Pendahuluan Hardt & Negri, Empire

image

      Semenjak kolonialisme terhapuskan diatas dunia, dan babak baru dunia, yaitu globalisasi menjadi sistem baru yang dijalankan sampai hari ini, kita diperhadapkan dengan permasalahan yang baru pula. Sistem kerajaan telah kembali berdiri, namun bukan sistem kerajaan seperti kerajaan Roma, Arab dan lain sebagainya seperti di masa lalu, namun sebuah sistem kerjaan baru, dimana tatanan global berkuasa, yang rajanya adalah gabungan dari berbagai negara yang bergabung menjadi satu dalam sebuah perserikatan dunia. Dimana arus produksi dan pertukaran kapitalis menjadi penguasa, dimana kekuatan politik negara-kebangsaan semakin menurun/ tidak memiliki kontrol penuh akan perekonomian, digantikan dengan kekuatan perekonomian global, dimana batas-batas teritorial perekonomian di dunia ini semakin hilang. 

            Banyak yang berpendapat bahwa globalisasi produksi dan
pertukaran kapitalis berarti relasi ekonomi menjadi lebih otonom/ terbebas dari
kontrol politik, dan konsekuensinya adalah kedaulatan politik mengalami
penurunan. Disatu sisi, sebagian orang merayakan era baru ini dimana ekonomi
kapitalis terbebas dari distorsi dan pembatasan yang diciptakan kekuatan
politik, disatu sisi sebagian orang menyayangkan ini karena menutup jalur
kelembagaan yang dimana dengan melaluinya, para buruh dan masyarakat dapat
mempengaruhi atau menyaingi logika dingin keuntungan kapitalis. Adalah benar
bahwa, sejalan dengan berjalannya proses globalisasi, kedaulatan negara
kebangsaan pun secara progresif menurun. Faktor utama dari produksi dan
pertukaran – uang, teknologi, orang, dan barang dagangan – bergerak seiring semakin
meningkatnya kemudahan melintasi batas negara; maka kekuasaan negara kebangsaan
untuk mengatur arus dan memaksakan kewenangannya atas perekonomian semakin
menurun dan menurun. Negara yang paling dominan pun tidak dapat lagi menjadi
otoritas tertinggi dan berdaulat, baik di dalam maupun diluar negaranya
sendiri. Meskipun kedaulatan negara-kebangsaan
menurun, namun bukan berarti kedaulatan itu sendiri menurun.
Seluruh transformasi kontemporer, kontrol
politik, fungsi negara, dan mekanisme regulasi telah berlanjut dalam mengatur
dunia perekonomian dan produksi dan pertukaran sosial. Hipotesis dasar kami adalah bahwa kedaulatan telah berubah menjadi
bentuk baru, yang terdiri dari serangkaian organisme nasional dan supranasional
yang berserikat dibawah logika peraturan tunggal. Bentuk global baru dari
kedaulatan ini yang kita sebut sebagai Empire (kerajaan).

           Penolakan terhadap
kedaulatan negara-bangsa dan semakin tidak mampunya mereka untuk melakukan
regulasi pertukaran ekonomi dan kultural adalah sebagai fakta bahwa satu dari
gejala utama akan kedatangan Empire. Kedaulatan negara-bangsa adalah landasan
utama dari imperialisme yang dikonstruk oleh kekuasaan Eropa dalam era modern.
“Empire” berbeda dengan imperialisme. Berbeda dengan imperialisme, Empire tidak
memiliki pusat teritorial and tidak bergantung pada batasan yang tetap. Harus
dipertegas disini bahwa digunakannya kata “Empire”/ kerajaan tidak untuk sebagai
metafora, yang membutuhkan penjelasan tentang keterkaitan antara tatanan global
hari ini dengan kerajaan Roma, China, Amerika, dan sebagainya, tapi lebih
kepada konsep, yang digunakan untuk pendekatan teoritis. Konsep empire
dicirikan secara fundamental dengan kurangnya batasan: aturan empire tidak
memiliki batasan. Pertama-tama dan yang paling utama, konsep Empire merupakan
rezim yang dengan efektif meliputi keseluruhan ruang, atau yang mengatur
seluruh dunia berperadaban. Tak ada batas teritorial yang membatasi
kekuasaannya. Yang kedua, konsep Empire menghadirkan dirinya tidak sebagai
rezim bersejarah yang berasal dari penaklukan, tapi lebih sebagai tatanan yang
dengan efektif menghentikan sejarah dan dengan demikian memperbaiki negara yang
sudah ada yang berusaha menjadi kekal. Dari perspektif Empire, ini adalah jalan
dimana berbagai hal akan selalu terjadi dan jalan yang mereka selalu maksudkan.
Dengan kata lain, Empire menghadirkan aturannya tidak sebagai momen sementara
dalam pergerakan sejarah, tapi sebagai rezim tanpa batasan sementara dan dalam
artian ini diluar dari sejarah atau berada pada akhir sejarah. Ketiga, aturan
dari empire mengoperasikan seluruh tatanan sosial yang terdaftar, meluas turun
sampai kedalaman dunia sosial.

            Tugas politis kita, kita akan memperbincangkan, tidak
hanya dengan melawan proses ini tapi untuk mengatur ulang dan mengarahkan ulang
menuju akhir yang baru. Kekuatan kreatif dari sejumlah besar yang menopang
Empire juga mampu membangun secara otonom sebuah konter-Empire, penyusunan
politik alternatif dari arus dan pertukaran global. Perjuangan untuk menyaingi
dan menumbangkan Empire, dan juga untuk membangun alternatif nyata, yang akan
mengambil posisi pada medan imperial itu sendiri – tentunya, demikianlah
perjuangan baru telah mulai muncul. Melalui perjuangan ini dan dengan banyak
bentuk perjuangan lain yang serupa, orang banyak akan membutuhkan suatu
penciptaan demokratik baru dan kekuatan konstituen baru yang nanti akan membawa
kita bergerak melampaui Empire.

Populasi Bebal Indonesia

14 Maret 2015

   Mungkin, terlalu kasar judul yang digunakan dalam tulisan ini. Namun, bila harus jujur, memang seperti inilah kenyataan para “populasi” di Indonesia ini. Mereka tidak lebih dari angka-angka jumlah manusia yang tidak memiliki kesadaran akan apa-apa. Populasi yang menganggap dirinya warga yang memiliki hak dan kewajiban. Menurut KBBI, populasi adalah 1 seluruh jumlah orang atau penduduk di suatu daerah; 2 jumlah orang atau pribadi yg mempunyai ciri-ciri yg sama; jumlah penghuni, baik manusia maupun makhluk hidup lainnya pd suatu satuan ruang tertentu; 4 sekelompok orang, benda, atau hal yg menjadi sumber pengambilan sampel; suatu kumpulan yg memenuhi syarat tertentu yg berkaitan dng masalah penelitian.

Populasi Bebal Indonesia

    Sejatinya, warga negara adalah manusia-manusia yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sbg seorang warga dari negara itu. Ya, kewajiban dan hak penuh sebagai warga negara adalah hal yang sangat substansial bagi para manusia yang bernaung didalam suatu negara. Dan, perlu juga bagi kita untuk mengetahui hal-hal substansial mengenai manusia dan negara. Sebab, tanpa menginsyafi hal-hal diatas, maka kebahagiaan kita sama saja seperti kucing gemuk di dalam kandang. Ironisnya, populasi Indonesia hari ini ternyata bisa dibilang tidak memiliki kesadaran akan hal-hal diatas. Perhatikan saja bagaimana respon super negatif masyarakat terhadap seorang putri Indonesia yang diberitakan menggunakan atribut komunis Vietnam (karena pada saat itu ia memang sedang berada di Vietnam). Padahal, bila dikaji secara mendalam, ternyata mereka yang merespon negatif sang putri Indonesia yang cantik ini tidak mengetahui secara mendalam tentang apa itu ideologi komunis sesungguhnya. Jangankan ideologi komunis, esensi manusia dan negara saja mereka belum mengetahuinya. Hanya dengan bermodalkan simbol-simbol miskin makna, populasi ini dikonstruk sedemikian rupa untuk menilai sesuatu. Berita tv di pagi hari, berita di halaman facebook yang tidak jelas sumber dan validitasnya, dan berbagai sumber pemberitaan lainnya, dengan senyuman lebar berhasil meraup keuntungan atas populasi bebal Indonesia.

Adakah Solusi?

    Penulis berpendapat bahwa hal yang paling urgen atas masalah ini adalah kesadaran masyarakat tentang hal-hal yang paling esensial mengenai warga negara. Kesadaran akan manusia, negara, hak dan kewajiban, politik, dan berbagai kesadaran lain. Ya, penulis percaya bahwa akar masalah dari semua ini adalah soal kesadaran. Terlebih, demokrasi tak akan mungkin tercapai arakat yang tidak memiliki kesadaran akan demokrasi itu sendiri. Ambillah contoh bagaimana media mainstream dapat membentuk opini publik tanpa ada kritik ilmiah dari audiens. Minimnya pengetahuan membawa populasi ini ke dalam degradasi kesadaran, sebuah proses dehumanisasi. Otak mereka diisi dengan pengetahuan-pengetahuan dangkal namun menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari, dan pengetahuan yang substansial dan komprehensif ditinggalkan (dan memang generasi hari ini sangat jarang yang ingin mempelajari pengetahuan yang terlalu dalam). Akhirnya, masyarakat terjebak dalam ilusi simbol-simbol yang mereka sangka adalah realitas, sementara makna yang asli dari simbol tidak mereka pedulikan. Disinilah saatnya mengubah populasi bebal Indonesia menjadi warga kritis Indonesia

    Pada tahap awal penyadaran, penulis mempercayakan tanggung jawab penyadaran kepada para akademisi yang memang sudah seharusnya menjadi patron dalam mengubah kondisi masyarakat. Namun, patutu dicatat disini bahwa kesalahan yang biasanya terjadi adalah bahasa yang digunakan oleh akademisi terlalu ilmiah sehingga apa yang ingin disampaikan tidak dimengerti oleh masyarakat. Jadi perlu disadari bagi akademisi untuk menyesuaikan cara penyampaian informasi dengan audiens. Kritik atas pemberitaan media sudah seharusnya dilakukan pada tahap awal agar masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi berita media mainstream. Ini adalah tahap distorsi bagi media mainstream (namun, teknis pelaksanaannya , mencakup media untuk kritik, masih ditelusuri). Setelah kritik atas media telah masif dilakukan oleh akademisi sampai dampaknya mulai terasa, maka penilaian objektif perlu dilakukan oleh akademisi. Misalnya menilai bagaimana respon media dalam menanggapi distrorsi tersebut. Apakah kedepannya media akan menyebarkan berita yang berisi penilaian objektif akademisi, atau tidak, semua harus diberikan antisipasi. Misalnya media tetap akan bertahan dengan ppemberitaannya, maka perlu kiranya para akademisi membentuk media alternatif yang bisa disebarluaskan didalam masyarakat.

    Selanjutnya adalah bagaimana cara membuat masyarakat yang sadar bisa mempengaruhi masyarakat lainnya. Jadi pada tahap ini, tanggung jawab akademisi secara bertahap berpindah kepada masyarakat yang sadar. Namun, pengawasan menjadi tanggung jawab yang paling urgen bagi para akademisi agar proses penyadaran yang dilakukan oleh masyarakat tetap berjalan hingga masuk pada lorong-lorong jalanan.

    Meskipun terkesan utopis, namun strategi dalam tulisan ini penulis ciptakan sebagai suatu kontribusi bagi kesadaran masyarakat Indonesia. Penulis masih akan mengembangkan permasalahan ini sampai menemukan formula yang sesuai, mengingat fokus pembelejaran penulis memang bergelut di tataran pendidikan dan penyedaran. Akhir kata, penulis sangat terbuka atas kritik-kritik yang konstruktif, kurang dan lebihnya mohon dimaafkan. Wassalam.

SYRIZA: The Dawn

   Hari Kamis, 16 Juni 2015 lalu, parlemen Yunani yang diisi oleh sebagian besar partai kiri-radikal, SYRIZA – memutuskan untuk meloloskan proposal yang diajukan Eurogroup untuk mengatasi krisis ekonomi mereka. Dengan 229 anggota parlemen menyetujui serta 64 dan 8 suara lainnya menyatakan menolak serta abstain, dengan ini perjuangan perlawanan Yunani terhadap Neoliberalisme berakhir sudah. Yunani dan Partai SYRIZA akhirnya bertekuk lutut kepada Agenda neoliberal yang dieksekusi oleh TROIKA (IMF, BCE, dan UE). Sampai disini, apa yang salah dari perjuangan SYRIZA dalam pertarungannya melawan neoliberal?

    Beberapa dari kalangan akademisi berpendapat bahwa kekalahan yang ditelan oleh Yunani adalah akibat dari kesalahan dalam menerapkan strategi, dimana saat itu Yanis Varoufakis, menteri keunganan Yunani menempuh jalur negosiasi, jalur yang ditempuh dengan proses dialog rasional dan intelektual mengenai paket dana talangan. Namun, Troika tidak akan begitu saja membiarkan Yunani untuk menang dengan menempuh jalur tersebut. Sebab, ini adalah persoalan kepentingan, dan disatu sisi, TROIKA memiliki kekuatan yang super besar. Terbukti, dengan ancaman finansial oleh Troika, nyali parlemen Yunani menjadi ciut dan akhirnya menerima proposal dari Troika.

    Selanjutnya, terdapat argumen yang berbeda dari beberapa akademisi lainnya mengenai penyebab kekelahan Yunani. Mereka mengatakan bahwa kekelahan Yunani ini adalah akibat dari faktor ideologis yang berada dibalik pemikiran sebagian besar anggota dari Partai SYRIZA yang memegang tampuk kekuasaan di Yunani.

Morfogenesis Archer

  Sebelum menyimak hubungan dialektis antara agen dan struktur menurut Margaret S. Archer, perlu kiranya kita terlebih dahulu mendefinisikan agen dan struktur. Menurut Anthony Giddens, struktur adalah kumpulan aturan dan sumber yang diorganisasi secara berulang-ulang, sedangkan agen adalah individu atau kelompok yang bersifat terintegrasi dengan struktur, namun dapat juga bersifat otonom. Telah banyak teori yang bermunculan untuk menjelaskan peran agen dan struktur dalam kehidupan sosial/ masyarakat. Namun, polemik yang terjadi selama ini adalah teori-teori tersebut terlalu fokus terhadap peran aktor ataupun peran struktur. Lalu muncullah pemikir-pemikir seperti Archer yang berpendapat bahwa tidak ada dualisme antara struktur dan agen, melainkan kedua hal tersebut saling mempengaruhi dalam siklus dialektika.

   Menurut Archer, untuk menghindari dualisme antara agen dan struktur bukan dengan menyatukannya sebagaimana yang dilakukan oleh Anthony Giddens, namun dengan meneliti bagaimana struktur dan agensi berhubungan satu sama lain seiring waktu. Berikut penjelasan mengenai Hubungan Dialektis antara struktur dan agensi:

1. Pengondisian struktural (T1): Hal ini mengacu pada konteks tempat tindakan terjadi sebagai akibat tindakan sebelumnya dengan melahirkan kondisi tertentu (seperti: perubahan iklim, globalisasi, struktur lembaga politik). Kondisi ini mempengaruhi kepentingan agensi misalnya pengaturan kerja, kesempatan dalam pendidikan, maupun gaya hidup. Tindakan terjadi dalam himpunan kondisi terstruktur yang ada sebelumnya.

2. Interaksi kedua (T2 – T3): Setelah agen-agen dipengaruhi oleh kondisi yang terstruktur pada T1, mereka mulai bereaksi atas kondisi tersebut,karena mereka tetap memiliki dependensi untuk mempengaruhi peristiwa. Pada tahap ini individu dan kelompok saling berintegrasi, melaksanakan kemampuan, keahlian, dan kepribadian masing-masing. Agen akan berupaya memajukan kepentingannya masing-masing dan memengaruhi hasil. DI tahap ini bisa terjadi konflik, megosiasi, atau konsensus antar agen.

3. Elaborasi Struktur (T4): Sebagai akibat dari T2 dan T3, pada taraf tertentu, agen berhasil mengubah kondisi agar sesuai dengan kepentingannya, sementara yang lain mungkin gagal. Proses terbentuknya struktur baru sebagai hasil modifikasi sebagai akibat tindakan T2-T3 oleh Archer inilah yang ia sebut dengan Morfogenesis. T4 menjadi awal (T1) bagi perubahan selanjutnya.

Kita, Kerja, dan Kapital

           Hai kakak fungsionaris lembaga kemahasiswaan yang cakep dan cantik. Sini, biar kuberitahu kau tentang sistem yang ada di masyarakat kita sekarang dalam urusan pekerjaan. Ya, kau tahu ada banyak sebab-akibat di sekitarmu, namun entah mengapa kau masih saja tidak menyadari kesalahan yang menjadi akar dari semua ini. Jadi mari kuajak kau berefleksi, lalu kapan-kapan kita beraksi. Kapan-kapan..

           Kita bekerja bukan karena keinginan kita, tetapi kita bekerja karena tidak ada cara lain untuk mendapatkan uang. Kita menjual waktu dan tenaga kepada bos kita untuk membeli segala sesuatu untuk bertahan hidup. Kita disatukan bersama dengan pekerja lainnya dan ditempatkan dalam tugas yang berbeda. Kita dispesialisasikan dalam aspek pekerjaan yang berbeda-beda dan mengulangi tugas tersebut lagi dan lagi. Waktu kita selama bekerja bukanlah benar-benar bagian dari hidup kita. Waktu tersebut adalah waktu mati yang dikontrol oleh bos dan manager kita.

Selama kita bekerja, kita membuat sesuatu yang bos kita bisa jual. Barang-barang, jasa, atau servis. Kita menyelesaikan pekerjaan bukan karena apa yang kita produksi, namun untuk mendapat gaji, dan bos kita membayar kita untuk melakukannya demi mendapatkan keuntungan.

Dan pada akhirnya, bos kita menginvestasikan ulang uang yang kita hasilkan untuknya, dan memperbesar bisnisnya. Apa yang kita dapatkan dari bekerja hanyalah uang yang cuma cukup untuk kita gunakan membayar kontrakan, makanan, pakaian, dan minuman keras – cukup untuk menjaga kita agar tetap bisa pergi bekerja. Diwaktu ketika kita tidak bekerja, kita hanya menggunakan waktu untuk pergi atau pulang bekerja, bersiap untuk bekerja, dan istirahat karena kecapean bekerja atau mabuk untuk menghilangkan stres karena bekerja.

Satu hal yang lebih parah dari bekerja adalah, tidak bekerja sama sekali. Ketika kita menganggur, kita membuang waktu kita untuk mencari pekerjaan, tanpa dibayar – menjadi pengangguran. Namun, mari berterima kasih kepada para pengangguran, sebab merekalah yang menjaga kita agar bisa tetap bekerja. Dan kerja kita adalah basis dari masyarakat hari ini. Kekuatan yang bos kita dapatkan kian bertambah setiap kali kita pergi bekerja. Hal ini adalah kekuatan dominan di setiap negara di dunia ini.

Waktu bekerja, kita dibawah kontrol para bos kita, dan juga pasar tempat mereka menjual hasil kerja kita. Hidup ini seperti pertunjukan dengan kita sebagai penontonnya dari luar, dan tak memiliki kontrol atas pertunjukan tersebut.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masyarakat kita dibangun atas kerja, yang tanpanya, akan terjadi krisis yang besar. artinya apa? para pekerjalah yang pada dasarnya memiliki posisi paling menentukan dalam kelangsungan hidup masyarakat meskipun justru merekalah yang paling sedikit memperoleh keuntungan dari sistem ini. Perubahan hanya berada di tangan para pekerja, penggerak utama perekonomian.

Enjoy your life!

(hasil terjemahan dan edit bebas dari salah satu zine komunitas di Eropa)

Periode Kiri Indo-Left 1907-1919

1907

Kongres internasional kedua sosialis

Insulinde didirikan oleh ras eurasia

1911

Sarekat Dagang Islam (SDI) didirikan

1912

Tjokroaminoto merubah SDI jadi Sarekat Islam (SI)

dibubarkannya Indische partij (IP)

1913-1914

sneevliet masuk indonesia

sneevliet bekerja di koran VSTP, de volhading

9 Mei 1914 didirikan ISDV

28 Juli 1914 dimuali PD I (berakhir 1918)

pendapatan di HB menurun (hingga 1924)

Semaun bergabung di SI cabang Surabaya

1915

ISDV beranggotakan 85 orang

penerbitan perdana het vrije woord, Oktober

Semaun bergabung dengan ISDV, dalam usia 16 tahun.

1916

Juni, Kongres SI Pertama di Surabaya

ISDV beranggotakan 134 orang

ISDV menghentikan hubungan dengan Insulinde

disetujuinya SI menjadi pergerakan nasional oleh Idenburg

1917

revolusi oktober rusia

Sama Rata Hindia Bergerak dibentuk Baars beranggotakan 120 orang

jumlah angota SI 20.000 orang

pembentukan SDAP Indonesia oleh mantan ISDV moderat

1918

berakhirnya masa perkembangan awal ISDV oleh kegagalan revolusi Belanda.

1919

Garda Merah dinyatakan telah mati

Diusirnya pembesar ISDV, termasuk Sneevliet.

Bersambung ke bab III nanti.

Sebuah Proposal Untuk Menunda Kiamat

     Hari ini, dimana persaingan didalam pasar sangat ramai dan kompetitif, dimana masyarakat terhipnotis oleh meriahnya iklan komoditi, dimana negara hanya sebagai instrumen para pengusaha, dimana titik sentral dari kehidupan adalah manusia dan kemanusiaannya, masyarakat

dalam suatu negara, termasuk kau, dituntut untuk melakukan kegiatan konsumsi secara simultan dan gradual sehingga menjadi masyarakat yang konsumeris. Apa yang sistem ini tuntut untuk kau konsumsi? tentu saja milyaran produk hasil perusahaan-perusahaan yang mencari laba. Perusahaan-perusahaan yang tidak peduli dengan dirimu, kesehatanmu, juga kondisi ekonomimu. Ia mempertontonkanmu berbagai macam iklan, ilusi-ilusi yang akhirnya kau percayai lalu akhirnya kau bisa menjadi lebih konsumtif, lebih banyak mengeluarkan uang untuk hal-hal yang sebenarnya sangat tidak perlu. Namun, ini tidak seberapa, biarkan manusia saling membunuh, sebab, ada hal lain yang lebih menjadi masalah. Perusahaan-perusahaan ini juga tidak peduli dengan keadaan lingkungan. Air, udara, tanah, semua diracuni demi komoditas yang akan memperkaya para pengusaha. Ah, melalui pemerintah, peperangan dapat dimulai untuk membuka peluang usaha baru, dan juga kerusakan lingkungan baru pastinya. Jutaan spesies hewan dan tumbuhan telah punah akibat semua ini. Semua karena manusia dan kemanusiaannya. Ini adalah kegilaan yang sesungguhnya.

     Menurut agama islam, manusia diturunkan diatas muka bumi ini sebagai khalifa, pemimpin atau pengganti yang bertanggungjawab untuk menjaga keselarasan kehidupan di bumi. Ah, zaman sudah banyak berubah. Sistem kekhalifaan di Timur sana sudah hancur lebur. Semenjak kemajuan teknologi, manusia semakin merasa hebat dan mementingkan diri sendiri. Pemerintah, pemerintah tak ada gunanya lagi, hanya sekedar alat penopang kekayaan para pengusaha. Kebebasan manusia sesungguhnya adalah malapetaka bagi lingkungan. Kediktatoran adalah hal yang paling haram didalam politik, tak boleh ada kekuasaan penuh bagi seorang manusia atas manusia lain. Bebas, kontrol penuh atas diri kita sendiri. Berbagai macam ideologi bertarung memperebutkan tahta kekuasaan, namun hanya terbatas pada persoalan manusia saja.

     Kegilaan ini masih terus berjalan, kencang, kencang, semakin kencang, tak terkendali, membawa kita dalam perjalanannya menuju kehancuran. Kita, tugas kita hanya hanya harus menunggu sampai ia masuk kedalam jurang. Namun, kita harus ikut dalam kehancurannya. Atau, kita masih memiliki alternatif lain, sebuah tugas lain yang bisa kita jalankan, yakni menghentikan kegilaan ini lalu mengarahkannya menuju satu tujuan yang lebih berarti, sebuah sistem yang ramah lingkungan, dibawah kontrol satu kekuasaan, sebuah sistem politik bagi manusia, hewan, binatang, dan komponen lainnya. Kini, waktu yang tersisa tinggal sedikit bagi kita manusia untuk mengubah haluan. Oleh karena itu, mari sadari situasi dan kondisi manusia dan lingkungannya saat ini, lalu bersama-sama kita menunda hari kiamat. Selamat menentukan! 

1:22, 7 September 2015