“Dunia ji, sementara ji”

Bila dilihat sekilas, banyak kita jumpai kalimat-kalimat berbau kepasrahan yang serupa dengan kalimat pada judul tulisan ini. Seperti “sudah takdirnya”, “Memang sudah masanya” dan lain sebagainya. Faktanya, banyak dari masyarakat di Indonesia, dan Makassar pada khususnya yang berakhir seperti ini – menjadi apatis atas permasalahan/ ketertindasannya. Permasalahannya adalah, bila berbicara tentang partisipasi politik masyarakat, pandangan pesimistik seperti diatas akan sangat berkonsekuensi bagi hancurnya keadaan sosial didalam suatu negara, seperti kekuasaan para elit yang menggunakan jabatannya/ kekuasaannya untuk sekedar pemenuhan hasrat pribadi yang disebabkan ketidakpedulian masyarakat terhadap praktik politik.

Kepercayaan-kepercayaan hingga teori yang mewajarkan kondisi/ ketertindasan yang dialami manusia pada dasarnya adalah bentukan dari penguasa agar masyarakat tidak melakukan perlawanan atas kekuasaan sang penguasa. Seperti mempopulerkan seseorang di televisi dan melabelinya sebagai tokoh agama, lantas kemudian orang yang dilabeli tokoh agama ini disuruh oleh penguasa untuk berkhotbah tentang berpasrah diri (dengan kutipan potongan ayat sebagai pembenaran). Dan juga bagaimana sekolah kemudian mengajarkan kita tentang etika-etika yang pada akhirnya membuat kita membudayakan kepatuhan dan ketertindasan. Ketakutan penguasa akan kesadaran politik masyarakat berangkat dari asumsi bahwa bila sebagian besar masyarakat sudah sadar akan ketertindasannya dan keluar dari zona pesimis, perubahan sosial sekaliber revolusi pasti dapat terjadi. 

Tidak ada maksud penulis untuk menyalahi agama dengan menyindir mereka yang berlindung dibalik jargon-jargon “takdir”. Titik tekan penulis dalam menyindir mereka adalah guna membuka mata orang-orang ini untuk menyadari bahwa agama pada dasarnya juga mewajibkan manusia untuk menegakkan kebenaran didalam masyarakat, dan adalah sebuah dosa besar ketika tidak menindaki suatu masalah yang telah diketahui. Terlalu cepat berpasrah diri terlalu cepat sebelum melakukan perjuangan total adalah kepicikan, tuhan pasti tahu ini. Pada akhirnya, berpasrah diri memang sudah menjadi penyakit mematikan yang terus menular didalam masyarakat tanpa pengobatan yang signifikan. Akankah penularannya semakin masif tanpa pengobatan yang serius? Kembali kepada kita semua. Tuhan tidak akan mengubah nasib kaumnya apabila mereka tidak berusaha terlebih dahulu. 🙂

(Untuk status salah satu kawan di Facebook)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s