Dari Pemogokan Wildcat sampai Swa-Kelola Total: I. Masyarakat Subsisten

Raoul Vaneigem

Pengantar penerjemah

Pendahuluan

I. Masyarakat Subsisten

II. ABC Revolusi

III. Swa-Kelola Total

image

PENDAHULUAN

 

Kami mau melihat kenyataan dalam bentuk
hasil-hasil praktis 

HALAMAN-HALAMAN BERIKUT ditujukan secara ekslusif kepada
pekerja revolusioner. Kepada pekerja, Karena tidak ada selain mereka yang secara langsung terlibat dalam proses
produksi yang dengan posisinya itu dapat menghancurkan ikatan dominasi
komoditi. Kepada pekerja revolusioner,
Karena pekerja yang tetap patuh kepada serikat pekerja atau partai politik
tidak lebih daripada budak-budak bodoh, bekerja untuk memperkuat system yang
ada yang menindas mereka. 

 Selama lebih dari sepuluh tahun terakhir, pemogokan liar
yang semakin sering terjadi dan semakin radikal telah menggoncangkan dominasi
borjuis-birokratik, tapi belum sukses untuk menggulingkannya. Gerakan
insureksioner yang laten ini telah membuat kaum proletar sadar akan dominasi
kapitalisme yang kian meningkat dalam semua aspek kebiasaan dan sifat manusia
itu sendiri. Hal ini juga membuatnya sadar akan kekuatannya sendiri dan
kelemahan inheren dari system komoditi dan negara. 

 Didalam pemberontakan ini kita juga dapat melihat awal dari
gaya hidup yang berada dalam posisi yang berbahaya bagi survival yang sekarang merupakan kemiskinan dunia yang terbagi
secara luas. Pemberontakan ini terdiri dari reaksi-reaksi fragmenter dan
seringkali membingungkan, muncul dari hasrat spontan untuk menghancurkan kerja,
pengorbanan, ekonomisme, kebosanan, paksaan, pemisahan, dan spectacle; tapi setersebar bagaimanapun,
seterisolasi bagaimanapun bentuk reaksi ini, mereka menyembunyikan pondasi bagi
masyarakat baru yang radikal: masyarakat swa-kelola total.

Teori revolusioner swa-kelola total telah berusaha keras
untuk memberikan koherensi yang lebih besar kepada seluruh arah reaksi-reaksi
pemberontakan ini. Teori ini sekarang telah berkembang sampai pada titik dimana
ia harus memasukkan kembali gerakan yang darinya ia muncul, gerakan
insureksioner pekerja. 

 Mulai dari sekarang, keberhasilan atau kegagalan swa-kelola
total bergantung pada lapangan, pabrik, Gudang, toko, jaringan transportasi
yang memegang nasib komoditi di dalamnya. Hal-hal ini dapat mengubah
hasil-hasil bumi dan industri menjadi keuntungan bagi semua orang, ataukah melanjutkan
bekerja melawan diri mereka sendiri dan semua orang lain dengan membiarkan
kapitalisme melanjutkan penyebaran polusinya. 

 Perubahan yang menentukan sudah mulai memiliki bentuknya.
Kita hanya butuh mempercepatnya dengan menyediakannya koherensi efetivitas dan
praktis yang lebih besar. Untuk menunggu lebih lama lagi akan bernilai
kejahatan, atau lebih buruknya, kesalahan historis, yang mana seluruh air di
lautan pun tidak akan pernah cukup untuk menghapusnya. 

 Kondisi sekarang menguntungkan. Teknologi yang canggih ada
di sisi kita – jika kita mengubahnya untuk melawan mereka yang mengeksploitasi
kita, semuanya menjadi mungkin dan tidak ada yang bersifat utopis. Tak pernah
sebelumnya survival merajalela seluas ini, dan tak pernah sebelumnya ia
memancing perlawanan sebanyak ini. Tak pernah sebelumnya negara memiliki lebih
banyak sarana pemalsuan di sisinya, dan tidak pernah sebelumnya lebih berbahaya
bagi kenyataan yang paling sederhana. Tidak pernah sebelumnya system komoditas sepenuhnya
mengkondisikan orang-orang dengan uang, kekuasaan, dan tampilan, dan tidak
pernah sebelumnya orang-orang bangkit untuk menghancurkannya dengan keadaan
yang sadar, marah, kreatif, dan penuh gairah. 

 Jika, setelah semua ini, pekerja revolusioner tidak
memutuskan untuk menjalankan hidup mereka sendiri dan mendorong keputusan
mereka untuk mengadakan pergolakan sosial melalui pemogokan liar dan pengambilalihan pabrik, mereka yang
tidak memiliki maksud seperti itu akan mengubah swa-kelola total menjadi satu
lagi kebohongan dalam surge ide-ide, menjadi messiah lainnya yang diturunkan ke muka bumi untuk berkhotbah
kepada organisasi proletar, dalam tradisi terbaiknya Lenin, Trotsky, Mao, García
Oliver, Castro, Guevara, dan birokrat-birokrat lainnya. 

 Sudah terlalu lama sejak revolusi masih tertahan di pintu
gerbang benteng-benteng kebosanan kita, kota penuh polusi kita, istana penuh
tambalan kita. Kita sudah terlalu lama tunduk kepada kerja, pemimpin, waktu
mati, penderitaan, kebohongan yang menghina, polisi, bos, pemerintah.
Ketidaksabaran yang ditekan terlalu lama berakhir dengan menimbulkan kekerasan
buta, terorisme, penghancuran diri sendiri. Kita memiliki hal-hal yang lebih
baik untuk dikerjakan demi menyelamatkan diri kita dari masyarakat yang sedang
membunuh dirinya sendiri daripada untuk menjadi kamikaze melawan resimen polisi, uskup, jendral, dan negarawan.
Namun berlalunya setiap detik yang tidak hidup adalah lebih buruk daripada
kematian. Perjuangan penghabisan kita sudah berlangsung terlalu lama. Kita
butuh kemenangan sekarang! 

 Tulisan berikut adalah usaha untuk merespon masalah-masalah
yang akan dihadapi dalam transisi dari masyarakat kelas menuju masyarakat
swa-kelola total. Bagian pertama dimulai dengan pernyataan yang paling meluas
mengenai ketidakpuasan dan menekankan pada signifikansinya, sebab adalah
esensial bahwa hal-hal yang familiar menjadi lebih dikenali jika kita
menginginkan apa yang timbul dari hidup keseharian untuk kembali kepadanya
dalam rangka untuk memperkayanya secara permanen. Bagian kedua menghitung
langkah-langkah tertentu yang harus diambil di berbagai tahap aksi-aksi pekerja
(terbatas pada sabotase atau detournement, selama pemogokan liar; dan selama
pengambilalihan kantor-kantor). Bagian ketiga menghadirkan sebuah contoh, seperti
apakah swakelola total itu, dan contoh masyarakat yang didasrkan atas pemuasan
setiap hasrat dan gairah individu.

Catatan seperti ini mau tidak mau mengandung kelemahan,
keragu-raguan, dan bahkan kesalahan, tapi sifat radikalnya tidak dapat disangkal.
Catatan seperti ini pantas didiskusikan, tapi tidak oleh
intelektual-intelektual brengsek yang hanya mampu untuk mengajukan
bantahan-bantahan abstrak. Satu-satunya tujuan dari catatan seperti ini adalah
untuk diperdebatkan on the spot, di
tempat kerja pada momen-momen yang paling eksplosif. Pada momen itu, ketika isi
dari catatan seperti ini dicoba, diperbaiki, dan dikomunikasikan dengan
menggunakan semua sarana yang sekarang dimonopoli oleh bos, manajer, dan
birokrat serikat pekerja (teleks, mesin fotokopi, radio, system PA, toko
percetakan), maka catatan tersebut akan memberikan kepaduan bagi semangat
insureksioner dan memberi jalan pintas sehingga dapat menghindari keragu-raguan
dan penundaan yang telah seringkali terbukti fatal pada saat-saat awal dari
revolusi. Dengan demikian, catatan ini akan melemparkan ke wajah negarawan
suatu alasan dalam sejarah yang
paling mereka takuti bila diungkapkan oleh kaum proletar: “Inilah masyarakat
yang akan kami bangun. Inilah sebabnya kenapa kami mengincar kehancuranmu.”

1. MASYARAKAT SUBSISTEN

PERNAHKAH KAU, sekali saja, memiliki hasrat
untuk terlambat pergi bekerja atau menjauh dari urusan pergi bekerja tepat
waktu? Dalam hal ini, kau telah menyadari bahwa: 

 a) Waktu yang diigunakan untuk bekerja adalah
waktu yang hilang dua kali lipat, sebab waktu kita menjadi terbuang-buang dua
kali lipat – sebab waktu tersebut mungkin lebih baik untuk digunakan bercinta,
atau menghayal, melakukan kesenangan atau hobi masing-masing: waktu yang bebas
bagi orang-orang untuk menghabiskan apapun yang diharapkan; sebab waktu membuat
kita lelah secara fisik dan nervously. 

 b) Waktu yang digunakan untuk bekerja memakan sebagian
besar hidup seseorang, karena waktu tersebut menentukan waktu “bebas”
seseorang juga, yakni waktu yang dihabiskan untuk tidur, bergerak, makan, atau
menghibur diri. Hal ini dapat kita rasakan disetiap bagian dari kehidupan
sehari-hari kita masing-masing dan waktu tersebut mereduksi kehidupan kita
sehari-hari menjadi sekedar rentetan momen dan tempat yang sama-sama memiliki
pengulangan kosong dan terus menggerus kehidupan nyata secara umum. 

 c) Waktu yang dihabiskan untuk memenuhi
kewajiban bekerja merupakan komoditas. Di mana terdapat komoditas, maka
terdapat pula tenaga kerja wajib dan hampir setiap kegiatan berubah sedikit
demi sedikit menyerupai tenaga kerja wajib: kita memproduksi, mengkonsumsi,
makan dan tidur untuk majikan, atau pemimpin, atau negara, atau untuk sistem
komoditi universal. 

 d) Semakin kurang pekerjaan, semakin banyak
kehidupan. 

 Jadi kau lihat,
sadar atau tidak kau sudah memperjuangkan bentuk masyarakat yang akan menjamin
hak setiap orang untuk membuang waktu dan ruang masing-masing: dan demi membangun
keseharian yang berisi kehidupan yang kita pilih sendiri.

  

 2. Tidakkah kau pernah, sekali saja, memiliki
hasrat untuk tidak bekerja lagi, tanpa orang lain yang bekerja untukmu? Dalam
hal ini, kau telah menyadari bahwa: 

a) Bahkan jika pekerjaan wajib hanya bertujuan
untuk memproduksi hal-hal yang berguna seperti pakaian, makanan, alat-alat,
fasilitas dan lain sebagainya, pekerjaan wajib tersebut tetaplah menindas di
setiap bagiannya, sebab: pekerja tetap akan dirampok hasil tenaga kerjanya dan ditundukkan
dibawah hukum yang sama yang juga mengatur para pengejar keuntungan dan penguasa;
pekerja masih tetap harus menghabiskan waktu sepuluh kali lebih lama di tempat
kerja sebagaimana mereka juga memerlukan sebuah organisasi kreativitas yang
menarik untuk menempatkan seratus kali lebih banyak produk di tempat sampah
semua orang. 

 b) Dalam sistem komoditas yang mendominasi di
mana-mana, tujuan kerja wajib tidaklah, sebagaimana yang mereka ingin kita
percayai, untuk memproduksi barang-barang yang berguna dan cocok untuk semua
orang, melainkan hanya untuk memproduksi komoditas, terlepas dari apakah komoditas
tersebut mungkin polutan yang berguna ataupun tidak berguna. Komoditas tidak
memiliki tujuan apapun selain untuk mempertahankan profit dan kekuasaan kelas
penguasa. Di bawah sistem seperti itu, semua orang bekerja tanpa akhir dan menjadi
sadar akan hal ini. 

 c) Dengan mengakumulasi
dan mengganti komoditas, pekerjaan wajib hanya meningkatkan kekuatan bos,
birokrat, pemimpin dan ideologi sehingga ia merupakan hal yang menjijikkan bagi
pekerja. Setiap kita berhenti bekerja, jalan untuk menjadi diri kita kembali
dan membantah mereka yang mencegah kita untuk menjadi diri kita sendiri menjadi
terbuka. 

 d) pekerjaan wajib hanya memproduksi komoditas.
Setiap komoditas tidak dapat terlepas dari mereka yang berada dibelakangnya. Jadi, pekerjaan wajib menghasilkan kebohongan, menghasilkan sebuah dunia representasi
kebohongan, dunia kocar-kacir di mana citra mengambil posisi realitas. Dalam
spectacular ini, sistem komoditas ini, pekerjaan wajib menghasilkan dua
kebohongan penting tentang dirinya: – kebohongan pertama adalah bahwa pekerjaan
itu berguna dan diperlukan dan bahwa adalah kepentingan semua orang untuk
melakukannya; kebohongan kedua adalah membuat cerita yang memaksa kita percaya
bahwa para pekerja tidak mampu mengangkat bahu dari perbudakan upah dan pekerjaan,
dan bahwa para pekerja tidak dapat membangun sebuah masyarakat baru yang
radikal, yang didasari atas kreativitas kolektif menarik dan swa-kelola
universal. 

 Jadi kau lihat,
secara sadar atau tidak kau sudah memperjuangkan bentuk masyarakat dimana akhir
dari kerja wajib akan digantikan oleh kreativitas kolektif yang diregulasi oleh
keinginan masing-masing individu, dan dengan distribusi barang-barang yang
dibutuhkan bagi kebutuhan harian kita secara gratis. Akhir dari kerja yang
dipaksakan berarti akhir dari system dimana profit, kekuasaan hirarki dan
kebohongan universal menjadi penguasa tertingginya. Ini menandakan akhir dari
system komoditi spectacle dan membuka pintu bagi pemeriksaan ulang menyeluruh
atas prioritas. Pengejaran uang dan potongan-potongan kekuasaan akan membuka
jalan bagi tantangan untuk harmonisasi antusiasme, yang paling tidak, akan
dirilis dan diberi pengakuan.

  

 3. Pernahkah di luar tempat kerja, kau telah
merasakan ketidaksukaan dan keletihan yang sama seperti yang kau rasakan di dalam
pabrik? Dalam hal ini, kau telah memahami bahwa: 

 a) Pabrik ada di sekitar kita. Ia adalah pagi
hari, kereta, mobil, pedesaan yang dijarah, mesin, bos, kepala pabrik, rumah,
surat kabar, keluarga, serikat buruh, jalan, pembelian seseorang, gambar, gaji
seseorang, televisi , bahasa seseorang, liburan seseorang, sekolah, pekerjaan
rumah tangga, kebosanan, penjara, rumah sakit dan malam. Ia adalah ruang dan
waktu dari subsisten kita sehari-hari. Ia menjadi terbiasa dengan gerakan
berulang dan emosi yang ditekan, emosi yang dicontohkan melalui proxy dari citra perantara. 

 b) Setiap kegiatan yang tereduksi menjadi
sekedar eksistensi adalah kerja wajib: dan semua
pekerjaan wajib mengubah produk dan produsen menjadi sekedar objek eksistensi,
menjadi komoditas itu sendiri. 

 c) Penolakan atas pabrik universal ada di
mana-mana, sebab sabotase dan re-alokasi ada di mana-mana di antara kaum
proletar, sehingga tetap memungkinkan para pekerja untuk mendatangkan beberapa potong
kesenangan melalui kemalasan, atau bercinta, atau bersosialisasi atau chatting
atau makan, minum, bermimpi atau melalui persiapan untuk merevolusi kehidupan
sehari-hari, dengan cara tak sekalipun mencampakkan menyenangkannya keadaan
yang tidak benar-benar teralienasi. 

 Jadi kau lihat, sadar
atau tidak kau telah memperjuangkan bentuk masyarakat di mana perasaan akan
menjadi segalanya, sementara kebosanan dan bekerja tidaklah ada. Pertahanan
hidup sederhana sejauh ini telah mencegah kita untuk benar-benar hidup. Sekarang
kita harus membuat dunia berdiri di atas kepalanya sendiri  dan menghargai setiap hidup otentik yang
ditakdirkan untuk ditutupi dan didistorsi didalam sistem komoditas dan spectacle;
saat-saat kepuasan nyata ini, kesenangan dan gairah yang tak terbatas. 

4. Tidakkah kau pernah berpikir untuk menggunakan mesinmu untuk dialihkan menjadi beberapa instrumen untuk digunakan diluar pabrik? Dalam hal ini, kau telah menyadari bahwa:

 a) Mesin menghasilkan efek ganda, apakah ia
digunakan untuk kepentingan majikan dan negara atau apakah ia dimanfaatkan oleh
pekerja untuk manfaat langsung bagi pekerja. 

 b) Prinsip penyalahgunaan terdiri atas menggunakannya
melawan musuh dengan menggunakan teknik dan senjata yang biasa ia gunakan untuk
melawan kita. 

 c) sebaliknya

  


 *Subsisten:
Aksi atau fakta tentang mempertahankan atau mendukung seseorang pada tingkat
minimum/ keadaan tetap dibawah pengaruh atau efek. 

2. ABC REVOLUSI

On Progress.. 🙂

Unitary Urbanism

Dari Wikipedia

image



Urbanisme Kesatuan atau Unitary urbanism (UU) merupakan kritik atas “urbanisme” status quo, digunakan oleh Lettrist International (LI) dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Situasionist International (SI) antara tahun 1953 dan 1960.

Praksis ini berasal dari teknik hypergraphic Lettrist yang diaplikasikan kepada arsitektur oleh LI. kritik UU terhadap urbanisme lebih lanjut dikembangkan pada tahun 1950 oleh LI, dan terdiri dari bermacam praktik, termasuk (tapi tidak terbatas kepada):

Praktik kritisnya tterus dikembangkan oleh Situasionis dan yang lainnya. UU kemudian ditinggalkan secara besar-besaran dan digantikan dengan teori Debord mengenai spectacle setelah SI kedua dan Situationist Antinational dibentuk. 

PsychogeogrAphix yang berbasis di London adalah salah satu dari beberapa kelompok yang secara terbuka mempraktikkan UU hari ini.

UU diumumkan sebagai praxis yang sangat spesifik pada platform Alba antara Lettrist International dan gerakan internasional Imahinist Bahaus. Pada pidatonya di Konferensi Alba pada September 1956, delegasi Lettrist International, Gil J Wolman mengatakan: “UU— sintesis dari seni dan teknologi yang kami serukan— harus dikonstruk berdasar kepada nilai-nilai baru tertentu dari kehidupan, nilai-nilai yang sekarang harus dimuliakan dan disebarluaskan. Mode praktik urban ini juga disebut disebutkan dalam prosur-brosur yang didistribusikan selama demonstrrasi Lettrist di Turin, Italia pada Desember 1956.

Constant Nieuwenhuys dan Guy Debord tidak sepakat mengenai praxis, menerbitkan pembentukan “aktivitas kompleks dan tanpa henti yang dengan sadar menciptakan ulang lingkungan manusia berdasar pada konsepsi termaju dalam setiap domain,” bagaimanapun jurang pemisah yang semakin melebar antara  pendekatan “struktural” Nieuwenhuys’

and fokus Debord terhadap “konten” menyebabkan perpisahan Nieuwenhuy’s dengan SI pada tahun 1960.

UU, salah satu perhatian awal utama Situasionis, memiliki dua prinsip:

  • Penolakan atas pendekatan Euclidean standar, secara hampir sepenuhnya fungsional, mengenai desain arsitektural urban, dan
  • Penolakan atas cara mengkotak-kotakkan dimana “seni” secara khusus dilepaskan dari lingkungannya.

Dalam utopia relatif dari ideal UU, elemen struktural dan artistik dari lingkungan metropolitan manusia dicampurkan kedalam area abu-abu dimana siapapun tidak dapat mengenali dimana fungsi berakhir dan permainan dimulai. Masyarakat yang dihasilkan, sementara ia mengurus kebutuhan fundamental, menjalankannya dalam atmosfir eksplorasi, waktu luang, dan suasana merangsang yang terus-menerus.