Peran Ideologi Dalam Tindakan Politik

Ditulis sebagai sunbangan atas kondisi dunia mahasiswa yang larut dalam dunia hyperreality-nya.

Menurut definisi umum, ideologi adalah kumpulan gagasan, konsep, dan ide yang tersistematis membentuk pola berpikir dan berperilaku seseorang/ institusi didalam kehidupan sosial. sedangkan menurut Marx, ideologi adalah suatu bentuk kesadaran palsu dimana kita melarikan diri kepadanya untuk merasakan kebebasan yang semu. Lebih lanjut, menurut marx, masyarakat komunisme ialah tahap dimana tak ada ideologi didalam masyarakat, sebab masyarakat telah hidup didalam kesadaran yang sebenarnya. Terdapat berbagai ideologi yang hadir didunia ini, sebut saja komunisme, sosialis demokrat, liberalisme, neoliberalisme, anarkisme, negara kekhalifaan, konservatisme, pluralisme dan lain sebagainya. keberpihakan pada ideologi tertentu akan jelas mempengaruhi tindakan kita sehari-hari, khususnya dalam tindakan politik. Berdasarkan pada perspektif Foucault yang beranggapan bahwa setiap tindakan manusia memiliki landasan ideologis dibaliknya. Tidak ada sesuatu pun yang bebas nilai, sebab dari faktor historisnya, semua ilmu berangkat dari nilai-nilai tertentu.

Untuk tujuan refleksi, kita akan coba membahas kembali dua ideologi besar yang menjadi dasar dari berbagai ideal ideologi lainnya. berdasarkan runutan sejarahnya, setelah runtuhnya feodalisme yang memberikan hak spesial kepada beberapa bangsawan/keluarga saja, liberalisme akhirnya mendapat peran sentralnya dalam perpolitikan dunia. semangat awalnya bahwa tidak ada satu orangpun yang memiliki keistimewaan yang lebih diantara manusia. Semua harus setara dalam kebebasannya menentukan hidupnya. Sejak saat itu, setiap orang bebas dalam mencapai kebahagiaan hidupnya. Ideologi liberal ini kemudian menjadi dominan didalam kehidupan masyarakat sebab membawa semangat kebebasan. baru belakangan kemudian muncul beberapa pemikir yang mengkritik liberalisme bahwa tidak ada kebebasan didalamnya sebab dengan persaingan ekonomi, hanya orang yang bermodal lah yang mempunyai kesempatan untuk mencapai kebahagiaannya. sementara mereka yang tak bermodal menjadi orang yang tertindas. oleh karenanya, pemikir komunisme, yang berpuncak pada marx menyarankan bahwa alat produksi dipegang oleh negara, dan menghilangkan sifat individualisme dari liberalisme ini, sehingga masyarakat dapat hidup dalam kebersamaan. negara (negara sosialis), lanjut marx, hanyalah merupakan alat untuk membawa masyarakat kepada masyarakat komunisme, dimana tidak ada lagi negara. orang kemudian hidup mengatur dirinya sendiri dengan pengambilan keputusan didalam rapat-rapat. namun, setelah keruntuhan uni soviet, china, dll, ideologi kiri ini pun ditinggalkan. dan kemudian belakangan ini muncullah ideologi neoliberalisme yang mengatakan bahwa, negara harus tetap berperan dalam kesejahteraan masyarakat, namun dengan intervensi yang sekecil mungkin.

kaum sosialisme/ komunisme/ anarkisme/ agamis akan beranggapan bahwa akan lebih baik jika negara mengontrol alat produksi, agar tidak ada kelas yang dominan didalam masyarakat dalam persoalan ekonomi. Persepktif kelas yang ditekankan oleh ideologi-ideologi ini membuat para penganutnya melihat kemiskinan atau penindasan yang ada di masyarakat disebabkan oleh sistem yang tidak adil yang menekankan persaingan ekonomi. Kaum ini menyarankan sebuah perubahan, entah itu reformasi atau revolusi (Meskipun lebih ditekankan adanya revolusi) menuju masyarakat tanpa kelas, dimana negara lah yang memiliki kekuasaan penuh dalam mengatur masyarakat. Dilain pihak, kaum liberal akan berpandangan bahwa kemiskinan yang ada dimasyarakat disebabkan oleh malasnya masyarkat mencari kerja, pemerintah yang tidak berjalan efisien, dsb. Kaum ini menyalahkan intervensi pemerintah yang berlebihan didalam masyarakat yang katanya membuat masyarakat kehilangan kebebasannya. penindasan secara ekonomi, menurut mereka, adalah penindasan terhadap diri sendiri saja. Tak ada kelas borjuis dan proletar di perspektif liberalisme. masyarakt terfragmentasi dalam berbagai golongan.

Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mengetahui ideologi yang menjadi penggerak tindakan politik. Karena setiap orang memiliki ide-ide yang tersistematis yang menjadi faktor pendorong perilaku setiap orang. Golongan agamis jelas akan melawan kekuasaan agama lainnya, dan menekankan penegakan hukum agamanya di daerah tempat tinggalnya. Kaum konservatis akan menolak berbagai usaha perubahan sebab melihat kondisi yang ada sudah mapan, tinggal bagaimana memberi tambahan lain yang lebih membuat mapan. Seorang penganut liberalisme akan melihat bahwa pendidikan yang ada di universitas sudah sesuai sebab kurikulumnya bersesuaian dengan pembangunan masyarakat kapitalis. Sementara kaum kiri akan melihat bahwa pendidikan yang ada tidak adil, sebab kurikulum yang ada didalamnya berisikan pendidikan kapitalistik yang akan membuat para mahasiswa menjauh dari permasalahan/ kontradiksi yang ada dalam masyarakat dan membuat para mahasiswa onani di dalam kelas tanpa pengetahuan tentang kondisi sebenarnya.

Indonesia, semenjak masih berusaha melakukan perlawanan terhadap kolonialisme, selalu dikelilingi oleh kondisi dunia yang sedang berkecamuk, mulai dari revolusi Bolshevik di Rusia, kediktatoran fasis-militer di Jerman, dan lain sebagainya yang banyak memberi bekal pengalaman bagi Indonesia dalam mendirikan sebuah negara yang ideal bagi masyarakat yang sadar akan buruknya eksploitasi manusia oleh manusia lain. Dengan perantaraan Soekarno sebagai pemimpin bangsa, didirikanlah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang mengibarkan semangat kemanusiaan dan keadilan, yang tertuang dalam preambule UUD 1945 yang berbunyi “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan..”. Namun, mengetahui hal tersebut, Amerika sebagai garda terdepan yang memiliki kepentingan besar di beberapa negara yang baru merdeka untuk menguasai sumber daya alamnya tidak tinggal diam. Dengan berbagai cara, Amerika akhirnya berhasil menjatuhkan kepemimpinan Soekarno dan menancapkan tonggak liberalismenya di Indonesia sebagai alibi untuk menguasai sumber daya alam dan kekuasaan ekonomi di Indonesia.

Pada akhirnya, terdapat beberapa ideologi yang tersisa hari ini yang hanya digunakan untuk membenarkan penindasan penguasa/ pengusaha atas mayoritas masyarakat, seperti neoliberalisme dengan demokrasinya hari ini, yang menekankan kebebasan politik namun disatu sisi menyingkirkan kebebasan ekonomi. Dengan menggandeng agama sebagai alat pembenarannya, neoliberalisme di Indonesia semakin memperparah kondisi ketidakadilan. Orang-orang dikonstruk untuk selalu bersaing dalam perekonomian dan memikirkan diri sendiri, dan bila kalah dalam bersaing, maka harus tunduk pada “takdir”, melihat kemiskinan sudah diatur oleh yang maha kuasa (Padahal sistem kapitalistiklah yang membuatnya demikian). Bahkan agama hari ini tak bisa lagi dibedakan dengan kapitalisme, sebelas duabelasmi cika! (Baca: Jilbab dengan sertifikat halal, Baju kokoh yang dipakai oleh ustad terkenal). Mari mencoba untuk lebih adil didalam pikiran kita masing-masing.

Don’t hate what you don’t understand!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s