Politik Keseharian: Menempuh Jalan Emansipasi Didalam Keseharian. (Pt. 1; Pendahuluan dan kondisi kaum terpelajar)

      Hari lainnya di negeri yang telah digerogoti kerusakan. Korupsi elit politik dan pegawai pemerintahan, ekspoitasi masyarakat miskin oleh korporasi dengan bantuan negara, semakin bebasnya persaingan ekonomi kalangan menengah keatas, pembodohan terus menerus kaum miskin oleh sistem pendidikan, pengekangan kebebasan berekspresi bagi mereka yang berbeda, media semakin memapankan kondisi kehidupan yang konsumtif dan pasif, dan jutaan masalah lainnya yang terang-terangan memunculkan diri disekitar kita, dimanapun itu didalam negeri yang menyebalkan ini.
     Usaha dalam mengadakan perubahan sosial tak pernah terjadi, atau bahkan tak pernah terlintas di benak mereka yang tertindas. Mengharapkan kaum terpelajar, mereka sudah tidak cukup terpelajar ketika menghadapi modernisasi yang menyeramkan ini, malah terjerat di dalam halusinasi surgawi yang disediakan. Ruang-ruang perlawanan di dalam kampus dialihfungsikan sebagai panggung catwalk, selalu saja menjadi ruang mempromosikan diri, semuanya serba individualis, tak pernah suka melihat darah yang tumpah dalam pemberontakan. Meski terdapat berbagai aliran ideologis di kalangan mahasiswa, namun lagi-lagi hanya sebagai dandanan agar lebih menarik, atau kadang hanya sekedar ajang aktualisasi diri, sekedar mempertahankan eksistensi diri. Mirisnya, masih terdengar slogan-slogan ‘solidaritas’, ‘egaliter’ dan semacamnya diantara mereka. Oh iya, menyatukan makna dan simbol memang tak begitu berarti bagi mereka. Lihatlah, mereka yang mengaku pancasilais, sedang mempromosikan ekonomi usaha kreatif. Para fanatik Soe Hok Gie sedang menunggu mati, mengisi waktu dengan merusak alam. Senior garang yang gondrong dan compang camping sedang bercerita gagah berani tentang kebohongan akan dirinya dihadapan adinda-adinda mahasiswa baru. Mereka yang dicap aktivis sedang bersembunyi disudut, mempertimbangkan untuk melepas capnya tersebut dan menikmati hidup mewah, lalu sibuk mencari pengganti dirinya di kalangan ‘adik-adik’, meskipun dirinya sendiri belum pernah menemui capaian berarti dalam dunia aktivisme nya. Sedang para anarkis tak pernah bertambah dalam jumlah, meskipun memang selalu menjaga jarak dan eksklusif. 

Apakah memang sudah waktunya kah kita berpasrah diri menunggu kehancuran total datang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s