,000 yang diekspektasikan oleh polisi) menyesaki jalanan Paris.

Kamis 31 Mei; sementara pemerintah terlihat semakin dekat menuju kehancurannya, de Gaulle tetap kukuh, meski ia harus pergi ke tempat persembunyian dan mempertimbangkan untuk meninggalkan jabatannya. Setelah diyakinkan bahwa ia memiliki unit militer yang cukup loyal yang dapat dimobilisasi untuk menyokongnya jika sudah tersudut, ia  mengabarkan di radio (layanan televisi nasional telah diduduki) tentang pembubaran Majelis Nasional, dengan pemilu yang menyusul pada tanggal 23 Juni. Ia memerintahkan pekerja untuk kembali bekerja, mengancam bahwa akan menyerukan keadaan gawat darurat jika perintahnya diabaikan.

Selasa 5 Juni; sebagian besar pekerja perlahan kembali bekerja atau diusir dari pabrik oleh polisi. serikat pelajar nasional menyerukan untuk menghentikan demonstrasi jalanan. Pemerintah melarang beberapa organisasi kiri.

6 Juni; polisi mengambil ulang Sorbonne. De Gaulle menang dalam pemilihan legislatif yang diadakan kemudian di bulan Juni, dan krisis kemudian berakhir.

===========

And so the spirit goes on..

“Realistis lah, tuntut yang tidak mungkin!”

Advertisements

2 thoughts on “1968 : – Kronologi Kejadian di Prancis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s