Marc Becker On Academic freedom

image

Pada dasarnya, kebebasan akademis adalah jiwa dari universitas. Semua orang berhak menyampaikan gagasannya tanpa batasan dalam rangka menghidupkan suasana akademis.

Berikut kutipan wawancara mengenai kebebasan akademis dengan Marc Becker, seorang profesor/ dosen dalam studi Amerika Latin di Truman State University:

Pernahkah anda merasa ditekan (oleh administrasi kampus atau yang lainnya) untuk menurunkan aktivitas politik anda dalam rangka menjaga keamanan pekerjaan anda sebagai profesor?

-Kadang kolega saya menghimbau saya untuk berhati-hati, tapi saya tidak pernah merasa mendapat tekanan dari West McClain terhadap apa yang saya lakukan atau katakan baik didalam maupun diluar kelas.

bagaimana cara anda menghadapi mahasiswa konservatif didalam kelas?

-Saya menghadapi seluruh mahasiswa dengan jalan yang sama, bahkan dengan seorang mahasiswa yang moderat, libertarian, anarkis, dan yang lainnya. Universitas adalah ruang terbuka untuk dialog dan bertukar ide. Semua orang bebas untuk berbagi ide mereka dan saya mencoba untuk mendorong pertukaran ide yang terbuka dalam lingkungan yang saling menghargai dan bersifat dewasa/ mature.

Seberapa sehatkah menurut anda keadaan rata-rata dari kebebasan akademik di negara ini (amerika)?

-Kita hidup dinegara yang paling tidak demokratis di dunia dalam konteks aksebilitas masyarakat didalam sistem politik dan pemahaman yang baik terhadap politik. Kebebasan akademis ini layaknya otot yang, jika kita tidak menggunakannya, maka akan mulai melemah. Kita butuh lebih banyak orang-orang yang mau berbicara melawan ketidakadilan sosial di dunia. Kebebasan akademis akan selalu aman selama kita menjaga hak ekspresi politik. Horowitz ingin mengintimidasi orang-orang seperti saya yang melawan imperialisme dan kebijakan ekonomi neoliberal dan memaksa untuk diam. Namun jika kita diam, maka kita akan kehilangan kebebasan akademis kita.

Advertisements

“Dunia ji, sementara ji”

Bila dilihat sekilas, banyak kita jumpai kalimat-kalimat berbau kepasrahan yang serupa dengan kalimat pada judul tulisan ini. Seperti “sudah takdirnya”, “Memang sudah masanya” dan lain sebagainya. Faktanya, banyak dari masyarakat di Indonesia, dan Makassar pada khususnya yang berakhir seperti ini – menjadi apatis atas permasalahan/ ketertindasannya. Permasalahannya adalah, bila berbicara tentang partisipasi politik masyarakat, pandangan pesimistik seperti diatas akan sangat berkonsekuensi bagi hancurnya keadaan sosial didalam suatu negara, seperti kekuasaan para elit yang menggunakan jabatannya/ kekuasaannya untuk sekedar pemenuhan hasrat pribadi yang disebabkan ketidakpedulian masyarakat terhadap praktik politik.

Kepercayaan-kepercayaan hingga teori yang mewajarkan kondisi/ ketertindasan yang dialami manusia pada dasarnya adalah bentukan dari penguasa agar masyarakat tidak melakukan perlawanan atas kekuasaan sang penguasa. Seperti mempopulerkan seseorang di televisi dan melabelinya sebagai tokoh agama, lantas kemudian orang yang dilabeli tokoh agama ini disuruh oleh penguasa untuk berkhotbah tentang berpasrah diri (dengan kutipan potongan ayat sebagai pembenaran). Dan juga bagaimana sekolah kemudian mengajarkan kita tentang etika-etika yang pada akhirnya membuat kita membudayakan kepatuhan dan ketertindasan. Ketakutan penguasa akan kesadaran politik masyarakat berangkat dari asumsi bahwa bila sebagian besar masyarakat sudah sadar akan ketertindasannya dan keluar dari zona pesimis, perubahan sosial sekaliber revolusi pasti dapat terjadi. 

Tidak ada maksud penulis untuk menyalahi agama dengan menyindir mereka yang berlindung dibalik jargon-jargon “takdir”. Titik tekan penulis dalam menyindir mereka adalah guna membuka mata orang-orang ini untuk menyadari bahwa agama pada dasarnya juga mewajibkan manusia untuk menegakkan kebenaran didalam masyarakat, dan adalah sebuah dosa besar ketika tidak menindaki suatu masalah yang telah diketahui. Terlalu cepat berpasrah diri terlalu cepat sebelum melakukan perjuangan total adalah kepicikan, tuhan pasti tahu ini. Pada akhirnya, berpasrah diri memang sudah menjadi penyakit mematikan yang terus menular didalam masyarakat tanpa pengobatan yang signifikan. Akankah penularannya semakin masif tanpa pengobatan yang serius? Kembali kepada kita semua. Tuhan tidak akan mengubah nasib kaumnya apabila mereka tidak berusaha terlebih dahulu. 🙂

(Untuk status salah satu kawan di Facebook)