Tentang Pengetahuan Yang Anti Agama

Di Indonesia, marxisme merupakan hantu yang sangat menakutkan. Orang-orang awam akan langsung membayangkan kebrutalan dan darah ketika mengingat komunisme. Ya, ini memang wajar. 32 tahun adalah waktu yang sangat lama untuk menghegemoni masyarakat Indonesia untuk membenci komunisme. Ideologi yang sejak awal perjuangan kemerdekaan menjadi bahan bakar utama bagi perlawanan rakyat pribumi sempat mendapatkan tempat yang besar dalam pemerintahan di Indonesia dengan masuknya PKI didalam badan pemerintahan Republik Indonesia. Soekarno, sang pemimpin revolusi kita juga memiliki hubungan yang sangat romantis dengan PKI itu sendiri. Namun, sejarah ini lalu seakan terhapuskan dari ingatan kita semua. Dengan doktrin-doktrin yang dirasionalisasi, lalu kita melabeli komunisme dengan hal-hal yang buruk.

Salah satu doktrin orde baru untuk membunuh komunisme yang paling absurd namun sangat ampuh adalah adalah doktrin bahwa komunisme anti-agama. Benarkah demikian? Yang pernah ditulis bahwa, dasar dari segala kritik adalah kritik terhadap agama. Agama, menurut Marx hanyalah sebuah pelarian kaum tertindas agar merasa bebas dari ketertindasannya itu, sebuah kesadaran palsu, seperti takdir. Oke baiklah bila komunisme anti agama. Namun, berbicara tentang anti agama, kita akan langsung mengingat semangat awal demokrasi yang sangat ingin memisahkan agama dari negara. Demokrasi memang berangkat dari semangat liberalisme yang membenci otoritas agama didalam mengatur kehidupan bernegara. Selain demokrasi, masih banyak lagi teori dan konsep lainnya yang hingga hari ini diterapkan di Indonesia yang memiliki landasan anti agama. Lantas, mengapa hanya komunisme yang terlalu dilabeli secara berlebihan? Dengan menyadari ini, maka kita akan sampai ke kesimpulan bahwa dihapuskannya PKI beserta ideologi dan rumpun pengetahuannya merupakan intrik politik agar liberalisme dapat bebas membasis di dalam masyarakat Indonesia dan membuat masyarakat tidak menyadari pengkhianatan keadilan yang dilakukan oleh negara.

Yang mau penulis katakan adalah bahwa konsep dan teori marxis tetap dapat digunakan meskipun tidak melakukan kritik atas agama atau bahkan menjadi atheis. Sebab, bila harus menjadi atheis, maka konsekuensinya kita juga akan mengharamkan demokrasi. Yang penting adalah bagaimana caranya membuat masyarakat sadar akan ketertindasannya, sadar akan ketidakadilan yang ada didalam masyarakat. dengan demikian, maka bangsa Indonesia akan menuju kebangkitan yang progresif.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s