Ruang: Pemagarannya oleh Negara dan Kapital

Anonymous 

image

Marx menciptakan analisis yang
cermat mengenai proses produksi sebagai eksploitasi pekerja, tapi ia
menciptakan komentar sambil lalu dan segan tentang prasyarat bagi produksi
kapitalis, tentang kapital awal yang membuat prosesnya menjadi mungkin. Tanpa
kapital awal, tidak akan ada investasi, tidak ada produksi tidak ada lompatan
besar. Prasyarat ini dianalisis oleh Marxis Soviet awal Preobrazhensky, yang
meminjam beberapa wawasan dari Marxis Polandia Rosa Luxemburg untuk
memformulasikan teorinya tentang akumulasi primitif. Mengenai primitif,
Preobrazhensky memaksudnya sebagai lantai dasar dari bangunan besar, pondasi,
prasyarat dari kapitalis. Prasyarat ini tidak dapat muncul dari proses produksi
kapitalis itu sendiri, jika proses tersebut tidak sedang berjalan. Ia harus,
dan memang, datang dari luar proses produksi. Ia datang dari koloni yang
dijarah. Dihari-hari sebelumnya, ketika tidak terdapat koloni asing, kapital
pertama, prasyarat dari produksi kapitalis, telah diperas dari koloni internal,
dari masyarakat desa yang dijarah yang tanahnya dipagari dan diambilalih, dari
muslim dan yahudi yang dibuang yang hartanya diambilalih.

Akumulasi primitif atau pendahuluan dari kapital bukan
sesuatu yang terjadi sekali, jauh dimasa lalu, dan sesudahnya tidak pernah. Itu
adalah sesuatu yang terus-menerus menemani proses produksi kapitalis, dan
merupakan bagian integralnya… tanpa akumulasi primitif dari kapital yang
berlangsung, proses produksi akan berhenti; tiap-tiap krisis akan cenderung
menjadi permanen.

— Fredy Perlman

Introduction

Dimensi spasial dari tahap
terkini globalisasi kapitalis tidak segampang mengkategorikannya dengan ruang
fisik publik vs ruang fisik privat. Jumlah kecil essai yang keren telah
ditulis, khususnya dalam publikasi Killing
King Abacus
maupun essai oleh Midnight Notes Collective dan dengan cara
yang kurang eksplisit, tulisan dari Jacques Camatte dan Fredy Perlman,
berkaitan dengan beragam elemen dari kapital dan negara yang digunakan untuk
mengekspansi akumulasi dan meningkatkan kontrol. Dengan kata lain, esai-esai
dan pengarangnya ini telah meneliti dalam berbagai sudut cara tentang sarana
yang digunakan kapital dan negara untuk secara fisik memagari (enclosure) tubuh
kita maupun ruang sosial, sementara juga menganalisis tentang cara kapital
berusaha untuk memaksakan mempenetrasi dirinya kedalam imajinasi, keinginan,
dan kemampuan dasar kita untuk berinteraksi.

Essai ini didedikasikan untuk
membantu perkembangan pemahaman yang lebih dalam mengenai transformasi dari
ruang dalam totalitasnya. Mungkin sebuah essai yang membahas tentang salah satu
elemen ini sudah mencukupi, tapi kami pikir bila diteliti dari perspektif yang
total, maka akan membatu orang-orang untuk memahami lebih baik dimensi spasial sebagai elemen yang
esensial dari ekspansi kapital
. Sebagai tambahan, penulis berharap bahwa
orang-orang melakukan penelitiannya sendiri untuk membiarkan pertumbuhan yang
berlanjut dan perkembangan pemahaman mengenai pemagaran spasial. Pada akhirnya,
kapital secara konstan mendirikan ulang dirinya sendiri dalam bentuk-bentuk
berbeda, sementara isinya tentu saja tetap saja sama. Pemahaman kita sudah
seharusnya tetap update seperti kapital.

The Global North and Global South

…Faktanya adalah bumi menjadi stasiun ruang (space
station) dan jutaan orang telah tinggal didalam kondisi ruang-koloni: Tidak ada
oksigen untuk bernafas, kontak sosial/ fisik yang terbatas, Hidup dengan
karakter seksual yang dirampas, kesulitan dalam komunikasi, kurangnya matahari
dan kehijauan… bahkan suara dari burung yang bermigrasi telah hilang.


Midnight Notes Collective

Ruang publik dan bebas yang kecil (termasuk pikiran kita, gen,
dan biologi), didalam tahap terkini dari ekspansi kapital dan kontrol negara,
terus-menerus bertransformasi menjadi ruang terkontrol yang didesain untuk
produksi, penjualan, dan konsumsi komoditas. Sebagaimana asumsi kapital,
meningkatnya komodifikasi dan privatisasi atas apa yang pernah berupa ruang
semi-publik dan bebas – termasuk diri kita – banyak dari kaum miskin dan kelas
pekerja di Utara global dan selatan global menghadapi alienasi dan kontrol
dalam berbagai cara. Dengan berlanjutnya proses dari akumulasi kapital,
bagaimanapun, banyak yang mengalaminya dalam cara yang mudah dibedakan. Bagian
dari Philadelphia, misalnya, sungguh-sungguh hidup dalam kondisi yang dapat
dikatakan sebagai kemelaratan dunia ketiga. Untuk memudahkan analisis, kami
telah mencoba untuk menaksir dengan cara yang umum, bagaimana berbagai wilayah
spasial diseluruh dunia mengalami tahap terkini dari globalisasi kapitalis.

Pemagaran Dulu dan Sekarang

Dalam karya tiga volume nya, Capital, Marx menulis tentang pemagaran
yang terjadi di bagian Eropa selama transisi dari ekonomi berlandaskan
agrikultur, tanah bersama. Demikian ia menjelaskan prosesnya: “perampasan atas
properti gereja, alienasi curang dari domain negara, pencurian atas tanah bersama,
perebutan kekuasaan atas properti feodal dan suku, dan transformasinya menuju
properti privat modern dalam keadaan terorisme gegabah, hanya merupakan banyaknya
varian metode yang sangat menarik dari akumulasi primitif. Mereka menaklukkan
lapangan demi pertanian kapitalistik, membuat tanah menjadi bagian dan parsel
untuk kapital, dan menciptakan persediaan seperlunya proletariat yang “bebas”
dan ilegal untuk diberikan kepada industri kota. Belakangan, Marx melihat
proses pemagaran ini sebagai prasyarat yang perlu bagi teori tahap “saintifik”
tentang sejarah. Dengan kata lain, ia memperdebatkan dalam tulisannya kemudian,
bahwa dalam rangka untuk mengadakan revolusi, petani/ orang desa harus menjadi
pekerja dan sekali sang pekerja mengembangkan kesadaran yang benar, maka tanpa
terelakkan akan menggulingkan kapital dan menciptakan masyarakat tanpa kelas.

Walter Benjamin menghabiskan sebagian
waktu yang keren dalam hidupnya untuk meneliti, menyelidiki, dan menyelami
sejarah dari kapital dan sarananya yang keras, licik, dan tersembunyi dalam
mengubah alam, manusia, dan geografi urban (dan subjek manusianya). Dalam buku
monumentalnya The Arcades Project,
Benjamin mencurahkan porsi yang besar karya ini untuk menakar Haussmann-isasi
dari arsitektur. Haussmannisasi ini mensyaratkan penghancuran borongan atas jalanan
sempit, yang merupakan usaha untuk menghentikan pembangunan barikade. Paris
telah menyaksikan insureksi pada 1830 dan 1848, semuanya telah memperlihatkan
orang-orang menggunakan jalanan sempit sebagai sarana untuk membangun barikade.
Ketika Haussmann berada di tampuk kekuasan pada 1853, ia menyelesaikan proses
pemagaran jalanan sempit dengan membangun jalan raya, yang sementara membuat
semakin sulit untuk dibanguni barikade, juga mendorong atomisasi dari kelas
pekerja dengan menghancurkan daerah sekitar dan daerah kantong yang sering
dikunjungi oleh kaum miskin dan kelas pekerja. Proses pemagaran ini merupakan
satu dari dislokasi yang intens, yang riaknya menyebar dan membuat pemagaran
terjadi di selatan global.

The Global South

Fase terkini dari ekspansi
kapitalis ditandai dengan kecenderungan yang sama menuju pengusiran paksa tanah
bersama di selatan. Dengan pengusiran paksa ini terjadilah migrasi ke kota
untuk dipertemukan dengan proletarisasi paksa. Dalam konteks ini, banyak
percobaan kabur dari pemiskinan ekonomi ini, namun hanya berakhir dengan
kekuatan brutal dari patroli perbatasan.

Selagi pergerakan kapital di
deregulasi, menjadi hampir tidak mungkin untuk kabur dari pemiskinan ekonomi
yang dibuat oleh institusi dan korporasi kapitalis. Perbatasan yang lebih
ketat, demikian berfungsi sebagai komposisi kunci dalam membatasi gerakan dari
kaum miskin. Dalam arti ini “…selagi kapital bergerak lebih bebas diseluruh
dunia: kita terkunci, dibatasi, dan dipagari.” Kapital dapat berpindah-pindah
tanpa gangguan, sementara kaum miskin dan kelas pekerja dibatasi dari gerakan
yang bebas.

Lebih umum, serangan melawan kaum
miskin ini adalah bagian dari proses akumulasi kapital yang terus berlanjut.
Demikian, kaum miskin dan kelas pekerja terus menerus dieksploitasi, sementara
kapital dapat melanjutkan penjarahannya.

The Global North

Demikianlah sebagai korban anonim
dari kebangkitan komposisi organik kapital, mereka menemukan diri mereka menjadi
pengangguran (biasanya bagi para pemuda ini berarti tidak terdapat kemungkinan
bagi mereka untuk memasuki proses produktif global), mereka merasa tidak ada
paksaan untuk mengorganisir diri melawan musuh tertentu. Musuh yang membuat
mereka menjadi korban bukan hanya para kapitalis secara khusus, tapi masyarakat
kapitalis sebagai keseluruhan yang mereka lihat dengan kebingunan.


Negation, No. 35

Kebutuhan bagi kapital untuk
melakukan pelengkapan diri kembali bukan berarti kapital meninggalkan suatu
wilayah yang darinya ia mengeksploitasi secara fisik. Seperti yang ditunjukkan
oleh Fredy Perlman dalam kutipan diatas, proses dari akumulasi kapital
berlanjut hari ini. Tentu saja, pemagaran fisik dari bumi dan penduduknya
berlanjut di Utara, tapi dengan sedikit ruang yang tersisa untuk dieksploitasi,
kapital berangkat untuk memagari dan mengkomodifikasi relung batin dari tubuh,
pikiran dan dunia alamiah kita.

Jadi, tubuh dan dunia alami kita
menjadi lahan uji coba bagi rekayasa genetika, cloning, dan berbagai bentuk
manipulasi biologis. Dengan cara ini, teknologi kapitalis telah berpindah dari
pestisida menuju rekayasa genetik. Komposisi sesungguhnya dari komponen
tumbuhan telah direkayasa dengan gen terisolasi dari tanaman lain dan bahkan
binatang, untuk membuat stuktur fisik luarnya dapat menanggung banyaknya asupan
bahan kimia – dengan demikian dimanufakturisasi menjadi tumbuhan yang
sepenuhnya direkayasa dimana karakteristiknya sebagai tanaman yang berbeda-beda
dihapuskan.

“Hari ini semua ruang urban
ditonton, dikontrol, diawasi, ditakuti, tidak dipercayai, terus menerus
diancam. Atas nama keamanan, ruang urban secara bertahap mencapai titik dimana
tercipta penjara militer yang sepenuhnya teknologis. Orang bisa berpendapat
bahwa peperangan panjang ini akan terhenti dalam rangka untuk mengabaikan
tempatnya menjadi jenis penjara raksasa merupakan bentuk ekstrem dari
pengamanan “seperlunya”. Dan ini terjadi dalam demokrasi yang mencoba untuk
tampil tanpa kekuasaan, dibawah retorika egaliter yang menjadi jubahnya, untuk
menghindari –sejak ini adalah apa yang ia inginkan dan butuhkan dalam rangka
untuk melestarikan dirinya – setiap kota dengan mimpinya untuk menjadi ruang
penjara dengan kemanan maksimum (dengan demikian tanpa instirahat), dimana
sirkulasi individu menyerupai melingkarnya narapidana berputar dan berputar
halaman tersebut dengan tembok tinggi tanpa jendela dimana jejak kaki kelelahan
kaum miskin bergema dalam irama.”

Demikian pula, sarana yang
digunakan kemudian oleh negara untuk mengontrol subjeknya disini di Utara (dan
di selatan dengan cara yang sama) dirasakan melalui sarana fisik, akan tetapi,
sarananya telah menjadi lebih lembut dan tidak menyenangkan. Pengawasan – dalam
ruang semi-publik dan privat, perangkat pemantauan bagi tahanan eks narapidana
yang bebas bersyarakat, pemindaian retina, pemindaian iris,biometrik yang dikomputerisasi
– semua digunakan sebagai sistem identifikasi untuk menjaga agar “para kriminal”
tetap terkunci dalam struktur penjara. Sebagaimana yang dinyatakan Killing King Abacus dalam artikel mereka
yang berjudul “Fixed Abodes”: “Ini mengarahkan kita menuju dunia yang
berdasarkan sistemnya, hal yang paling bernilai tentang tubuh manusia adalah
data digital yang tersedia.” Ini mengilustrasikan sarana yang digunakan negara
untuk meneruskan dominasinya. Dengan cara ini, kapital membutuhkan negara untuk
melanjutkan proses akumulasi.

Menaklukkan ruang Imajinasi Kita

Dengan jalan yang serupa,
kepribadian, citarasa, hasrat, dan emosi kita sendiri dikomodifikasi untuk
disesuaikan dengan watak kapital. Jacques Camatte menilai fenomena ini sebagai penetrasi kapital “…pikiran,
kesadaran, dan dengan demikian menghancurkan manusia sebagaimana mereka tekah
diproduksi selama berabad-abad masyarakat kelas. Hilangnya substansi mereka
merupakan hilangnya wujudnya terdahulu, yang telah dipompa keluar oleh
kapital… seharusnya sekarang ia telah menundukkan imajinasi.” Dengan kata
lain, kapital telah meraih dominasi yang hampir sepenuhnya atas tubuh fisik
kita dan ruang sosial telah berupaya untuk menundukkan imajinasi kita.

Ruang dari imajinasi kita menjadi
septic tank dari citra yang
diproduksi secara massal, komoditi terlalu mahal untuk dibeli, hidup dan
imajinasi yang dapat kita beli melalui film, televisi dan seterusnya. Serupa
dengna itu, pekerjaan menawarkan kita sektor jasa yang banyak dimana kita
dipaksa untuk tampil (dengan gaun dan penampilan) sebagai peran aktor. Kita dipaksa
untuk memasang senyum sebagaimana pekerjaan kita adalah untuk melayani
pelanggan “kita”. Seragam merupakan bagian dari pakaian aktor pula. Keseragaman
dari pakaian kita berdasar kepada keseragaman dari kepribadian yang kita
jalani. Seberapa banyak komoditas yang dijual dipasar secara garis besar
merupakan sampah sekali pakai, begitu pula dengan pekerja industri jasa.  Hampir semua pekerjaan industri jasa adalah
ikatan kerja atas kehendak dimana korporasi dapat membuang pekerjanya
sebagaimana orang akan membuang komoditas tak berharga.

Perlawanan Terhadap Reorganisasi
Spasial Baru dari Kapital

Dengan pertumbuhan dari
pergerakan anti-globalisasi – pergerakan dari berbagai macam ide, taktik, dan
visi yang mana para anarkis dan anti-kapitalis memainkan peran yang , kecil,
namun kuat didalamnya – terdapat peningkatan kesadaran mengenai efek yang
berhubungan dengan momen terkini dalam restrukturisasi kapital dan negara. Meski
pergerakan ini bersifat internasional dilihat dari cakupannya, tetapi banyak
orang, gagal melihat hubungan antara utara dan selatan. Essai ini telah mencoba
untuk menghubungkan wilayah spasial ini bersama-sama, dengan mengilustrasikan
sarana yang digunakan negara akan melanjutkan dominasinya dan kapital akan
melanjutkan penjarahannya.

Deretan protes terkini melawan
kapital finansial, seperti mereka yang melawan WTO, IMF, Bank Dunia, dan FTAA
menandakan bahwa orang-orang berkeinginan untuk melawan kapitalisme (atau
sekedar melawan globalisasi). Meski bukan tanpa pertukaran permasalahan diantara
mereka, protes yang mengepung pertemuan ini telah membuktikan bahwa terdapat
lahan yang subur yang dapat digunakan untuk bertarung. Tetapi, dengan fokus
pada pertemuan finansial yang berlangsung pada hari-hari tertentu ini dapat
menyebabkan seseorang hanya mendatangi protes ini, sementara tapi tetap acuh
dalam memahami bahwa kapital finansial hanyalah salah satu dari cara-cara yang
kuat yang dengannya tahap terkini kapital memanifestasikan dirinya. Sarana lain
yang digunakan kapital dalam memanifestasikan dirinya telah dimuat dalam essai
ini, dan seterusnya semua merupakan manifestasi lebih jauh dari kapital yang
berkolusi dengan negara dalam berbagai cara untuk menjaga proses yang terus
berlanjut dari akumulasi kapital bergelinding seterusnya.

Untuk lebih banyak perlawanan
regional banyak contoh yang terjadi. Pergerakan pembebasan Papua melawan
pemagaran atas tanah mereka dan penghidupan dasar mereka, Pekerja pabrik
otomotif yang berjuang secara militan melawan kapital dan negara adalah dua
contoh yang terjadi. Beberapa tahun yang lalu proyek Mission Yuppir Eradication
di San Fransisko telah aktif dalam percobaan penciptaan pergerakan melawan
peningkatan biaya sewa dan peningkatan gentrifikasi. Kampanye melawan organisme
yang dimodifikasi secara genetis pada makanan di Inggris/UK terjadi menyusul
perlawanan terhadap GMO di sini di Amerika Serikat (khususnya dalam bentuk
sabotase). Daftarnya terus berlanjut.

Beberapa tahun yang lalu disini
di Portland, perjuangan demi ruang mengambil bentuk diantara kelompok yang
kebanyakan anak jalanan yang dikenal sebagai “the undesirables”. Membuka katering
bagi perusahaan dan turis, polisi mencoba untuk melarang para pemuda untuk
bersantai di pertukaran jalan selama musim panas yang sibuk yang dipenuhi turis.
Pertukaran jalan adalah distrik berbelanja turis di Portland yang terus
tergentrifikasi.  Fokus dari kelompok ini
terdiri dari menarik perhatian atas kurangnya ruang sosial yang tersedia bagi
pemuda untuk bertemu dan berinteraksi – sebagaimana menciptakan derajat
ketidaknyamanan bagi perusahaan dan polisi. Kelompok ini telah dibubarkan akibat
beberapa taktik yang digunakan partisipan – beberapa menunjuk diri mereka
sendiri sebagai juru bicara bagi kelompok besar yang bebas dari klaim individu.
Sayangnya, potensi seperti ini belum sepenuhnya direalisasikan.

Kontrol Atas Kapital Oleh Negara

Didalam pergerakan yang luas
melawan mengglobalnya kapital, banyak orang yang sampai pada titik menerima
bahwa negara sebagai sarana untuk mengontrol perkerakan dari kapital secara
umum, dan korporasinya dan institusi finansialnya secara khusus. Kesalahan
logika ini telah menjerumuskan banyak orang untuk membuat petisi kepada negara “menuntut”
hukum yang membatasi pergerakan kapital melewati perbatasan. Jika hukum seperti
itu pernah diberlakukan itu hanya akan membawa pada meningkatnya kontrol
terhadap kaum miskin dan pekerja. Kapital, yang bekerja bergandengan tangan
dengan negara, akan memastikan bahwa hukum seperti itu akan bekerja demi
memberi kebaikan kepada bisnis, finansial, dan untuk kerugian bagi kaum miskin
dan kelas pekerja. Secara historis, peran dari negara bukanlah salah satu
teman. Sebagaimana yang telah disaksikan dalam negara yang mengaku komunis yakni
Uni soviet, negara dalam akuisisinya atas sarana produksi akan menggunakan
tanah, tenaga kerja, dan kapital dengan cara yang serupa seperti yang digunakan
oleh privat kapital. Uni soviet merupakan rezim negara kapitalis dimana sarana
produksi dikontrol oleh negara, sementara populasi masyarakat dipaksa patuh
kepada birokrasi partai yang elitis.
Sayangnya beberapa kaum anarkis terjatuh dalam perangkap dengan
menyatakan bahwa “hak” terkenal dari negara-bangsa telah melebur, dengan
demikian berarti negara itu sendiri harus campur tangan untuk melindungi
kemerdekaannya. Negara harus dihancurkan bersamaan dengan kapital dan relasi
sosial yang diproduksinya.

Ucapan Penutup

Pertanyaan tentang ruang,
pemagaran fisik dan pemagaran yang terinternalisasi, merupakan pemandangan
pertarungan yang bersifat historis dan terjadi hari ini. Kami hanya berharap
pemandangan pemagaran ini akan terus ditantang oleh kaum miskin dan kelas
pekerja. Sebagaimana yang telah didemonstrasikan, perlawanan terhadap pemagaran
seperti itu bersifat internasional sebagaimana kapital dan negara. Melalui
interaksi bersifat internasional yang terus berlanjut jaringan kita dapat
menjadi lebih kuat daripada jaringan dangkal yang menyatukan kapital. Mungkin
pertautan seperti itu akan membawa pada sebuah insureksi yang berusaha untuk
menghancurkan ganas dan penuh gairah atas tatanan sosio-ekonomi yang berkuasa. Pemutusan
seperti ini mengharuskan penyamarataan total atas sistem kontrol dan alienasi
yang benar-benar ganas ini. Pada titik pemutusan ini, ruang dari tubuh,
pikiran, dan dunia sosial fisik kita akhirnya akan menjadi bebas untuk secara
penuh menelusuri lapangan subur yang menakjubkan dari imajinasi kita.  

Sumber

Benjamin, Walter The
Arcades Project translated
by Eiland, Howard and McLaughlin, Kevin Cambridge: Harvard University Press,
1999

Camatte, Jacques Wandering
of Humanity translated
by Perlman, Fredy and Camatte, Jacques Detroit: Black & Red, 1983

Debord, Guy Society
of The Spectacle translated
by Perlman, Fredy Detroit: Black & Red, 1983

Killing King Abacus magazine No. 1 San Francisco: Killing King Abacus,
2000

Marx, Karl Capital,
Volume 1 New York: International Publishers, 1967

Negation Lip and the Self-Managed Counter-Revolution Detroit: Black & Red 1975

Midnight Notes Midnight
Oil; Work, Energy, War 1973–1992 New
York: Autonomedia, 1992

Perlman, Fredy The
Continuing Appeal of Nationalism Detroit:
Black & Red, 1984

The Undesirables pamphlet (available from us for postage) San
Francisco: Venomous Butterfly, 2000

X Borders www.antimedia.net

Gerakan Mahasiswa

Penulis: Workers’ Solidarity
Federation

Topik: academyracismSouth Africa

Sumber inggris: Diambil pada 1 January 2005,
dari www.cat.org.au

Meskipun kami berpendapat bahwa
hanya kelas pekerja, masyarakat desa pekerja dan kaum miskin yang bisa membuat
revolusi, kami juga mendukung perjuangan mahasiswa untuk mengubah institusi
pendidikan tinggi (universitas dan politeknik) meski faktanya bahwa institusi
seperti itu secara khusus melatih orang-orang demi pekerjaan kelas menengah.
Kami mendukung karena kami percaya bahwa perjuangan mahasiswa itu progresif,
karena kami anti-rasis, karena kelas pekerja dan mahasiswa miskin adalah korban
utama dari permasalahan yang ada di pendidikan tinggi, karena kami berpegang
pada prinsip pendidikan yang bebas, demokratis, dan terbuka bagi semua orang,
dan karena kami ingin merekrut mahasiswa militan untuk masuk kedalam politik AOS.

Secara historis, universitas dan politeknik telah
dikarakterisasikan dengan ketidakadilan ras yang masif. Pertama, dalam bentuk
dari pemisahan vulgar sampai tahun 1991 antara institusi “kulit putih secara
historis” dan “kulit hitam secara historis”. Kedua, dalam bentuk diskriminasi
ras didalam institusi tertentu: kurangnya pendanaan bagi mahasiswa kulit hitam
yang melanggengkan ketidakadilan sebelum-sebelumnya dengan secara finansial
tidak mengikutsertakan mahasiswa yang berkebutuhan; rasisme oleh beberapa
staff; program dukungan akademik yang tidak mencukupi yang menyerang warisan “Bantu
Education”, pada pokoknya diwarisi sejak dulu oleh dewan administratif kulit
putih; kekerasan rasis oleh mahasiswa kulit puith reaksioner dsb. Berbagai
ketidakadilan ini adalah dampak langsung dari Kapitalisme-apartheid.

Namun pemerintah yang dipimpin oleh ANC hanya melakukan
sedikit upaya dalam menantang warisan dari dulu. Sebagai contohnya, ia telah
menolak untuk secara terbuka mendukung pergerakan mahasiswa. Malahan, ia telah
mengutuk “mahasiswa pembuat onar” dan mengirim polisi untuk menyerang
demonstran dalam banyak kasus. Ia telah gagal untuk menciptakan beasiswa dan
subsidi yang mencukupi yang tersedia untuk mempromosikan perubahan, dan bahkan
merencanakan untuk memotong pendanaan lebih jauh! Faktanya, Orang Afrika
Selatan termasuk dalam lima negara yang menghabiskan paling sedikit bagi
pendidikan tinggi diseluruh dunia!

Efek dari praktik ini adalah untuk menyediakan
pendidikan tinggi bagi orang kaya. Mereka harus ditantang oleh gerakan
mahasiswa.

 

Aliansi Mahasiswa-Pekerja

Namun gerakan mahasiswa tak dapat
menang dengan berjuang sendiri. Mahasiswa datang dari berbagai macam latar
belakang, dan hanya berada di institusi pendidikan tinggi untuk beberapa tahun
saja. Ini artinya pergerakan mahasiswa tidak stabil, karena keanggotaannya
sangat beragam, dan karena aktivis yang lebih tua selalu meninggalkan
pergerakan. Sebagai tambahan, mahasiswa tidak terlibat dalam proses produksi,
dan karenanya kekurangan kekuatan struktural untuk meluncurkan serangan yang
bertahan terhadap sistem distribusi sumber daya (kapitalisme) dan penindasan
(negara) yang melanggengkan permasalahan mahasiswa kulit hitam secara umum, dan
mahassiwa kulit hitam dari latarbelakang kelas pekerja khususnya. Universitas
bukanlah sebuah pulau, dan perjuangan yang terisolir tidak dapat merubah sistem
pendidikan tinggi secara total.

Maka, adalah vital bagi mahasiswa untuk membangun
jejaring dengan pekerja terorganisir baik didalam maupun diluar kampus. Pekerja
yang berada di sektor pendidikan ketiga/tersier, khususnya mereka yang berada
di tingkat lebih rendah, menghadapi masalah serupa dengan yang dihadapi oleh mahasiswa.
Pekerjaan mereka digaji sangat buruk dan tidak aman, mereka menghadapi rasisme
kerja kotor/ shopfloor, dan mereka diserang melalui sistem “subkontrak” dan “kerja
fleksibel” yang mengacaukan kondisi dan pendapatan pekerja. Sektor pendidikan
tersier memiliki relasi kerja yang sangat represif. Pekerja dan staff di
tingkatan lebih tinggi, dan bahkan dari seksi kelas mengengah sendiri
(akademik) juga menghadapi isu-isu ini.

Dengan demikian terdapat juga landasan dan kebutuhan
akan dibangunnya aliansi mahasiswa-pekerja. Adalah pekerja yang mempertahankan
universitas dan politeknik. Adalah pekerja yang memiliki kekuatan untuk
mengalahkan bos dan penguasa, baik diluar maupun didalam kampus.

Tapi kami mendesak bahwa aliansi mahasiswa-pekerja
apapun harus melayani kepentingan langsung dari pekerja. Dalam jangka pendek,
kami menolak aliansi apapun yang memanipulasi pekerja untuk memenangkan
tuntuntan mahasiswa, dan kemudian gagal untuk mendukung pekerja. Jika mahasiswa
tidak mendukung pekerja, aliansi harus bubar. Kami juga harus mencoba untuk
membawa asosiasi dan serikat staff – seperti yang ada dikalangan akademisi –
masuk kedalam aliansi. Ini akan difasilitasi oleh fakta bahwa hampir semua
staff merupakan kelas pekerja (seperti pekerja kerah putih) ataupun dari bagian
dari kelas menengah yang kondisi kerjanya hampir sama dengan pekerja (staf
pengajar, spesialis teknis dsb.) yang bekerja demi upah, sering melakukan kerja
produktif, dan khususnya kekurangan kontrol dalam proses kerja (diperhadapkan
dengan kapitalis bisnis kecil dan manajemen menegah yang menciptakan kelas
menengah lainnya).

Berjuang demi Universitas Pekerja

Untuk jangka panjang, kami memperdebatkan
tentang kondisi terkini dari sistem pendidikan tinggi, yang sekarang eksis,
harus diubah secara fundamental. Pada saat ini, pendidikan tinggi sering
mengabdi untuk melatih manager dan pekerja ahli yang disewa oleh bos untuk
membantu jalannya kapitalisme dengan menyajikan pengetahuan, skill dan staff.
Melalui revolusi, institusi pendidikan tinggi harus diubah menjadi universitas
pekerja: pusat dari pembelajaran dan pelatihan yang melayani kebutuhan dari
pekerja dan kaum miskin, yang membantu memproduksi perumahan massa, bukan mall
perbelanjaan, yang mengajarkan staff medis untuk program kesehatan populis,
bukannya rumah sakit swasta dsb. Daripada universitas dan politektik dijalankan
dari atas oleh elit birokratis yang dibayar berlebihan, kami mengundang
staff-mahasiswa-pekerja yang asli bagi institusi ini. Basis bagi perubahan ini
adalah organisasi pekerja, mahasiswa, dan staff yang mengambil kontrol atas
institusi dan melengserkan dewan yang berkuasa.

Mobilisasi Sekarang

Dalam rangka untuk mencapai
tujuan ini – aliansi mahassiwa-pekerja dan universitas pekerja – kami
menghadirkan isu-isu berikut. Kami hadir untuk solidaritas mahasiswa terhadap perjuangan
pekerja baik didalam maupun diluar kampus. Kami melawan semua bentuk penyerangan
terhadap kondisi pekerja di sektor tersier.

Kami hadir untuk menyudahi aliansi antara organisasi
mahasiswa dan partai politik di pemerintah seperti aliansi SASCO-ANC karena
aliansi seperti itu menghambat kemampuan dari mahasiswa terorganisir untuk secara
efektif berjuang demi tuntutan mahasiswa. Kami hadir untuk pembentukan “Front
transformasi” yang luas dari organisasi mahasiswa selaras dengan partai politik
berbeda (SASO, PASO, AZASCO dsb.) sebagai langkah transisional menuju
pembentukan serikat mahasiswa berpusat kulit hitam skala nasional yang
independen dari partai politik. Kami melawan semua pemotongan pembiayaan, dan
menuntut meningkatan pembiayaan di semua tingkat pendidikan dalam rangka untuk
menyingkirkan warisan dari apartheid. Kami mengundang untuk perpanjangan
program dukungan akademik. Kami mengajukan tuntutan atas pendidikan yang bebas,
demokratis, dan setara bagi bagi semua sebagai prinsip dasar. Kami melawan
segala manifestasi rasisme, dan mempertahankan program aksi afirmatif.

Melawan Organisasi

Giuseppe Ciancabilla

image

Kita tidak bisa memahami bahwa kaum Aw! telah mendirikan titik untuk diikuti
secara sistematis sebagai dogma yang sudah pasti. Karena, bahkan jika
keseragaman pandangan tentang garis umum perencanaan taktik diasumsikan, taktik
ini dijalankan dalam ratusan bentuk penerapan berbeda, dengan ribuan varian
tertentu.

Karenanya, kita tidak menginginkan program taktis, dan
konsekuensinya kita tidak butuh organisasi. Setelah mendirikan sasaran, tujuan
yang darinya kita mengacu, kita membiarkan setiap Aw! untuk bebas memilih dalam artian bahwa perasaannya,
pendidikannya, temperamennya, spirit bertarungnya akan memberikan dia saran
yang terbaik baginya. Kita tidak membentuk program yang pasti dan kita tidak
membentuk partai kecil ataupun besar. Tapi kita berkumpul secara spontan, dan
tanpa kriteria permanen, berdasar pada affinitas sejenak untuk tujuan spesifik,
dan kita secara konstan merubah kelompok ini segera setelah tujuan yang
mempersatukan kita terhenti, dan sasaran dan kebutuhan lain muncul dan
berkembang dalam diri kita dan mendorong kita untuk mencari kolaborator baru,
orang yang berpikir seperti kita dalam persoalan spesifik.

Ketika salah satu dari kita tidak lagi senang dengan
membuat gerakan fiktif simpatisan individual dan mereka yang lemah hati
nuraninya, namun lebih kepada menciptakan fermentasi aktif atas ide-ide yang
membuat seseorang berpikir, seperti serangan cambuk, ia sering mendengar
kawan-kawan merespon bahwa untuk beberapa tahun mereka telah terbiasa dengan
metode lain perjuangan, atau bahwa ia adalah seorang individualis, atau
teoritisi murni dari Aw!.

Tidak benar bahwa kita adalah individualis jika
seseorang mencoba untuk mendefinisikan kata ini dalam artian elemen yang
terisolir, menghindari pembauran didalam komunitas sosial, dan mengandaikan
bahwa individu dapat mencukupi dirinya sendiri. Tapi diri kita mendukung
pengembangan inisiatif bebas dari individu, dimana Aw! yang tidak ingin terbukti bersalah atas bentuk individualisme
ini? Jika Aw! adalah seseorang yang
bercita-cita untuk teremansipasi dari setiap bentuk otoritas moral dan materil,
bagaimana bisa ia tidak setuju bahwa afirmasi seorang individu, bebas dari
semua kewajiban dan pengaruh eksternal otoritarian, adalah sama sekali penuh
kebajikan, adalah indikasi paling pasti dari kesadaran Aw!? Kita juga bukanlah teoritis yang murni karena kita percaya
pada kemanjuran ide, lebih dari itu jika individual. Bagaimana aksi ditentukan,
bila tidak melalui pemikiran? Sekarang, memproduksi dan mempertahankan
pergerakan dari ide adalah, bagi kami, cara yang paling efektif untuk
menentukan arus dari aksi Aw!, baik
dalam perjuangan praktek dan didalam perjuangan untuk merealisasikan idealnya.

Kita tidak melawan para pengorganisir. Mereka akan
melanjutkan, jika mereka suka, taktik mereka. Jika, seperti yang saya pikir,
itu tidak akan membuat kebaikan apa-apa, juga tidak menimbulkan kerugian besar.
Tapi itu terasa bagiku bahwa mereka telah kebakaran jenggot melempar teriakan
tanda bahaya mereka dan memblacklist
kita baik sebagai orang liar maupun sebagai pemimpi teoretis.