Anti-Oedipus

Dari buku The Deleuze and Guattari Dictionary, EUGENE B. YOUNG
WITH GARY GENOSKO AND JANELL WATSON

L’Anti-OEdipe. Capitalisme et schizophrénie, avec Félix Guattari (1973)

Menyusul pertemuan awal mereka setelah kejadian Mei 1968, Deleuze dan Guattari mulai mengerjakan volume pertama dari proyek Capitalism and Schizophrenia dengan sungguh-sungguh melalui pertukaran reguler surat-surat, draf-draf, dan pertemuan. Berakar pada maraknya hasrat sosial yang muncul dari pergerakan mahasiswa, serta kegagalan dan bencana yang menyusul pada masa kebangkitan gerakan tersebut, Anti-Oedipus betul-betul adalah sebuah manifesto perjuangan revolusioner, dan Deleuze sendiri nantinya berkomentar bahwa karya ini ditulis bagi audiens yang berusia diantara 14 sampai 21 tahun. Namun, buku ini juga merupakan analisis sistematis mengenai hasrat dan mengandung kritik atas konsep psikoanalitik mengenai ketidaksadaran dan mengenai institusi-institusi sosial dan politik yang berasal dari masyarakat borjuis kontemporer. Berdasar pada tesis utama yang diajukan di buku ini, ketidaksadaran bukanlah teater bagi representasi figural dari fantasi individual dan sosial, juga bukan proyeksi atas keluarga diatas psikologi individual, tapi lebih kepada sebuah pabrik. Jadi, konsep tentang ketidaksadaran didefinisikan, bertolak belakang dengan interpretasi serupa psikoanalitik dan strukturalis, dalam istilah produktif dan terutama “machinic”. Adalah dalam artian inilah frasa ‘desiring-machine’ digunakan, sejak bab paling pertama, sebagai cara yang membebaskan dan secara potensial revolusioner untuk memproduksi ketidaksadaran secara sosial, politik, dan kultural sebagai dorongan pembebasan positif dari rezim penandaan yang represif dari Oedipus dan keluarga, yang mana pertama-tama memerangkap hasrat dan menyebabkan ekspresinya diblokir oleh rezim penandaan yang mengubahnya menjadi ekspresi individual dari fantasi tanpa makna kolektif. (Karenanya, salah satu kata kerja kunci yang digunakan seluruhnya adalah rabattement, yang mana berarti ‘untuk mengurangi’ atau  untuk ‘menurunkan,’ dan memikul kiasan jenaka dengan memiliki wolnya ditarik kebawah didepan mata seseorang.) Konsekuensinya, juga terdapat sintesis implisit antara konsep psikoanalisis dan marxisme, khususnya dari Grundrisse, maupun konsep yang ditarik dari antropologi budaya dari Pierre Castres. Ini secara khusus menjadi bukti di bab ketiga, ‘Barbarians, Savages, dan Civilized Men,’ yang menghadirkan versi baru yang unik dari ‘sejarah universal,’ atau ‘sejarah masyarakat kapitalis,’ dari perspektif kritik imanen atas Oedipus dalam rangka, sebagaimana yang mereka klaim, ‘untuk menggulingkan teater representasi kedalam tatanan menghasrati-produksi [yang nyata]’. Kesimpulannya mengandung pendahuluan atas metode ‘schizoanalysis’, istilah yang diciptakan Guattari sebagai penangkal familialism yang inheren dalam psikoanalisis Freudian dan mazhab Lacanian. Berdasar pada tesis utama, hasrat itu machinic dan analisis atas hasrat berikut dari premis sederhana ini dalam memperlakukan salah satu dari berbagai ekspresinya dengan melihat ‘bagaimana ia bekerja’ (daripada ‘apa artinya’). Tujuan dari schizoanalysis adalah untuk memperlihatkan, dalam setiap kasus atau dalam setiap formasi sosial, bagaimana hasrat diorganisasikan berdasar pada kutub paranoiac dan represif atau kutub revolusioner dan berpotensi schizoid dari investasi ketidaksadaran; atau, dalam semua kasus, adlaah menghasrati-produksi selalu setara dengan sosial-produksi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s