Tentang Emansipasi

     Di Indonesia, khususnya pasca 1965, kegiatan atau perjuangan emansipasi tidak pernah menjadi emansipasi yang sebenarnya. Kegiatan emansipasi setelah tahun tersebut pada dasarnya memang tidak selesai dalam ranah awalnya – kritik. Kritik adalah membongkar sesuatu dan mencari keburukannya kemudian merekonstruksinya menjadi lebih baik. Membongkar disini artinya meragukan segala bangunan dari suatu realitas, termasuk asumsi dasar yang menjadi landasan bangunan tersebut. Kritik yang umum pada saat itu berangkat dari landasan humanisme-universal, aliran filsafat yang memaklumi keterbatasan manusia, dan oleh karenanya membiarkan setiap orang dengan keunikannya sendiri. dengan kata lain, membiarkan realitas berjalan mengikuti arusnya. Alhasil, tidak ada kritik atas sistem yang benar-benar mencapai dasarnya, sebab asumsi dasar dari peng-kritik itu sendiri adalah manusia tercipta serba kekurangan dan memiliki keunikannya masing-masing. Jadi tak perlu dikritik soal model sosial dan ekonominya, melainkan yang harus dikritik adalah sistem yang menindas, seperti totalitarianisme. 

Para markshe’s dewasa ini juga adalah bagian dari peng-kritik diatas. Berangkat dari kerangka berpikir humanisme universal. Meskipun dekat dengan tulisan markshe’s, namun sering dari mereka membaca realitas dengan menggunakan sains moral- retorika moralis. Akhirnya, ketika realitas tidak sesuai dengan narasi moralnya, maka mereka yang mangaku markshe’s ini akhirnya semakin jauh dari kontradiksi yang dimiliki sistem dan akhirnya memaklumi keberagaman manusia. Ia melupakan pijakan awal markshe’s untuk membaca realitas, yakni metodenya, ranah epistemologinya. Ia mungkin melupakan bahwa retoris-moralis adalah bumbu pelengkap ketika sudah tiba di ranah aksiologis. Setelah merasa selesai di ranah ontologis (Sudah menghafal beberapa bait kutipan dari mark) mereka secara tidak sadar melompat ke ranah aksiologis, dan menganggap instrumen di ranah aksiologis adalah untuk penggunaan epistemologis. Dengan lantang ia meneriakkan beberapa kutipan dari buku markshe’s yang pernah ia baca (alienasi, penindasan atas kelas tertindas, dsb) tanpa pernah betul-betul menggunakan materialisme dialektis-materialisme historis dalam membaca realitas.

Sampai disini, jelaslah bahwa perlu diperjelas bagaimana seharusnya filsafat markshe’s dipergunakan untuk kemudian menjadi alat emansipasi masyarakat. Dengan metode markshe’s kita dapat membuka tirai-tirai yang dibaliknya bersembunyi kontradiksi didalam masyarkat. Namun, metode markshe’s ini tidaklah sebuah manual dalam menganalisis realitas. Perlu juga kiranya agar metode ini disadari perkembangannya agar tidak bercampur dengan metode lain yang sejatinya bertentangan dengan metode markshe’s seperti idealisme-borjuis. Manusia pada dasarnya bisa hidup akibat adanya alam. Dengan alam, maka manusia dapat melakukan negasi, dan kemudian negasi atas negasi-sublasi. Hal ini berjalan sesuai dengan konsep dialektika. Berawal dari pemenuhan kebutuhan biologis manusia yakni mengisi perut dengan makanan, membuat tombak untuk mencari makanan, dan sebagainya merupakan proses sebab akibat yang mengakibatkan hal lain yang lebih besar menjadi tercipta. Sejarah pun tercipta dari hal-hal praxis tersebut. Alam dan manusia merupakan satu kesatuan dalam kehidupan. Tak ada yang terpisah.