Beberapa Wajah Psikoanalisis

Excerpt from Psychoanalisis Lecture by Stillpoint Spaces (https://www.youtube.com/channel/UCZHtX9AiGWNycfM_-W7NIPg)

Psikoanalisis adalah:

1. Pengobatan atas gangguan mental

Apa yang psikoanalis lakukan?

  • -Menyediakan ruang yang aman untuk eksplorasi diri, dimana tidak dapat ditemukan diluar klinik
  • -Menyediakan model untuk refleksi diri, yang dipelajari pasien dari cara psikoanalis merefleksikan dirinya
  • -Menanggung/ bertahan dari serangan
  • -Memahami motivasi tidaksadar, sebab terdapat motivasi dari alam ketidaksadaran kita yang mempengaruhi perilaku kita tanpa kita ketahui
  • -Memahami pola-pola masa lalu di masa sekarang. Psikoanalis mencoba mencari tahu bagaimana pasien mengatur hubungan sosialnya, mengekspresikan emosinya, melekat pada orang lain, cara mereka berpikir, lalu mengaitkannya berdasarkan pengalaman lebih awalnya. Untuk akhirnya menemukan diri otentik kita melalui pemisahan antara hal-hal yang kita ambil dari diri orang lain atau hal-hal yang kita gunakan dalam rangka bertahan dari serangan tertentu.
  • -memahami perasaan irasional mengenai sang terapis

Bagaimana cara mengobatinya?

  • 50 menit per sesi, 10 menit jeda, lalu lanjut 50 menit, dst..
  • Mendudukkan pasien di sofa
  • Terapis mengatakan kepada pasien, “Katakan apa saja yang lewat di kepala anda, tidak peduli apabila menurutmu tidak relevan, memalukan atau bodoh .. “
  • Terapis sebagai layar kosong tanpa suara yang secara emosional tidak terlibat, seperti dokter bedah.

 

Advertisements

Seruan Pelajar Untuk Pendudukan atas Pabrik-pabrik

kamerad,

Mengingat bahwa Sud-Aviation factory di Nantes telah diduduki selama dua hari oleh para pekerja dan pelajar kota tersebut,

dan bahwa hari ini pergerakan sudah menyebar ke beberapa pabrik (Nouvelles Messageries de la Presse Parisienne di Paris, Renault in Île Seguin, dll.),

KOMITE PENDUDUKAN SORBONNE menyerukan pendudukan segera atas semua pabrik di Prancis dan pembentukan dewan pekerja.

Kamerad, sebarkan dan lipatgandakan seruan ini secepat mungkin.

Sorbonne, 16 Mei 1968, 3:30 pm

Oedipus Complex

Sigmund Freud menggunakan nama “Oedipus complex” untuk menjelaskan tentang asal-usul neurosis tertentu dalam masa kanak-kanak. Hasrat ini termasuk kecemburuan terhadap ayah dan keinginan tidaksadar atas kematian orang tua, maupun hasrat tidaksadar untuk bersetubuh dengan ibu. Oedipus sendiri, sebagaimana yang digambarkan dalam mitos, tidak menderita neurosis ini – paling tidak, tidak terhadap Jocasta, yang baru ia temui ketika ia dewasa (jika segala sesuatu, perasaan seperti itu akan diarahkan pada Merope – tapi tidak terdapat tanda-tanda tentangnya). Freud beralasan bahwa audiens Yunani kuno, yang mendengar cerita tersebut diceritakan ataupun menonton drama yang didasarkan atasnya, mengetahui bahwa Oedipus sebenarnya membunuh ayahnya dan menikahi ibunya; cerita tersebut terus-menerus diceritakan dan dimainkan, karenanya, merefleksikan keasyikan dengan tema tersebut.

Anti-Oedipus

Dari buku The Deleuze and Guattari Dictionary, EUGENE B. YOUNG
WITH GARY GENOSKO AND JANELL WATSON

L’Anti-OEdipe. Capitalisme et schizophrénie, avec Félix Guattari (1973)

Menyusul pertemuan awal mereka setelah kejadian Mei 1968, Deleuze dan Guattari mulai mengerjakan volume pertama dari proyek Capitalism and Schizophrenia dengan sungguh-sungguh melalui pertukaran reguler surat-surat, draf-draf, dan pertemuan. Berakar pada maraknya hasrat sosial yang muncul dari pergerakan mahasiswa, serta kegagalan dan bencana yang menyusul pada masa kebangkitan gerakan tersebut, Anti-Oedipus betul-betul adalah sebuah manifesto perjuangan revolusioner, dan Deleuze sendiri nantinya berkomentar bahwa karya ini ditulis bagi audiens yang berusia diantara 14 sampai 21 tahun. Namun, buku ini juga merupakan analisis sistematis mengenai hasrat dan mengandung kritik atas konsep psikoanalitik mengenai ketidaksadaran dan mengenai institusi-institusi sosial dan politik yang berasal dari masyarakat borjuis kontemporer. Berdasar pada tesis utama yang diajukan di buku ini, ketidaksadaran bukanlah teater bagi representasi figural dari fantasi individual dan sosial, juga bukan proyeksi atas keluarga diatas psikologi individual, tapi lebih kepada sebuah pabrik. Jadi, konsep tentang ketidaksadaran didefinisikan, bertolak belakang dengan interpretasi serupa psikoanalitik dan strukturalis, dalam istilah produktif dan terutama “machinic”. Adalah dalam artian inilah frasa ‘desiring-machine’ digunakan, sejak bab paling pertama, sebagai cara yang membebaskan dan secara potensial revolusioner untuk memproduksi ketidaksadaran secara sosial, politik, dan kultural sebagai dorongan pembebasan positif dari rezim penandaan yang represif dari Oedipus dan keluarga, yang mana pertama-tama memerangkap hasrat dan menyebabkan ekspresinya diblokir oleh rezim penandaan yang mengubahnya menjadi ekspresi individual dari fantasi tanpa makna kolektif. (Karenanya, salah satu kata kerja kunci yang digunakan seluruhnya adalah rabattement, yang mana berarti ‘untuk mengurangi’ atau  untuk ‘menurunkan,’ dan memikul kiasan jenaka dengan memiliki wolnya ditarik kebawah didepan mata seseorang.) Konsekuensinya, juga terdapat sintesis implisit antara konsep psikoanalisis dan marxisme, khususnya dari Grundrisse, maupun konsep yang ditarik dari antropologi budaya dari Pierre Castres. Ini secara khusus menjadi bukti di bab ketiga, ‘Barbarians, Savages, dan Civilized Men,’ yang menghadirkan versi baru yang unik dari ‘sejarah universal,’ atau ‘sejarah masyarakat kapitalis,’ dari perspektif kritik imanen atas Oedipus dalam rangka, sebagaimana yang mereka klaim, ‘untuk menggulingkan teater representasi kedalam tatanan menghasrati-produksi [yang nyata]’. Kesimpulannya mengandung pendahuluan atas metode ‘schizoanalysis’, istilah yang diciptakan Guattari sebagai penangkal familialism yang inheren dalam psikoanalisis Freudian dan mazhab Lacanian. Berdasar pada tesis utama, hasrat itu machinic dan analisis atas hasrat berikut dari premis sederhana ini dalam memperlakukan salah satu dari berbagai ekspresinya dengan melihat ‘bagaimana ia bekerja’ (daripada ‘apa artinya’). Tujuan dari schizoanalysis adalah untuk memperlihatkan, dalam setiap kasus atau dalam setiap formasi sosial, bagaimana hasrat diorganisasikan berdasar pada kutub paranoiac dan represif atau kutub revolusioner dan berpotensi schizoid dari investasi ketidaksadaran; atau, dalam semua kasus, adlaah menghasrati-produksi selalu setara dengan sosial-produksi.

Deleuze – Guattari

Translated from Wikipedia (https://en.wikipedia.org/wiki/Deleuze_and_Guattari)

image

Gilles Deleuze, seorang filsuf Prancis, dan Félix Guattari, seorang psikiater dan aktivis politik Prancis, menulis beberapa karya bersama-sama (disamping keduanya memiliki karir independen yang terkemuka)

Karya bersama mereka adalah Capitalism and Schizophrenia, Kafka: Toward a Minor Literature dan What is Philosophy.

Capitalism dan Schizophrenia

karya dengan dua volume, terdiri dari Anti-Oedipus (1972) dan A Thousand Plateaus (1980), Capitalism and Schizophrenia memiliki pengaruh yang besar, dan, dengan kritiknya atas konformitas psikoanalitik, menandai langkah signifikan dalam evolusi post-strukturalisme. Karya ini menekankan sifat nomadik dari pengentahuan dan identitas, yang dapat dilihat contohnya dalam kepusingan penulis atas kontinuitas antara manusia dan binatang, juga menempatkannya diantara tulisan-tulisan formatif posmodernisme. Stark dan Laurie berpendapat bahwa Anti-Oedipus juga “merespon kegagalan pergerakan revolusioner marxis untuk membersihkan dirinya dari keburukan yang mereka ingin gulingkan, termasuk prasangka, dogmatisme, nasionalisme dan hirarki kekuasaan”.

Foucault dalam pengantarnya atas volume pertama menyebutnya “sebuah buku tentang etika, buku tentang etika pertama yang ditulis di Prancis dalam kurun waktu yang cukup lama”. Fredric Jameson memujinya karena memperkenalkan ulang aliran sejarah kedalam dunia statis strukturalisme.

Perayaan buku tersebut atas pra-oedipal juga dilihat sebagai usaha membuat sketsa strategi untuk bertahan hidup dibawah modernitas tahap lanjut kapitalisme.

Kafka

Tidak senang dengan perlakuan para sarjana terhadap karya Franz Kafka, Deleuze dan Guattari menulis Kafka: Toward a Minor Literature dalam rangka untuk menyerang analisis terdahulu tentang Kafka yang mereka lihat membatasi Kafka “dengan meng-Oedipus-kan dan menghubungkannya dengan narasi ayah-ibu—atau dengan mencoba membatasinya dengan spekulasi teologis-metafisis atas kerusakan semua dimensi politis, etis, dan ideologi yang mengalir sepanjang karyanya”.

Dipublikasikan pada tahun 1975, buku mereka berusaha memasuki karya-karya Kafka melalui mode analitik  yang disengajai tidak tepat sebagaimana aliran dan intesitas, tanpa beban yang tidak penting mengenai tipe analisis yang menghubungkan karyanya dengan kategori-kategori genre, tipe, mode, atau gaya terdahulu atau yang telah ada. Jenis analisis yang terakhir ini berhubungan dengan apa yang akan disebut oleh Deleuze dan Guattari sebagai literatur “mayor” atau dominan, darimana mereka melihat Kafka muncul sebagai suara orang minoritas termarjinalkan yang menyediakan ulang bahasa mayor bagi tujuannya sendiri, dan menekankan dorongan kolektif diatas “master literatur” individual.

Karya Lain

Deleuze dan Guattari juga menulis What is Philosophy? bersama-sama, yang mana membentang dari David Hume, mereka membangun pandangan filosofis yangmana didasari atas pengalaman dan dunia kuasi-virtual.

Personal/ Politis

Guattari menjelaskan bagaimana kolaborasinya dengan Deleuze lahir setelah kejadian May 1968 di Prancis, sebagaimana energi tambahan terlahir dalam tulisan-tulisannya ketika berkolaborasi.

Kritikan

Selain kritik-kritik tentang penyalahgunaan kontemporer atas ide-ide Deleuze dan Guattari, kritikan filosofis telah dilakukan terhadap anti-hegelianisme dan imajiner “fraternal” Deleuze dan Guattari. Mengomentari hubungan antara antropologi dan politik dalam Anti-Oedipus, Timothy Laurie juga mencatat bahwa “Deleuze dan Guattari terjatuh pada dogma metodologis yang meluruskan feminitas dengan reproduksi dan maskulinitas dengan politik dan/atau ikatan pria primordial.’”