Politik Keseharian Adalah …(Silahkan isi sendiri)…

    Pembaca yang budiman dan bersahaja, arif, teladan, bijak, super, cerdas, mutakhir, sampai yang intelek (Demikian sambutan mereka yang sering memperbudi) hingga pembaca yang merdeka sejak dalam pikiran dan kalian yang tidak mau dipanggil dengan sebutan-sebutan apapun itu. Konsep tentang ‘politik keseharian’ merupakan tema pengkaderan yang diperdebatkan dan disusun secara kolektif dari para warga himpunan yang bersedia menyumbangkan idenya dalam rapat-rapat pengkaderan ke-2 2015.      

     kengkaderan ke-2 2015 pada dasarnya merupakan pengkaderan yang menitikberatkan pada keilmuan. Mahasiswa baru diharapkan dapat memulai keakrabannya dengan dunia akademisi yang bergelut dengan ilmu pengetahuan. Dengan disandingkannya tema politik keseharian dan pengkaderan ke-2 2015, kemudian lahirlah beberapa judul materi dan diskusi yang diadakan bagi mahasiswa baru, seperti ‘Mahaswa dan Politik’, ‘Ideologi dan Politik’, ‘Akar-akar Ideologi’, hingga judul ‘politik keseharian’ itu sendiri. Materi-materi ini diharapkan dapar memberikan kebebasan bagi mahasiswa baru untuk mengiterpretasikan sendiri bagaimana politik itu, tanpa intervensi berlebihan dari subjektifitas para senior.

     Tema pengkaderan ini mendapatkan bentuknya yang lebih ilmiah, bahkan hampir menyerupai sebuah ideologi ketika dibahas didalam bazaar diskusi pengkaderan ke-2 2015 dengan tema diskusi “Sebab Politik adalah Keseharian Kita” yang dibawakan oleh Salah satu senior yang sedang melanjutkan kuliahnya di UGM. Dari penyampaian pembawa diskusi ini, konsep ‘politik keseharian’nya menyerupai bentuk masyarakat anarkisme didalam sistem demokrasi Indonesia, semua orang memiliki kekuatan politik, bukan hanya didalam sistem politik dan pemerintahan saja. Selepas bazaar diskusi itu kemudian muncul berbagai pembicaraan tentang ‘politik keseharian’ itu sendiri, diluar dari posisinya sebagai tema pengkaderan. Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan politik keseharian itu? Silahkan tafsirkan sendiri. Konsep ‘politik keseharian’ ini pada dasarnya memang multitafsir, namun bentuk seperti inilah yang diharapkan. Konsep yang dibuat selonggar mungkin agar dapat ditafsirkan sendiri oleh siapa saja, tanpa ada interpretasi tunggal. Hal ini dimaksudkan agar tercipta ruang-ruang yang komunikatif/ dialektis didalam tubuh mahasiswa politik, khususnya warga himpunan.

     Hasil akhir yang diharapkan dari proses ini adalah bagaimana kemudian kita membangun kembali politik itu sendiri dalam keseharian kita sehingga terbentuk suatu budaya kritis a la mahasiswa ilmu politik. Kita semua mengharapkan akan banyak diskusi lebih lanjut yang berangkat dari pembahasan ‘politik keseharian’ ini, mengingat luasnya cakupan pembahasannya.

     Belakangan, muncul tulisan seorang kawan kita, Ju’, yang mencoba menginterpretasikan konsep politik keseharian. Garis besar dari tulisan Ju’ kurang lebih adalah sebagai berikut (Beserta kritik dari poin-poinnya):

1. menganggap ekosospol merupakan suprastruktur dari budaya, lalu mengkritik kesalahan suprastruktur yang dibangun diatasnya.

    Pandangan terhadap basicstructure kawan zul ini adalah kerangka pemikiran dasarnya yang merupakan landasan dari paragraf lainnya didalam tulisannya. Sehingga kalau landasannya ini sudah keliru, maka bangunan tulisan selebihnya roboh dengan sendirinya.

      Untuk poin pertama ini, penulis ingin memberikan pertanyaan yakni apakah pada awal peradaban manusia, kita bergerak untuk semata-mata membangun budaya ataukah budaya yang terbangun merupakan akibat dari kegiatan produksi/ ekonomi? Yang terakhir ini merupakan yang paling realistis, mengingat tahap perkembangan teknologi masyarakat bermula dari penemuan teknologi untuk memproduksi/ konsumsi, bukannya langsung membuat tatanan norma/ nilai, maupun landmark-landmark. Barulah setelah sebuah peradaban sudah mumpuni untuk terhindar dari kegiatan produksi secara terus menerus (Baca: Penemuan domestikasi), barulah kemudian manusia mulai melakukan kegiatan lain untuk memapankan budayanya hingga kemudian terbentuklah model-model sosial politik yang ada hingga sekarang ini. Singkatnya, ekonomi lah yang merupakan basicstructure dari sosial budaya dan politik. Jadi saran untuk kawan zul disini, silahkan pertama tama mengkritik posisi basic strukturmu cika’, sebelum mengkritik suprastrukturmu.

2. dialektika masyarakat akan berjalan baik sebab refleksi masyarakat atas filsafat politik.

    Mana bisa refleksi kalau keadaan ekonomi masyarakat sedang miskin. Bukankah para pemikir besar terlahir dari kondisinya yang memang sudah terbebas dari kegiatan produksi terus menerus/ terlahir dari keluarga berada atau nda miskin-miskin amatji? Selain bila ada Engels-engels baru yang mengikhlaskan hartanya untuk orang lain (saya siapja jadi karl marx-nya). Untuk dapat mengadakan masyarakat yang dialektis, pertama-tama perlu kiranya agar mencapai keadilan ekonomi didalam masyarakat agar tidak hanya mereka yang mapan secara ekonomi yang dapat melakukan refleksi mendalam atas filsafat politik. (Masyarakat yang miskin, harus memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari dengan memburuh, sehingga tak ada waktu luang untuk melakukan refleksi)

     Bagi para pemikir turunan dari Max Weber (seperti Easton, Almond, Dahl, dan Zul), sistem kapitalis merupakan tahap akhir dari dialektika masyarakat. Selanjutnya menurut mereka, adalah bagaimana untuk terus-menerus melakukan perbaikan atas kapitalisme yang sudah ada ini. Jadi, reformasi merupakan tahap tertinggi dari semua dialektika ini. berharap bahwa akan tecapai kebaikan dalam masyarakat dengan tetap mempertahankan hierarki dan elit-elit yang terpisah dari masyarakat.

5. indikator politik keseharian itu ada ketika masyarakat sadar akan pentingnya ruang yang komunikatif antar masyarakat dan elit politik dalam hierarki sebuah negara, sehingga membuka jalan bagi terciptanya masyarakat yang dialektis yang lalu dapat memunculkan counter democracy didalam masyarakat, jadi counter democracy didalam sebuah negara merupakan indikator demokrasi yang baik/ politik keseharian.

Seperti yang dikatakan sebelumnya, bahwa diperlukan keadilan ekonomi agar tercipta masyarakat yang dialektis. Bagaimana bentuk konter demokrasi yang dimaksud disini? Apakah sekedar kritik berupa tulisan ataukah aksi-aksi langsung seperti demonstrasi, mogok, dsb? sayangnya, kawan zul telah mengatakan bahwa dengan ruang komunikatif yang hierarkis inilah kemudian politik keseharian dijalankan.

6. Politik keseharian merupakan dasar bagi demokrasi yang sesungguhnya, dan demokrasi tetap merupakan bentuk terbaik bagi masyarakat.

Kembali lagi kepada pembaca, apakah akan tetap menjadi seorang yang budiman dan bersahaja ataukah mulai menjadi orang yang berdeka dan terbebas dari norma-norma yang brengsek dan konservatis. 

Budayakan baca tulis dan kritik!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s