Re: “Dunia ji, Sementara ji”

Seperti yang disepakati para pemikir marxis, basic struktur didalam masyarakat akan menentukan suprastruktur yang dibangun diatasnya, atau dalam konsep marxis disebut determinisme sosio-ekonomi. Kegiatan produksi dan hubungan produksi didalam masyarakat adalah dasar dari semua struktur lainnya didalam masyarakat. sebut saja agama, politik, hukum, dan lain sebagainya. Sistem ekonomi/ hubungan produksi pada masa tertentu akan membentuk corak politik, sosial, budaya, dan lainnya. Sebut saja misalnya ketika hubungan produksi didasarkan pada sistem komunal primitif dimana kegiatan produksi ditujukan untuk konsumsi langsung, bukan untuk dijadikan barang pertukaran. Budaya yang berkembang pada saat itu adalah budaya yang egaliter, non-hierarkis, dan menyembah yang terkuat di alam. budaya dan kepercayaannya ini adalah corak dari sistem produksi pada masanya. Jadi pada intinya, hubungan produksi dalam masyarakatlah yang membentuk tatanan politik, sosial, dan sistem kultur pada masanya. Ketika sistem hubungan produksi berubah, maka sistem lain di tataran suprastruktur juga akan berubah. Perubahan ini sesuai dengan hukum dialektika materialis Marx.

didalam masyarakat kapitalis, masyarakat digiring untuk melakukan konsumsi secara berlebihan agar perekonomian bisa berjalan. Seperti yang kita ketahui, sistem kapitalisme didasarkan pada prinsip persaingan. Siapa yang memiliki modal lebih besar maka dialah yang akan lama bertahan sementara yang tak memiliki modal atau memiliki modal yang sedikit akan terjatuh dalam kelas proletar, kelas yang tidak memiliki alat produksi, kelas yang hanya memiliki tenaga kerja demi melanjutkan hidup. 

Namun, sesuai dengan konsep hegemoni Gramsci, ada suatu penindasan pemikiran atau hegemoni yang dilakukan negara (sebagai instrumen kapitalis untuk menindas) kepada masyarakat kelas tertindas agar tetap tunduk pada kondisinya yang buruk itu. Contohnya saja seperti judul diatas ini. atau dengan doktrin seperti ‘orang menjadi miskin karena kurang berusaha atau malas’. Doktrin-doktrin ini menjauhkan masyarakat dari kesadaran akan ketertindasannya dan hanya akan menyalahkan diri sendiri yang bodoh dan malas (bukankah kebodohan yang dialami masyarakat tertindas merupakan akibat dari susahnya mengenyam pendidikan yang biayanya terlalu mahal?). Padahal pada dasarnya, kondisi kemiskinan mereka ini merupakan keadaan yang timbul dari sistem sosio-ekonomi sekarang ini, yakni kapitalisme. masyarakat dengan sengaja dimiskinkan oleh sistem ini, sebab bila tak ada orang miskin, maka kapitalisme tidak akan bertahan. lagipula, tak akan pernah terjadi kondisi dimana semua orang menjadi kaya dan tak ada orang miskin didalam sistem kapitalisme, sebab kapitalisme itu sendiri dapat berjalan oleh karena adanya tenaga kerja para kaum tertindas.

Oleh karenanya, kita sebagai kaum terpelajar hendaklah melakukan emansipasi kepada masyarakat. Mendorong masyarakat untuk menyadari ketertindasannya dan memperkenalkan mereka dengan pergerakan sosial. Sebab, untuk meruntuhkan kapitalisme adalah se-simple dengan membuat para pekerja untuk berhenti melakukan pekerjaannya. Sebab, ketika para pekerja mogok, maka tak akan ada perusahaan yang mendapatkan keuntungan dan segera kelumpuhan total. Meskipun hal ini akan sangat sukar untuk dilaksanakan sebab aparatur represif negara akan segera melakukan apa saja untuk memaksa kembali bekerja. Namun pada akhirnya, pada rakyatlah kekuasaan berada. Tak ada pembebas yang lebih membebaskan selain rakyat itu sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s