Populasi Bebal Indonesia

14 Maret 2015

   Mungkin, terlalu kasar judul yang digunakan dalam tulisan ini. Namun, bila harus jujur, memang seperti inilah kenyataan para “populasi” di Indonesia ini. Mereka tidak lebih dari angka-angka jumlah manusia yang tidak memiliki kesadaran akan apa-apa. Populasi yang menganggap dirinya warga yang memiliki hak dan kewajiban. Menurut KBBI, populasi adalah 1 seluruh jumlah orang atau penduduk di suatu daerah; 2 jumlah orang atau pribadi yg mempunyai ciri-ciri yg sama; jumlah penghuni, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya pd suatu satuan ruang tertentu; 4 sekelompok orang, benda, atau hal yg menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yg memenuhi syarat tertentu yg berkaitan dng masalah penelitian.

Populasi Bebal Indonesia

    Sejatinya, warga negara adalah manusia-manusia yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sbg seorang warga dari negara itu. Ya, kewajiban dan hak penuh sebagai warga negara adalah hal yang sangat substansial bagi para manusia yang bernaung didalam suatu negara. Dan, perlu juga bagi kita untuk mengetahui hal-hal substansial mengenai manusia dan negara. Sebab, tanpa menginsyafi hal-hal diatas, maka kebahagiaan kita sama saja seperti kucing gemuk di dalam kandang. Ironisnya, populasi Indonesia hari ini ternyata bisa dibilang tidak memiliki kesadaran akan hal-hal diatas. Perhatikan saja bagaimana respon super negatif masyarakat terhadap seorang putri Indonesia yang diberitakan menggunakan atribut komunis Vietnam (karena pada saat itu ia memang sedang berada di Vietnam). Padahal, bila dikaji secara mendalam, ternyata mereka yang merespon negatif sang putri Indonesia yang cantik ini tidak mengetahui secara mendalam tentang apa itu ideologi komunis sesungguhnya. Jangankan ideologi komunis, esensi manusia dan negara saja mereka belum mengetahuinya. Hanya dengan bermodalkan simbol-simbol miskin makna, populasi ini dikonstruk sedemikian rupa untuk menilai sesuatu. Berita tv di pagi hari, berita di halaman facebook yang tidak jelas sumber dan validitasnya, dan berbagai sumber pemberitaan lainnya, dengan senyuman lebar berhasil meraup keuntungan atas populasi bebal Indonesia.

Adakah Solusi?

    Penulis berpendapat bahwa hal yang paling urgen atas masalah ini adalah kesadaran masyarakat tentang hal-hal yang paling esensial mengenai warga negara. Kesadaran akan manusia, negara, hak dan kewajiban, politik, dan berbagai kesadaran lain. Ya, penulis percaya bahwa akar masalah dari semua ini adalah soal kesadaran. Terlebih, demokrasi tak akan mungkin tercapai arakat yang tidak memiliki kesadaran akan demokrasi itu sendiri. Ambillah contoh bagaimana media mainstream dapat membentuk opini publik tanpa ada kritik ilmiah dari audiens. Minimnya pengetahuan membawa populasi ini ke dalam degradasi kesadaran, sebuah proses dehumanisasi. Otak mereka diisi dengan pengetahuan-pengetahuan dangkal namun menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari, dan pengetahuan yang substansial dan komprehensif ditinggalkan (dan memang generasi hari ini sangat jarang yang ingin mempelajari pengetahuan yang terlalu dalam). Akhirnya, masyarakat terjebak dalam ilusi simbol-simbol yang mereka sangka adalah realitas, sementara makna yang asli dari simbol tidak mereka pedulikan. Disinilah saatnya mengubah populasi bebal Indonesia menjadi warga kritis Indonesia

    Pada tahap awal penyadaran, penulis mempercayakan tanggung jawab penyadaran kepada para akademisi yang memang sudah seharusnya menjadi patron dalam mengubah kondisi masyarakat. Namun, patutu dicatat disini bahwa kesalahan yang biasanya terjadi adalah bahasa yang digunakan oleh akademisi terlalu ilmiah sehingga apa yang ingin disampaikan tidak dimengerti oleh masyarakat. Jadi perlu disadari bagi akademisi untuk menyesuaikan cara penyampaian informasi dengan audiens. Kritik atas pemberitaan media sudah seharusnya dilakukan pada tahap awal agar masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi berita media mainstream. Ini adalah tahap distorsi bagi media mainstream (namun, teknis pelaksanaannya , mencakup media untuk kritik, masih ditelusuri). Setelah kritik atas media telah masif dilakukan oleh akademisi sampai dampaknya mulai terasa, maka penilaian objektif perlu dilakukan oleh akademisi. Misalnya menilai bagaimana respon media dalam menanggapi distrorsi tersebut. Apakah kedepannya media akan menyebarkan berita yang berisi penilaian objektif akademisi, atau tidak, semua harus diberikan antisipasi. Misalnya media tetap akan bertahan dengan ppemberitaannya, maka perlu kiranya para akademisi membentuk media alternatif yang bisa disebarluaskan didalam masyarakat.

    Selanjutnya adalah bagaimana cara membuat masyarakat yang sadar bisa mempengaruhi masyarakat lainnya. Jadi pada tahap ini, tanggung jawab akademisi secara bertahap berpindah kepada masyarakat yang sadar. Namun, pengawasan menjadi tanggung jawab yang paling urgen bagi para akademisi agar proses penyadaran yang dilakukan oleh masyarakat tetap berjalan hingga masuk pada lorong-lorong jalanan.

    Meskipun terkesan utopis, namun strategi dalam tulisan ini penulis ciptakan sebagai suatu kontribusi bagi kesadaran masyarakat Indonesia. Penulis masih akan mengembangkan permasalahan ini sampai menemukan formula yang sesuai, mengingat fokus pembelejaran penulis memang bergelut di tataran pendidikan dan penyedaran. Akhir kata, penulis sangat terbuka atas kritik-kritik yang konstruktif, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Wassalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s