Gerakan Mahasiswa

Penulis: Workers’ Solidarity
Federation

Topik: academyracismSouth Africa

Sumber inggris: Diambil pada 1 January 2005,
dari www.cat.org.au

Meskipun kami berpendapat bahwa
hanya kelas pekerja, masyarakat desa pekerja dan kaum miskin yang bisa membuat
revolusi, kami juga mendukung perjuangan mahasiswa untuk mengubah institusi
pendidikan tinggi (universitas dan politeknik) meski faktanya bahwa institusi
seperti itu secara khusus melatih orang-orang demi pekerjaan kelas menengah.
Kami mendukung karena kami percaya bahwa perjuangan mahasiswa itu progresif,
karena kami anti-rasis, karena kelas pekerja dan mahasiswa miskin adalah korban
utama dari permasalahan yang ada di pendidikan tinggi, karena kami berpegang
pada prinsip pendidikan yang bebas, demokratis, dan terbuka bagi semua orang,
dan karena kami ingin merekrut mahasiswa militan untuk masuk kedalam politik AOS.

Secara historis, universitas dan politeknik telah
dikarakterisasikan dengan ketidakadilan ras yang masif. Pertama, dalam bentuk
dari pemisahan vulgar sampai tahun 1991 antara institusi “kulit putih secara
historis” dan “kulit hitam secara historis”. Kedua, dalam bentuk diskriminasi
ras didalam institusi tertentu: kurangnya pendanaan bagi mahasiswa kulit hitam
yang melanggengkan ketidakadilan sebelum-sebelumnya dengan secara finansial
tidak mengikutsertakan mahasiswa yang berkebutuhan; rasisme oleh beberapa
staff; program dukungan akademik yang tidak mencukupi yang menyerang warisan “Bantu
Education”, pada pokoknya diwarisi sejak dulu oleh dewan administratif kulit
putih; kekerasan rasis oleh mahasiswa kulit puith reaksioner dsb. Berbagai
ketidakadilan ini adalah dampak langsung dari Kapitalisme-apartheid.

Namun pemerintah yang dipimpin oleh ANC hanya melakukan
sedikit upaya dalam menantang warisan dari dulu. Sebagai contohnya, ia telah
menolak untuk secara terbuka mendukung pergerakan mahasiswa. Malahan, ia telah
mengutuk “mahasiswa pembuat onar” dan mengirim polisi untuk menyerang
demonstran dalam banyak kasus. Ia telah gagal untuk menciptakan beasiswa dan
subsidi yang mencukupi yang tersedia untuk mempromosikan perubahan, dan bahkan
merencanakan untuk memotong pendanaan lebih jauh! Faktanya, Orang Afrika
Selatan termasuk dalam lima negara yang menghabiskan paling sedikit bagi
pendidikan tinggi diseluruh dunia!

Efek dari praktik ini adalah untuk menyediakan
pendidikan tinggi bagi orang kaya. Mereka harus ditantang oleh gerakan
mahasiswa.

 

Aliansi Mahasiswa-Pekerja

Namun gerakan mahasiswa tak dapat
menang dengan berjuang sendiri. Mahasiswa datang dari berbagai macam latar
belakang, dan hanya berada di institusi pendidikan tinggi untuk beberapa tahun
saja. Ini artinya pergerakan mahasiswa tidak stabil, karena keanggotaannya
sangat beragam, dan karena aktivis yang lebih tua selalu meninggalkan
pergerakan. Sebagai tambahan, mahasiswa tidak terlibat dalam proses produksi,
dan karenanya kekurangan kekuatan struktural untuk meluncurkan serangan yang
bertahan terhadap sistem distribusi sumber daya (kapitalisme) dan penindasan
(negara) yang melanggengkan permasalahan mahasiswa kulit hitam secara umum, dan
mahassiwa kulit hitam dari latarbelakang kelas pekerja khususnya. Universitas
bukanlah sebuah pulau, dan perjuangan yang terisolir tidak dapat merubah sistem
pendidikan tinggi secara total.

Maka, adalah vital bagi mahasiswa untuk membangun
jejaring dengan pekerja terorganisir baik didalam maupun diluar kampus. Pekerja
yang berada di sektor pendidikan ketiga/tersier, khususnya mereka yang berada
di tingkat lebih rendah, menghadapi masalah serupa dengan yang dihadapi oleh mahasiswa.
Pekerjaan mereka digaji sangat buruk dan tidak aman, mereka menghadapi rasisme
kerja kotor/ shopfloor, dan mereka diserang melalui sistem “subkontrak” dan “kerja
fleksibel” yang mengacaukan kondisi dan pendapatan pekerja. Sektor pendidikan
tersier memiliki relasi kerja yang sangat represif. Pekerja dan staff di
tingkatan lebih tinggi, dan bahkan dari seksi kelas mengengah sendiri
(akademik) juga menghadapi isu-isu ini.

Dengan demikian terdapat juga landasan dan kebutuhan
akan dibangunnya aliansi mahasiswa-pekerja. Adalah pekerja yang mempertahankan
universitas dan politeknik. Adalah pekerja yang memiliki kekuatan untuk
mengalahkan bos dan penguasa, baik diluar maupun didalam kampus.

Tapi kami mendesak bahwa aliansi mahasiswa-pekerja
apapun harus melayani kepentingan langsung dari pekerja. Dalam jangka pendek,
kami menolak aliansi apapun yang memanipulasi pekerja untuk memenangkan
tuntuntan mahasiswa, dan kemudian gagal untuk mendukung pekerja. Jika mahasiswa
tidak mendukung pekerja, aliansi harus bubar. Kami juga harus mencoba untuk
membawa asosiasi dan serikat staff – seperti yang ada dikalangan akademisi –
masuk kedalam aliansi. Ini akan difasilitasi oleh fakta bahwa hampir semua
staff merupakan kelas pekerja (seperti pekerja kerah putih) ataupun dari bagian
dari kelas menengah yang kondisi kerjanya hampir sama dengan pekerja (staf
pengajar, spesialis teknis dsb.) yang bekerja demi upah, sering melakukan kerja
produktif, dan khususnya kekurangan kontrol dalam proses kerja (diperhadapkan
dengan kapitalis bisnis kecil dan manajemen menegah yang menciptakan kelas
menengah lainnya).

Berjuang demi Universitas Pekerja

Untuk jangka panjang, kami memperdebatkan
tentang kondisi terkini dari sistem pendidikan tinggi, yang sekarang eksis,
harus diubah secara fundamental. Pada saat ini, pendidikan tinggi sering
mengabdi untuk melatih manager dan pekerja ahli yang disewa oleh bos untuk
membantu jalannya kapitalisme dengan menyajikan pengetahuan, skill dan staff.
Melalui revolusi, institusi pendidikan tinggi harus diubah menjadi universitas
pekerja: pusat dari pembelajaran dan pelatihan yang melayani kebutuhan dari
pekerja dan kaum miskin, yang membantu memproduksi perumahan massa, bukan mall
perbelanjaan, yang mengajarkan staff medis untuk program kesehatan populis,
bukannya rumah sakit swasta dsb. Daripada universitas dan politektik dijalankan
dari atas oleh elit birokratis yang dibayar berlebihan, kami mengundang
staff-mahasiswa-pekerja yang asli bagi institusi ini. Basis bagi perubahan ini
adalah organisasi pekerja, mahasiswa, dan staff yang mengambil kontrol atas
institusi dan melengserkan dewan yang berkuasa.

Mobilisasi Sekarang

Dalam rangka untuk mencapai
tujuan ini – aliansi mahassiwa-pekerja dan universitas pekerja – kami
menghadirkan isu-isu berikut. Kami hadir untuk solidaritas mahasiswa terhadap perjuangan
pekerja baik didalam maupun diluar kampus. Kami melawan semua bentuk penyerangan
terhadap kondisi pekerja di sektor tersier.

Kami hadir untuk menyudahi aliansi antara organisasi
mahasiswa dan partai politik di pemerintah seperti aliansi SASCO-ANC karena
aliansi seperti itu menghambat kemampuan dari mahasiswa terorganisir untuk secara
efektif berjuang demi tuntutan mahasiswa. Kami hadir untuk pembentukan “Front
transformasi” yang luas dari organisasi mahasiswa selaras dengan partai politik
berbeda (SASO, PASO, AZASCO dsb.) sebagai langkah transisional menuju
pembentukan serikat mahasiswa berpusat kulit hitam skala nasional yang
independen dari partai politik. Kami melawan semua pemotongan pembiayaan, dan
menuntut meningkatan pembiayaan di semua tingkat pendidikan dalam rangka untuk
menyingkirkan warisan dari apartheid. Kami mengundang untuk perpanjangan
program dukungan akademik. Kami mengajukan tuntutan atas pendidikan yang bebas,
demokratis, dan setara bagi bagi semua sebagai prinsip dasar. Kami melawan
segala manifestasi rasisme, dan mempertahankan program aksi afirmatif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s